Terungkap bahwa serat menyumbang sekitar 66 hingga 95 persen dari total mikroplastik yang terdeteksi dalam saluran pencernaan ikan.
Artinya, pencemaran laut tidak hanya akibat sampah plastik yang terlihat di pesisir, tapi juga bersumber dari tekstil dan alat tangkap.
Fragmen plastik menjadi jenis mikroplastik kedua yang paling banyak terdeteksi pada ikan dari Fiji, Tonga, dan Tuvalu dengan persentase 20-26 persen.
Peneliti menyebutkan, mikroplastik berbentuk film ditemukan di empat negara yang diteliti meski jumlahnya paling sedikit. Tim peneliti turut mengamati pengaruh karakteristik ekologi ikan terhadap tingkat kontaminasi.
Diketahui ikan yang hidup di terumbu karang dan dasar perairan lebih mudah terpapar mikroplastik dibandingkan ikan laut lepas.
“Kami menemukan bahwa ikan yang berkaitan dengan terumbu karang dan ikan pemakan dasar yang paling mudah diakses oleh nelayan berperan sebagai reservoir polusi sintetis, khususnya di Fiji, di mana hampir tiga perempat individu yang disampel mengandung mikroplastik," beber Varea.
Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.Pencemaran mikroplastik di ekosistem laut merupakan masalah global yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia.
Pacific Island Countries and Territories (PICTs) atau negara di kawasan Pasifik sangat rentan terhadap pencemaran mikroplastik akibat urbanisasi yang cepat serta keterbatasan sistem pengelolaan sampah dan air.
Banyak komunitas pesisir di kawasan ini bergantung pada ikan untuk pemenuhan gizi, mata pencaharian, dan budaya sehingga mereka berpotensi terdampak konsumsi pangan yang tercemar.
Sejauh ini penelitian mengenai kontaminasi mikroplastik pada ikan yang dikonsumsi di PICTs masih sangat terbatas.
Baca juga:
"Memahami bagaimana sifat ekologi memengaruhi kemungkinan ikan menelan mikroplastik dapat membantu pemerintah mengidentifikasi ekosistem dan komunitas manusia yang paling berisiko," ucap peneliti lainnya, Jasha Dehm.
Dehm menyoroti, infrastruktur pengelolaan limbah yang tidak memadai, ditambah kurangnya fasilitas pengolahan air memungkinkan puing-puing plastik masuk ke ekosistem laut dengan lebih mudah lalu terdegradasi menjadi mikroplastik.
Sementara itu, peneliti Amanda Ford menyatakan kondisi tersebut diperparah ketergantungan masyarakat pada sumber daya laut untuk mata pencaharian dan stabilitas ekonomi.
"Dikombinasikan dengan kesenjangan data yang besar di seluruh kawasan, hal ini menjadikan bukti berbasis lokal sangat penting seiring berjalannya negosiasi Perjanjian Plastik Global dan penerjemahannya ke dalam kebijakan nasional," jelas Ford.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya