KOMPAS.com — Di antara deretan stan di area Bakti BCA pada BCA Expoversary 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, salah satu booth berukuran cukup besar menarik perhatian pengunjung, termasuk Kompas.com, Jumat (6/2/2026). Di etalasenya, beragam helai batik tulis terpajang di etalase dengan warna-warna menarik mata.
Stan tersebut milik Kampung Batik Gemah Sumilir (GS), komunitas perajin batik asal Pekalongan yang kini menjadi bagian dari desa wisata binaan Bakti BCA. Beberapa perajin pria tampak berlalu-lalang mengenakan udeng dan menyambut pengunjung dengan ramah.
Kompas.com mengunjungi booth tersebut dan bertemu Ketua komunitas, Amin Maizun. Ia mengisahkan perjalanan komunitasnya hingga berkesempatan tampil di ajang akbar tahunan yang digelar PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Baca juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi RI, BCA Expoversary 2026 Tebar Promo Properti hingga Otomotif
Komunitas yang berdiri sejak 2010 itu sempat menghadapi berbagai keterbatasan sebelum akhirnya bermitra dengan BCA.
“Komunitas kami berdiri untuk melestarikan batik sebagai kearifan lokal Pekalongan. Namun sebelum bermitra dengan BCA, kami sempat mengalami stagnasi karena keterbatasan sumber daya dan pengetahuan dalam pengelolaan organisasi,” ujar Amin.
Sejak bergabung sebagai salah satu desa binaan Bakti BCA pada 2016, Kampung Batik GS mulai berkembang pesat. Produk batik mereka diikutsertakan dalam berbagai pameran nasional hingga internasional, bahkan diperkenalkan ke mancanegara.
“Sejak menjadi desa binaan BCA, kami mendapat banyak kesempatan untuk berkembang. Akses pasar terbuka dan itu sangat membantu pemberdayaan para perajin,” kata Amin.
Baca juga: BCA Expoversary 2026 Bandung, Ada Promo Bunga KKB dan KPR Hanya 1,69 Persen
Kemitraan tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi komunitas, tetapi juga mendorong inovasi ramah lingkungan. Kampung Batik GS mengembangkan penggunaan pewarna alam untuk mengurangi limbah dari proses produksi batik.
“Kami menyadari proses membatik menghasilkan limbah cair yang bisa berdampak pada lingkungan. Karena itu kami mengembangkan pewarna alam sebagai alternatif, sekaligus menghidupkan kembali tradisi pewarnaan batik yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Menurut Amin, pelestarian batik juga berarti menjaga nilai budaya bagi generasi mendatang.
Baca juga: Absen di IIMS 2026, Denza B5 Mejeng di BCA Expoversary 2026
“Batik bukan hanya soal keterampilan tangan, tetapi juga mengajarkan kesabaran dan nilai budaya. Kami berharap komunitas ini terus berkembang dan bisa menumbuhkan minat generasi muda untuk menjaga warisan batik,” katanya.
Sebagai inovasi, komunitas tersebut juga mengembangkan paket wisata edukasi ke Kampung Batik GS. Pelajar hingga masyarakat umum dapat memperoleh edukasi dan literasi seputar batik Pekalongan dengan biaya terjangkau.
“Harapan kami dengan inovasi seperti ini adalah mengedukasi generasi muda agar mengenal warisan budayanya. Ini cara kami untuk melestarikan sekaligus mengedukasi calon-calon perajin batik di masa depan,” jelasnya.
Baca juga: Sharing Desa Bakti BCA, Nicholas Saputra Ingatkan Jaga Alam dan Budaya untuk Pengalaman Berkualitas
Pemberdayaan yang dilakukan Bakti BCA tidak hanya menyasar komunitas berbasis budaya seperti Kampung Batik GS, tetapi juga individu dari berbagai latar belakang. Program ini dirancang untuk membuka ruang tumbuh bagi siapa pun yang ingin mengembangkan keterampilan dan kemandirian ekonomi.
Seperti yang dirasakan Muhammad Ginto, salah satu anggota make-up artist (MUA) Tuli binaan Bakti BCA.
Muhammad Ginto, salah satu anggota make-up artist (MUA) Tuli binaan Bakti BCA.Di booth nail art BCAExpoversary 2026, Ginto tampak sibuk melayani pengunjung. Ia berkisah, sejak bergabung sebagai salah satu MUA Tuli Bakti BCA pada 2024, dirinya mengikuti berbagai pelatihan profesional, memiliki keterampilan sebagai MUA, hair do, dan nail art, bahkan hingga memperoleh sertifikasi profesi.
“Saya senang bisa bergabung dengan MUA Tuli Bakti BCA sejak 2024. Saya mendapat banyak pelatihan yang membantu saya mempelajari keterampilan baru,” ujar Ginto lewat bahasa isyarat.
Baca juga: Perkuat Ketahanan Lingkungan dan Ekonomi Warga, Bakti BCA Restorasi Mata Air dan Tanam 21.000 Pohon
Sebelumnya, ia mengaku tidak memiliki kemampuan nail art, tetapi kini justru menjadi daya tarik bagi pengunjung.
“Saya tidak menyangka sekarang bisa melayani banyak pengunjung di acara ini,” katanya.
Kesempatan tampil di ajang besar memberinya rasa percaya diri baru. Ia berharap dapat terus mengembangkan kemampuannya hingga suatu hari mampu mendirikan usaha sendiri.
Kisah Kampung Batik GS dan perjalanan Ginto menunjukkan bagaimana program Bakti BCA menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dari komunitas desa hingga individu. Pendekatan inilah yang menjadi fondasi strategi pemberdayaan Bakti BCA dalam membangun dampak sosial jangka panjang.
Kisah tersebut mencerminkan pendekatan Bakti BCA yang menempatkan manusia sebagai titik awal pembangunan. Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, Bakti BCA merupakan payung corporate shared value perusahaan untuk tumbuh bersama komunitas.
Baca juga: Bakti BCA Kembangkan Rumah Pangan Hidup, Wujudkan Desa Wisata Berkelanjutan
“Kami percaya, pemberdayaan harus dimulai dari individu. Ketika manusianya terbangun, ia bisa memperkuat komunitasnya, lalu bersama-sama membangun ekosistem yang berkelanjutan,” ujar Hera.
Hera menjelaskan, pendekatan yang digunakan pihaknya bukanlah bantuan instan, melainkan pendampingan jangka panjang berbasis kebutuhan komunitas.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, Bakti BCA merupakan payung corporate shared value perusahaan untuk tumbuh bersama komunitas.“Pendekatan kami adalah human to human—memahami budaya, kebutuhan, dan karakter setiap komunitas. Pendampingan rata-rata kami lakukan sekitar tiga tahun dengan fokus membangun kapasitas manusianya agar mereka bisa mandiri,” katanya.
Hera menjelaskan, Bakti BCA mencakup lima sektor utama, yakni kesehatan, pendidikan, budaya, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) & Desa Bakti BCA, dan lingkungan. Melalui sektor-sektor tersebut, perusahaan berupaya menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
Baca juga: Wujudkan Inovasi Pendidikan di Banyuwangi, BCA Gelar Karya Sekolah Bakti BCA dan Appreciation Day
Saat ini, Bakti BCA membina 27 desa wisata di berbagai wilayah Indonesia serta menjalankan berbagai program pemberdayaan UMKM. BCA juga mendorong perluasan akses pasar melalui sertifikasi halal gratis dan program UMKM GoExport.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu, kami tidak hanya fokus pada pembinaan, tetapi juga membuka akses pasar agar mereka bisa berkembang secara berkelanjutan. Tujuan akhirnya adalah memastikan komunitas memiliki pasar yang stabil dan mandiri,” ujar Hera.
Ia menambahkan, akses pasar tidak hanya berdampak pada peningkatan penjualan, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri pelaku usaha. Untuk mengukur keberhasilan, setiap program dievaluasi guna memastikan dampak jangka panjang.
Baca juga: Bakti BCA di Labuan Bajo Jangkau 550 Pasien Mata dan Beri Edukasi ke Siswa Setempat
“Keberhasilan bagi kami adalah ketika manfaat program bisa menular ke lingkungan sekitar dan menciptakan efek berantai di komunitas,” ujarnya.
Upaya pemberdayaan berbasis komunitas ini mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Luh Puspa yang juga hadir pada Jumat. Ia menilai, kolaborasi sektor swasta dan masyarakat penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.
Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Luh Puspa menyambangi salah satu booth di area Bakti BCA pada gelaran BCA Expoversary 2026, Jumat (6/2/2026).“Kami mengapresiasi BCA yang telah memberikan manfaat pada masyarakat. Terima kasih Bakti BCA, dengan ini uangnya dapat, bumi kita juga terjaga,” ujar Ni Luh Puspa.
Sebagai informasi, BCA Expoverary 2026 selain digelar secara luring, juga hadir secara daring melalui laman https://expo.bca.co.id mulai Kamis (5/2/2026) hingga Selasa (31/3/2026).
Tak hanya Jakarta, perhelatan offline BCA Expoversary 2026 juga digelar di delapan kota lain,
yakni Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makassar, Medan, Malang, dan Pontianak.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya