KOMPAS.com - Pestisida yang digunakan saat ini dinilai semakin beracun dibandingkan sebelumnya.
Mirisnya, meski sektor pertanian semakin maju, ketergantungan negara-negara di dunia terhadap pestisida semakin meningkat. Jumlah penggunaannya lebih banyak dari tahun ke tahun, meskipun ada target PBB untuk memangkas separuh risiko keseluruhannya pada tahun 2030.
Baca juga:
"Hampir di semua negara, trennya mengarah pada peningkatan daya racun atau toksisitas yang digunakan," kata Ralf Schulz dari Universitas RPTU Kaiserslautern-Landau di Jerman, dilansir dari NewScientist, Jumat (6/2/2026).
Kerusakan yang ditimbulkan pestisida terhadap satwa liar kini berpotensi jauh lebih besar daripada sebelumnya, menurut studi yang diterbitkan di Science.
Untuk menilai beban keseluruhan dari pestisida, Schulz dan rekan-rekannya pun kemudian mengembangkan sebuah alat ukur yang disebut applied toxicity untuk menghitung potensi mematikan dari pestisida terhadap makhluk hidup.
Pestisida yang digunakan saat ini dinilai semakin beracun dibandingkan sebelumnya, khususnya bagi satwa liar.Para peneliti memulai dengan meneliti jumlah 625 pestisida yang digunakan di 201 negara dari tahun 2013 hingga 2019. Daftar tersebut mencakup beberapa pestisida yang digunakan oleh petani organik maupun konvensional.
Peneliti kemudian membuat rata-rata data dari regulator di beberapa negara tentang seberapa toksik setiap pestisida terhadap delapan kelompok organisme utama.
Organisme utama yang dimaksud adalah tumbuhan air, invertebrata air, ikan, arthropoda darat, penyerbuk, organisme tanah, vertebrata darat, dan tumbuhan darat. Hal ini memungkinkan tim untuk memperkirakan total toksisitas yang diterapkan per negara atau per kelompok organisme.
Secara global, total tingkat kekuatan racun yang digunakan meningkat dari tahun 2013 hingga 2019 terhadap enam dari delapan kelompok organisme.
Sebagai contoh, bagi hewan penyerbuk seperti lebah, risikonya tingkat racunnya naik 13 persen, bagi ikan naik 27 persen, dan bagi arthropoda darat seperti serangga, krustasea, dan laba-laba melonjak hingga 43 persen.
"Hal ini tidak berarti bahwa tingkat racun tersebut pasti langsung berubah menjadi aksi keracunan pada organisme-organisme ini," kata Schulz.
"Tapi, setidaknya ini adalah indikator yang menunjukkan apakah pestisida yang kita gunakan menjadi lebih beracun atau kurang beracun bagi hewan penyerbuk, ikan, atau makhluk apa pun itu," tambah dia.
Banyak studi lain menemukan bahwa konsentrasi pestisida di berbagai lingkungan, seperti sungai, ternyata jauh lebih tinggi daripada perkiraan yang ditetapkan oleh regulator saat mereka memberikan izin penggunaan pestisida tersebut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya