Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bunga Raksasa Rafflesia Arnoldii Mekar di Bengkulu, Jadi Daya Tarik Wisata

Kompas.com, 31 Januari 2026, 16:07 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Bunga raksasa nan langka Rafflesia arnoldii ditemukan mekar di kawasan Liku Sembilan, Cagar Alam Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu. 

Peristiwa langka ini langsung menarik pengunjung lintas provinsi yang melintas di jalur Bengkulu–Sumatera Selatan.

"Bunga ini hanya seminggu muncul kemudian mati. Hari ini masih mekar sempurna. Kuncup bunga ditemukan Selasa kemarin," kata pengelola bunga Rafflesia, Elvis, dilansir dari Antara, Sabtu (31/1/2026).

Baca juga:

Bunga raksasa Rafflesia arnoldii mekar di Bengkulu

Lokasi bunga mudah diakses pengunjung

Bunga Rafflesia arnoldii tersebut mekar sempurna dan berada sekitar 10 meter dari jalan lintas provinsi.

Lokasi yang mudah dijangkau membuat banyak pengendara berhenti sejenak untuk melihat langsung bunga raksasa yang hanya mekar dalam waktu singkat.

Pengunjung datang bergiliran satu per satu untuk melihat bunga tersebut. Mereka tidak perlu masuk terlalu jauh ke kawasan cagar alam seperti pada kemunculan Rafflesia di lokasi lain. Akses yang mudah menjadi alasan utama meningkatnya kunjungan.

Banyak pengendara yang melintas di jalur lintas provinsi menyempatkan diri berhenti. Tidak sedikit pula warga dari luar Bengkulu yang datang secara khusus setelah mendapatkan informasi mengenai mekarnya bunga langka ini.

Salah satu pengunjung dari Sumatera Barat, Vanny, mengaku tertarik karena lokasi bunga yang mudah diakses. Ia mengatakan kesempatan melihat Rafflesia tidak selalu datang.

"Selagi mudah, kita sempatkan melihat bunga langka ini. Tidak di setiap tempat bisa kita temui bunga khas ini," kata Vanny.

"Saya pernah melihat di tempat lain di Sumatera Barat di Kabupaten Agam, kata orang sih beda lokasi, kekhasannya beda juga, jadi rugi juga kalau tidak menyempatkan melihat bunga ini di suatu tempat begitu ya," lanjut dia.

Baca juga:

Tanda-tanda kemunculan bunga terlihat sejak Selasa

Pengunjung melihat puspa langka bunga raksasa Rafflesia arnoldii di kawasan Liku Sembilan, Cagar Alam Taba Penanjung, Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Jumat (30/1/2026).Dok. ANTARA/ Anom Prihantoro Pengunjung melihat puspa langka bunga raksasa Rafflesia arnoldii di kawasan Liku Sembilan, Cagar Alam Taba Penanjung, Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Jumat (30/1/2026).

Elvis menjelaskan, tanda-tanda kemunculan Rafflesia arnoldii mulai terlihat sejak Selasa pekan ini.

Warga pun menempatkan pagar pembatas di sekitar lokasi agar bunga tetap lestari selama periode mekar.

"Pembatas dipasang agar pengunjung tidak terlalu dekat dan tidak menyentuh bunga, supaya Rafflesia tidak rusak," tutur dia. 

Pengunjung yang datang tidak dikenakan tarif masuk. Namun, warga membuka kesempatan bagi pengunjung yang ingin memberikan sumbangan secara sukarela sebagai dukungan upaya pelestarian Rafflesia arnoldii dan habitatnya.

Sebagai informasi, Rafflesia arnoldii merupakan bunga endemik Bengkulu yang sangat langka. Bunga ini tidak dapat tumbuh di sembarang tempat. 

Tidak setiap wisatawan yang datang ke Bengkulu bisa menyaksikan bunga raksasa ini. Sebab, waktu mekarnya tidak menentu dan lokasi tumbuhnya juga sulit diprediksi. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau