Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun

Kompas.com, 7 Februari 2026, 12:18 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sebuah studi mengungkapkan lebih dari 7.000 penguin Magellan dewasa (Spheniscus magellanicus) mati akibat serangan puma (Puma concolor) di sepanjang pantai Patagonia, Argentina, selama periode 2007–2010.

Temuan ini berasal dari penelitian di Taman Nasional Monte León, salah satu koloni penguin terbesar di kawasan tersebut.

Jumlah penguin yang terbunuh itu setara dengan sekitar 7,6 persen dari total populasi penguin dewasa di Monte León, yang diperkirakan mencapai 93.000 individu.

Menariknya, banyak bangkai penguin ditemukan hanya dimakan sebagian atau bahkan ditinggalkan utuh, menandakan bahwa tidak semua penguin dibunuh untuk kebutuhan makan.

Baca juga: Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?

Penulis utama studi sekaligus mahasiswa pascasarjana di WildCRU, Universitas Oxford, Melisa Lera, menyebut fenomena ini sebagai surplus killing atau pembunuhan berlebih, yakni kondisi ketika predator membunuh mangsa lebih banyak dari yang mereka konsumsi.

“Ini mirip dengan perilaku kucing domestik ketika mangsa berlimpah atau mudah ditangkap. Predator dapat membunuh lebih banyak burung meski tidak benar-benar memakannya,” ujar Lera, dikutip dari SciTechDaily, Jumat (6/2/2026).

Penelitian ini dilakukan oleh Centro de Investigaciones de Puerto Deseado dari Universidad Nacional de la Patagonia Austral, yang telah memantau koloni penguin di Monte León sejak kawasan itu ditetapkan sebagai taman nasional pada 2004.

Tim peneliti kemudian bekerja sama dengan WildCRU Universitas Oxford untuk menganalisis dampak jangka panjang predasi puma terhadap populasi penguin. Studi tersebut diterbitkan dalam Journal for Nature Conservation pada Kamis (5/2/2026).

Hasil pemodelan populasi menunjukkan bahwa predasi puma saja tidak cukup untuk menyebabkan kepunahan koloni penguin Magellan di Monte León.

Faktor penentu utama keberlanjutan populasi justru terletak pada tingkat keberhasilan perkembangbiakan dan kelangsungan hidup penguin muda.

Skenario kepunahan baru muncul ketika tingkat kelangsungan hidup penguin muda sangat rendah, yakni sekitar 20 persen gagal mencapai usia dewasa, ditambah dengan tingkat reproduksi yang buruk, hanya satu anak per pasangan. Dalam kondisi tersebut, predasi puma yang tinggi dapat memperburuk penurunan populasi.

Penulis pendamping studi dari WildCRU, Universitas Oxford, Jorgelina Marino, mengatakan temuan ini mencerminkan tantangan konservasi yang muncul seiring pemulihan predator puncak di suatu ekosistem.

“Memahami bagaimana perubahan pola makan predator memengaruhi predator dan mangsanya sangat penting untuk merancang strategi konservasi yang tepat,” ujar Marino.

Studi ini juga menekankan pentingnya kondisi lingkungan dalam menentukan masa depan koloni penguin.

Ketersediaan pakan, kecukupan nutrisi, serta suhu lingkungan yang dipengaruhi perubahan iklim menjadi faktor krusial bagi keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup penguin muda.

Baca juga: Penguin Afrika Kelaparan Massal, Ahli Khawatir Kepunahan Tinggal Menghitung Waktu

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau