Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rambut Manusia Jadi Bukti Sejarah Polusi Timbal di AS Selama 100 Tahun

Kompas.com, 3 Februari 2026, 22:25 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sampel rambut berusia 100 tahun memperlihatkan kondisi Amerika Serikat (AS) yang telah terpapar timbal berbahaya pada masa lalu. Ilmuwan dari University of Utah menganalisis sampel rambut manusia yang dikumpulkan sejak awal 1900-an.

Hasilnya menunjukkan adanya penurunan drastis kadar timbal sejak sekitar tahun 1916, seiring dengan mulai diterapkannya berbagai kebijakan pengendalian lingkungan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS atau Environmental Protection Agency (EPA).

Baca juga: 

“Melalui sampel rambut, kami dapat menunjukkan konsentrasi timbal sebelum dan sesudah diberlakukannya peraturan oleh EPA," kata ahli demografi sekaligus peneliti studi, Ken Smith dilansir dari Scitech Daily, Selasa (3/2/2026).

Polusi puluhan tahun lalu tetap melekat dalam jangka panjang

Polusi timbal puluhan tahun lalu melekat pada kehidupan sehari-hari

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), peneliti menyatakan, polusi timbal di AS pada puluhan tahun lalu melekat pada kehidupan sehari-hari warga AS.

Sumbernya, antara lain dari aktivitas industri, cat berbasis timbal, pipa air yang sudah tua, dan knalpot kendaraan.

Diketahui, timbal adalah neurotoksin kuat yang dapat menumpuk di dalam tubuh seiring berjalannya waktu dan dikaitkan dengan masalah perkembangan pada anak-anak.

Alhasil, pada tahun 1970-an, EPA mulai menghilangkan timbal dari cat, pipa ledeng, bensin, dan produk konsumen lainnya akibat efek kesehatan paparan logam ini.

Ilustrasi timbal. Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.Dok. Wikimedia Commons/Lamiot Ilustrasi timbal. Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.

"Kami memiliki sampel rambut yang berusia sekitar 100 tahun, dan pada saat peraturan belum ada kadar timbal sekitar 100 kali lebih tinggi daripada setelah peraturan tersebut diberlakukan," ucap Smith. 

Di sisi lain, studi tersebut juga mencatat beberapa peraturan tentang timbal saat ini sedang dilemahkan oleh pemerintahan Presiden AS, Donald Trump.

Hal itu dinilai sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi melindungi lingkungan.

Padahal, dengan berlakunya peraturan lingkungan di AS, kadar timbal menurun tajam diikuti oleh penurunan tajam paparan timbal pada manusia.

“Terkadang peraturan-peraturan itu tampak memberatkan dan berarti industri tidak dapat melakukan persis apa yang ingin mereka lakukan, kapan pun mereka mau atau secepat yang mereka inginkan. Namun, peraturan-peraturan itu telah memberikan dampak yang sangat sangat positif," kata profesor sekaligus penulis studi, Thure Cerling.

Baca juga: 

Metode penelitian 

Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.Dok. Freepik/Freepik Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menganalisis rambut menggunakan metode spektrometri massa.

Profesor riset Departemen Geologi & Geofisika, Diego Fernandez mengungkapkan, rambut memiliki karakteristik unik karena mampu menyerap dan menyimpan unsur-unsur kimia dari lingkungan dalam jangka panjang.

“Permukaan rambut itu istimewa. Kita dapat mengetahui bahwa beberapa unsur terkonsentrasi dan terakumulasi di permukaan, timbal adalah salah satunya. Hal itu membuatnya lebih mudah karena timbal tidak hilang seiring waktu,” beber Fernandez.

Menurutnya, spektrometri massa sangat sensitif sehingga analisis dapat dilakukan hanya dengan satu helai rambut.

Fernandez mengaku tidak dapat memastikan lokasi pasti timbal di dalam rambut, tapi kemungkinan besar logam berat itu berada di permukaan atau berasal dari darah ketika rambut tumbuh pada periode paparan tinggi.

Berbeda dengan sampel darah yang hanya menggambarkan kondisi tubuh pada satu waktu tertentu, rambut dinilai lebih mudah dikumpulkan dan disimpan serta mampu memberikan gambaran paparan lingkungan hingga beberapa dekade sebelumnya dari orang lanjut usia atau meninggal dunia.

Makin lama rambut berkontak dengan lingkungan yang terpapar, makin tinggi konsentrasi timbalnya.

Baca juga: BRIN Kembangkan Material Sel Surya Ramah Lingkungan Bebas Timbal

Ilustrasi lapisan timbal yang dicat.  Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.Dok. Wikimedia Commons/Lamiot Ilustrasi lapisan timbal yang dicat. Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.

Tim peneliti mencatat, kendati konsumsi bensin terus meningkat pada 1970-an, kadar timbal dalam rambut justru menurun tajam.

Konsentrasi yang semula mencapai sekitar 100 bagian per juta (ppm) turun menjadi sekitar 10 ppm pada 1990. Pada 2024, kadar rata-ratanya dilaporkan kurang dari satu ppm.

Guna membuktikan bahwa perubahan aturan lingkungan berdampak pada paparan timbal ke manusia, peneliti melakukan studi lanjutan dari studi sebelumnya yang didukung University of Utah dan National Institutes of Health.

Dalam studinya, para peserta diminta menyerahkan sampel rambut masa kini dan masa lalu. Beberapa di antaranya menyumbangkan rambut yang tersimpan dalam album keluarga, milik orang tua, kakek-nenek, hingga generasi sebelumnya.

Total peneliti mengumpulkan sampel dari 48 orang, menciptakan gambaran sejarah langka tentang paparan timbal di wilayah Wasatch Front, Utah daerah yang dulunya sangat terdampak polusi industri.

Sepanjang abad ke-20, wilayah ini menjadi pusat industri peleburan besar, khususnya di Midvale dan Murray. 

Pada tahun 1970, sebagian besar fasilitas ditutup bertepatan dengan diberlakukannya pembatasan ketat penggunaan timbal secara federal.

“Bagian Utah dari penelitian ini sangat menarik karena cara orang-orang melacak sejarah keluarga mereka. Saya rasa hal ini tidak bisa dilakukan di New York atau Florida,” papar Smith.

Baca juga: Plastik Biodegradable Bisa Kurangi Polusi, tapi Ada Dampak Tersembunyi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau