Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejumlah Ikan di Perairan Pasifik Tercemar Mikroplastik, Fiji Paling Tinggi

Kompas.com, 29 Januari 2026, 17:52 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sepertiga ikan di wilayah perairan kepulauan Pasifik telah tercemar mikroplastik. Menurut para peneliti, tingkat kontaminasi tertinggi ditemukan di Fiji yang diduga berkaitan dengan kepadatan penduduk, masifnya pembangunan pesisir, serta lemahnya pengelolaan sampah.

Peneliti dari University of the South Pacific, Rufino Varea mengatakan, risetnya menjadi peringatan serius bagi sistem pangan di wilayah Pasifik.

Baca juga: 

“Temuan ini mendorong kita untuk menuntut Perjanjian Plastik Global yang memberlakukan batas ketat pada produksi plastik primer dan aditif beracun karena inilah satu-satunya cara yang layak untuk melindungi kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat Pasifik," ujar Varea dilansir dari Phys.org, Kamis (29/1/2026).

Mikroplastik ditemukan dalam tubuh ikan

Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.FREEPIK/FREEPIK Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Plus One itu, tim peneliti menganalisis 878 ikan pesisir dari 138 spesies yang ditangkap komunitas nelayan di Fiji, Tonga, Tuvalu, serta Vanuatu. Kemudian mereka menggunakan data dari Global Biodiversity Information Facility.

Hasilnya menunjukkan, sepertiga ikan atau 32,69 persen di antaranya mengandung satu partikel mikroplastik meskipun tingkat kontaminasinya berbeda-beda.

Peneliti menyatakan Fiji tercatat sebagai negara dengan tingkat kontaminasi mikroplastik tertinggi, dikutip dari SciTechDaily.

Di negara ini, mikroplastik ditemukan pada 74,46 persen ikan yang diperiksa. Sementara itu, di Tonga dan Tuvalu memperlihatkan tingkat kontaminasi menengah.

Frekuensi kejadian mikroplastik pada ikan di Tonga sebesar 41,73 persen, sedangkan di Tuvalu sebesar 37,31 persen.

Adapun Vanuatu menjadi negara dengan tingkat kontaminasi terendah. Mikroplastik hanya ditemukan pada 4,80 persen ikan yang dianalisis.

Dua spesies terpapar yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian antara lain ikan lencam cap jempol (Lethrinus harak) serta ikan kambing garis-titik (Parupeneus barberinus).

Baca juga:

Mikroplastik yang paling banyak ditemukan

Ikan di terumbu karang dan dasar perairan lebih mudah terpapar mikroplastik

Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.freepik Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.

Terungkap bahwa serat menyumbang sekitar 66 hingga 95 persen dari total mikroplastik yang terdeteksi dalam saluran pencernaan ikan. 

Artinya, pencemaran laut tidak hanya akibat sampah plastik yang terlihat di pesisir, tapi juga bersumber dari tekstil dan alat tangkap.

Fragmen plastik menjadi jenis mikroplastik kedua yang paling banyak terdeteksi pada ikan dari Fiji, Tonga, dan Tuvalu dengan persentase 20-26 persen.

Peneliti menyebutkan, mikroplastik berbentuk film ditemukan di empat negara yang diteliti meski jumlahnya paling sedikit. Tim peneliti turut mengamati pengaruh karakteristik ekologi ikan terhadap tingkat kontaminasi.

Diketahui ikan yang hidup di terumbu karang dan dasar perairan lebih mudah terpapar mikroplastik dibandingkan ikan laut lepas.

“Kami menemukan bahwa ikan yang berkaitan dengan terumbu karang dan ikan pemakan dasar yang paling mudah diakses oleh nelayan berperan sebagai reservoir polusi sintetis, khususnya di Fiji, di mana hampir tiga perempat individu yang disampel mengandung mikroplastik," beber Varea.

Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.Shutterstock Riset terbaru mengungkap 32 persen ikan di perairan Pasifik mengandung mikroplastik. Fiji mencatat tingkat kontaminasi tertinggi.

Pencemaran mikroplastik di ekosistem laut merupakan masalah global yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia.

Pacific Island Countries and Territories (PICTs) atau negara di kawasan Pasifik sangat rentan terhadap pencemaran mikroplastik akibat urbanisasi yang cepat serta keterbatasan sistem pengelolaan sampah dan air.

Banyak komunitas pesisir di kawasan ini bergantung pada ikan untuk pemenuhan gizi, mata pencaharian, dan budaya sehingga mereka berpotensi terdampak konsumsi pangan yang tercemar.

Sejauh ini penelitian mengenai kontaminasi mikroplastik pada ikan yang dikonsumsi di PICTs masih sangat terbatas.

Baca juga:

"Memahami bagaimana sifat ekologi memengaruhi kemungkinan ikan menelan mikroplastik dapat membantu pemerintah mengidentifikasi ekosistem dan komunitas manusia yang paling berisiko," ucap peneliti lainnya, Jasha Dehm.

Dehm menyoroti, infrastruktur pengelolaan limbah yang tidak memadai, ditambah kurangnya fasilitas pengolahan air memungkinkan puing-puing plastik masuk ke ekosistem laut dengan lebih mudah lalu terdegradasi menjadi mikroplastik.

Sementara itu, peneliti Amanda Ford menyatakan kondisi tersebut diperparah ketergantungan masyarakat pada sumber daya laut untuk mata pencaharian dan stabilitas ekonomi.

"Dikombinasikan dengan kesenjangan data yang besar di seluruh kawasan, hal ini menjadikan bukti berbasis lokal sangat penting seiring berjalannya negosiasi Perjanjian Plastik Global dan penerjemahannya ke dalam kebijakan nasional," jelas Ford.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau