Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar

Kompas.com, 6 Februari 2026, 15:16 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pestisida yang digunakan saat ini dinilai semakin beracun dibandingkan sebelumnya.

Mirisnya, meski sektor pertanian semakin maju, ketergantungan negara-negara di dunia terhadap pestisida semakin meningkat. Jumlah penggunaannya lebih banyak dari tahun ke tahun, meskipun ada target PBB untuk memangkas separuh risiko keseluruhannya pada tahun 2030.

Baca juga:

"Hampir di semua negara, trennya mengarah pada peningkatan daya racun atau toksisitas yang digunakan," kata Ralf Schulz dari Universitas RPTU Kaiserslautern-Landau di Jerman, dilansir dari NewScientist, Jumat (6/2/2026).

Kerusakan yang ditimbulkan pestisida terhadap satwa liar kini berpotensi jauh lebih besar daripada sebelumnya, menurut studi yang diterbitkan di Science. 

Untuk menilai beban keseluruhan dari pestisida, Schulz dan rekan-rekannya pun kemudian mengembangkan sebuah alat ukur yang disebut applied toxicity untuk menghitung potensi mematikan dari pestisida terhadap makhluk hidup. 

Pestisida makin beracun dan berbahaya bagi satwa liar

Mengukur toksisitas pestisida

Pestisida yang digunakan saat ini dinilai semakin beracun dibandingkan sebelumnya, khususnya bagi satwa liar.SHUTTERSTOCK/VERVERIDIS VASILIS Pestisida yang digunakan saat ini dinilai semakin beracun dibandingkan sebelumnya, khususnya bagi satwa liar.

Para peneliti memulai dengan meneliti jumlah 625 pestisida yang digunakan di 201 negara dari tahun 2013 hingga 2019. Daftar tersebut mencakup beberapa pestisida yang digunakan oleh petani organik maupun konvensional.

Peneliti kemudian membuat rata-rata data dari regulator di beberapa negara tentang seberapa toksik setiap pestisida terhadap delapan kelompok organisme utama.

Organisme utama yang dimaksud adalah tumbuhan air, invertebrata air, ikan, arthropoda darat, penyerbuk, organisme tanah, vertebrata darat, dan tumbuhan darat. Hal ini memungkinkan tim untuk memperkirakan total toksisitas yang diterapkan per negara atau per kelompok organisme.

Secara global, total tingkat kekuatan racun yang digunakan meningkat dari tahun 2013 hingga 2019 terhadap enam dari delapan kelompok organisme.

Sebagai contoh, bagi hewan penyerbuk seperti lebah, risikonya tingkat racunnya naik 13 persen, bagi ikan naik 27 persen, dan bagi arthropoda darat seperti serangga, krustasea, dan laba-laba melonjak hingga 43 persen.

"Hal ini tidak berarti bahwa tingkat racun tersebut pasti langsung berubah menjadi aksi keracunan pada organisme-organisme ini," kata Schulz.

"Tapi, setidaknya ini adalah indikator yang menunjukkan apakah pestisida yang kita gunakan menjadi lebih beracun atau kurang beracun bagi hewan penyerbuk, ikan, atau makhluk apa pun itu," tambah dia.

Banyak studi lain menemukan bahwa konsentrasi pestisida di berbagai lingkungan, seperti sungai, ternyata jauh lebih tinggi daripada perkiraan yang ditetapkan oleh regulator saat mereka memberikan izin penggunaan pestisida tersebut.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau