KOMPAS.com - Sepertiga ikan di wilayah perairan kepulauan Pasifik telah tercemar mikroplastik. Menurut para peneliti, tingkat kontaminasi tertinggi ditemukan di Fiji yang diduga berkaitan dengan kepadatan penduduk, masifnya pembangunan pesisir, serta lemahnya pengelolaan sampah.
Peneliti dari University of the South Pacific, Rufino Varea mengatakan, risetnya menjadi peringatan serius bagi sistem pangan di wilayah Pasifik.
Baca juga:
“Temuan ini mendorong kita untuk menuntut Perjanjian Plastik Global yang memberlakukan batas ketat pada produksi plastik primer dan aditif beracun karena inilah satu-satunya cara yang layak untuk melindungi kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat Pasifik," ujar Varea dilansir dari Phys.org, Kamis (29/1/2026).
Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Plus One itu, tim peneliti menganalisis 878 ikan pesisir dari 138 spesies yang ditangkap komunitas nelayan di Fiji, Tonga, Tuvalu, serta Vanuatu. Kemudian mereka menggunakan data dari Global Biodiversity Information Facility.
Hasilnya menunjukkan, sepertiga ikan atau 32,69 persen di antaranya mengandung satu partikel mikroplastik meskipun tingkat kontaminasinya berbeda-beda.
Peneliti menyatakan Fiji tercatat sebagai negara dengan tingkat kontaminasi mikroplastik tertinggi, dikutip dari SciTechDaily.
Di negara ini, mikroplastik ditemukan pada 74,46 persen ikan yang diperiksa. Sementara itu, di Tonga dan Tuvalu memperlihatkan tingkat kontaminasi menengah.
Frekuensi kejadian mikroplastik pada ikan di Tonga sebesar 41,73 persen, sedangkan di Tuvalu sebesar 37,31 persen.
Adapun Vanuatu menjadi negara dengan tingkat kontaminasi terendah. Mikroplastik hanya ditemukan pada 4,80 persen ikan yang dianalisis.
Dua spesies terpapar yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian antara lain ikan lencam cap jempol (Lethrinus harak) serta ikan kambing garis-titik (Parupeneus barberinus).
Baca juga:
Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.Terungkap bahwa serat menyumbang sekitar 66 hingga 95 persen dari total mikroplastik yang terdeteksi dalam saluran pencernaan ikan.
Artinya, pencemaran laut tidak hanya akibat sampah plastik yang terlihat di pesisir, tapi juga bersumber dari tekstil dan alat tangkap.
Fragmen plastik menjadi jenis mikroplastik kedua yang paling banyak terdeteksi pada ikan dari Fiji, Tonga, dan Tuvalu dengan persentase 20-26 persen.
Peneliti menyebutkan, mikroplastik berbentuk film ditemukan di empat negara yang diteliti meski jumlahnya paling sedikit. Tim peneliti turut mengamati pengaruh karakteristik ekologi ikan terhadap tingkat kontaminasi.
Diketahui ikan yang hidup di terumbu karang dan dasar perairan lebih mudah terpapar mikroplastik dibandingkan ikan laut lepas.
“Kami menemukan bahwa ikan yang berkaitan dengan terumbu karang dan ikan pemakan dasar yang paling mudah diakses oleh nelayan berperan sebagai reservoir polusi sintetis, khususnya di Fiji, di mana hampir tiga perempat individu yang disampel mengandung mikroplastik," beber Varea.
Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.Pencemaran mikroplastik di ekosistem laut merupakan masalah global yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia.
Pacific Island Countries and Territories (PICTs) atau negara di kawasan Pasifik sangat rentan terhadap pencemaran mikroplastik akibat urbanisasi yang cepat serta keterbatasan sistem pengelolaan sampah dan air.
Banyak komunitas pesisir di kawasan ini bergantung pada ikan untuk pemenuhan gizi, mata pencaharian, dan budaya sehingga mereka berpotensi terdampak konsumsi pangan yang tercemar.
Sejauh ini penelitian mengenai kontaminasi mikroplastik pada ikan yang dikonsumsi di PICTs masih sangat terbatas.
Baca juga:
"Memahami bagaimana sifat ekologi memengaruhi kemungkinan ikan menelan mikroplastik dapat membantu pemerintah mengidentifikasi ekosistem dan komunitas manusia yang paling berisiko," ucap peneliti lainnya, Jasha Dehm.
Dehm menyoroti, infrastruktur pengelolaan limbah yang tidak memadai, ditambah kurangnya fasilitas pengolahan air memungkinkan puing-puing plastik masuk ke ekosistem laut dengan lebih mudah lalu terdegradasi menjadi mikroplastik.
Sementara itu, peneliti Amanda Ford menyatakan kondisi tersebut diperparah ketergantungan masyarakat pada sumber daya laut untuk mata pencaharian dan stabilitas ekonomi.
"Dikombinasikan dengan kesenjangan data yang besar di seluruh kawasan, hal ini menjadikan bukti berbasis lokal sangat penting seiring berjalannya negosiasi Perjanjian Plastik Global dan penerjemahannya ke dalam kebijakan nasional," jelas Ford.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya