Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rencana Inggris Atasi Zat Kimia Abadi PFAS yang Tahan Ratusan Tahun

Kompas.com, 5 Februari 2026, 21:13 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Pemerintah Inggris merilis rencana nasional pertamanya untuk mengatasi forever chemicals (zat kimia abadi), Selasa (3/2/2026). Bahan kimia ini dikenal dengan nama PFAS atau per- and polyfluoroalkyl substances.

PFAS merupakan kelompok besar bahan kimia buatan manusia. Jumlahnya mencapai sekitar 10.000 jenis. Zat ini digunakan dalam banyak produk sehari-hari, misalnya dari kotak pizza, peralatan masak, hingga pakaian tahan air.

Baca juga:

PFAS dijuluki forever chemicals karena sangat sulit terurai. Zat ini membutuhkan waktu sangat lama untuk terpecah secara alami.

Akibatnya, PFAS terus menumpuk di lingkungan dan bisa bertahan di tanah, air, dan rantai makanan, dilansir dari AFP, Kamis (5/2/2026).

Inggris rilis rencana atasi zat kimia abadi

Inggris merilis rencana nasional pertama untuk mengatasi forever chemicals atau PFAS yang mengancam kesehatan dan lingkungan.Dok. Freepik/rawpixel.com Inggris merilis rencana nasional pertama untuk mengatasi forever chemicals atau PFAS yang mengancam kesehatan dan lingkungan.

Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan Inggris (Defra) menyebut dampak PFAS sangat serius.

Dalam pernyataan resmi, Defra mengatakan, risiko PFAS kemungkinan akan bertahan selama ratusan tahun. Risiko tersebut menyasar kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Pemerintah Inggris menyusun rencana ini untuk memahami sumber PFAS, sekaligus mengetahui pola penyebarannya. Tujuan utama rencana tersebut adalah mengurangi paparan terhadap manusia dan alam.

Untuk pertama kalinya, Inggris akan menilai keberadaan PFAS di muara sungai dan perairan pesisir Inggris. Penilaian ini menjadi langkah awal untuk memetakan skala masalah yang selama ini belum terungkap sepenuhnya.

PFAS diketahui sudah masuk ke dalam makanan dan air minum. Paparan jangka panjang, bahkan pada kadar rendah, bisa berbahaya bagi tubuh.

Berbagai penelitian mengaitkan PFAS dengan kerusakan hati. Zat ini juga dikaitkan dengan kolesterol tinggi.

Dampak lain yang ditemukan adalah penurunan respons sistem imun. PFAS juga berhubungan dengan berat badan lahir rendah, serta beberapa jenis kanker juga dikaitkan dengan paparan kronis zat ini.

Baca juga:

Inggris akan buka konsultasi publik

Inggris merilis rencana nasional pertama untuk mengatasi forever chemicals atau PFAS yang mengancam kesehatan dan lingkungan.PEXELS/PAULO SERGIO ZEMBRUSKI Inggris merilis rencana nasional pertama untuk mengatasi forever chemicals atau PFAS yang mengancam kesehatan dan lingkungan.

Dalam rencana tersebut, Pemerintah Inggris akan membuka konsultasi publik pada akhir tahun ini.

Konsultasi ini membahas penerapan batas hukum PFAS dalam regulasi pasokan air publik di Inggris. Jika batas tersebut dilampaui, regulator bisa bertindak lebih tegas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau