JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, disebut sudah pada titik kritisnya.
Berdasarkan kajian ITB tahun 2025, daya tampung fisik TPST Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional. Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.
Baca juga:
Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berupaya mengurangi beban TPST Bantargebang dengan mencegah sebanyak mungkin sampah berakhir di tempat itu.
Secara administratif, operasional tersisa hingga tahun 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.
"TPST Bantargebang sudah sangat kritis, kami juga sebenarnya ada beban keuangan yang harus kami berikan kepada Pemkot Bekasi. Itu sekitar 365 miliar setiap tahunnya kami hibahkan dana tersebut kepada Pemkot Bekasi," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta. Kondisinya kian kritis.Jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mengalami kenaikan secara signifikan selama periode 2014-2024 yaitu dari 5.653 ton per hari pada tahun 2014, menjadi 7.734 ton per hari tahun 2024.
Namun, sempat terjadi penurunan pada selama periode 2020-2021 dan tahun 2023, sebelum akhirnya kenaikan jumlah sampah yang masuk TPST Bantargebang melesat kembali.
Penurunan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang periode 2020-2021 disebabkan dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar selama Covid-19.
Sedikit penurunan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang juga terjadi pada 2023, tahun saat pandemi Covid-19 dinyatakan berakhir.
Menurut Asep, jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang meningkat secara luar biasa.
Kondisi itu mengingat pada 1980-an, jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang hanya 2.200-an ton per hari.
Kenaikan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang tidak sebanding dengan upaya pengurangan melalui berbagai skema pengelolaan.
"(Sampah di Jakarta yang bisa terserap pengelolaan TPST Bantargebang, daur ulang, dan lain sebaginya) Secara hitungan itu baru sekitar 10-20 persen," ucapnya.
Baca juga:
Ke depannya, fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Bantargebang akan mengolah 1.000 ton sampah per hari, sedangkan fasilitas RDF di Rorotan direncanakan mengelola 2.500 ton sampah per hari.
Untuk tempat pengelolaan sampah yaitu reduce, reuse, recycle (TPS3R) di 17 lokasi akan mengelola 427 ton per hari.
Berdasarkan data terbaru, TPS3R sudah dibangun di 25 lokasi dan akan turut mengelola sampah organik dari program makan bergizi gratis (MBG).
Dari total sampah harian Jakarta setelah dikurangi dengan proyeksi pengelolaan dari berbagai fasilitas sudah berjalan secara optimal, masih ada sekitar 3.500 ton per hari yang perlu diolah atau kembali ditimbun di Bantargebang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya