Homogenisasi hutan sangat berdampak pada daerah tropis dan subtropis, dengan peningkatan spesies pohon yang terancam punah di masa depan terkonsentrasi di wilayah-wilayah ini.
“Di sinilah banyak spesies pohon yang tumbuh lambat dengan jangkauan alami yang kecil berada. Karena terbatas pada area yang sangat terbatas, spesies-spesies ini sangat rentan dan berisiko menghilang sepenuhnya jika habitatnya dihancurkan atau diambil alih oleh spesies yang tumbuh cepat,” jelas penulis pertama studi ini, profesor muda Wen-Yong Guo dari East China Normal University, Shanghai.
Pemodelan peneliti menunjukkan spesies yang sudah beradaptasi diperkirakan akan menjadi lebih dominan di hutan dalam beberapa dekade.
Baca juga:
Hal ini membuat penghentian hilangnya spesies pohon yang tumbuh lambat menjadi sangat mendesak.
"Ketika membangun hutan baru, penekanan yang jauh lebih besar harus diberikan pada spesies pohon yang tumbuh lambat dan langka. Hal ini akan membuat hutan menjadi lebih beragam dan tangguh," simpul Svenning.
Spesies-spesies ini juga harus dipromosikan secara aktif dalam upaya konservasi dan restorasi di mana pohon tersebut seringkali dikaitkan dengan pemulihan komunitas hewan besar.
Lebih lanjut, menurut para peneliti, aktivitas manusia adalah pendorong utama perubahan komposisi hutan.
"Perubahan iklim yang disebabkan manusia, penggundulan hutan untuk infrastruktur, kehutanan intensif, penebangan, dan perdagangan global spesies pohon semuanya berperan.
Selain itu, pohon yang tumbuh cepat sering dipromosikan secara aktif karena menghasilkan kayu atau biomassa dengan cepat.
Namun, secara ekologis, pohon-pohon tersebut seringkali rapuh dan lebih rentan terhadap penyakit.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya