Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari

Kompas.com, 9 Februari 2026, 20:13 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, disebut sudah pada titik kritisnya.

Berdasarkan kajian ITB tahun 2025, daya tampung fisik TPST Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional. Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.

Baca juga:

Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berupaya mengurangi beban TPST Bantargebang dengan mencegah sebanyak mungkin sampah berakhir di tempat itu.

Secara administratif, operasional tersisa hingga tahun 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

"TPST Bantargebang sudah sangat kritis, kami juga sebenarnya ada beban keuangan yang harus kami berikan kepada Pemkot Bekasi. Itu sekitar 365 miliar setiap tahunnya kami hibahkan dana tersebut kepada Pemkot Bekasi," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Kondisi Bantargebang kritis, Jakarta harus kurangi sampah

Ada 7.734 ton sampah per hari masuk Bantargebang

Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta. Kondisinya kian kritis.KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta. Kondisinya kian kritis.

Jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mengalami kenaikan secara signifikan selama periode 2014-2024 yaitu dari 5.653 ton per hari pada tahun 2014, menjadi 7.734 ton per hari tahun 2024.

Namun, sempat terjadi penurunan pada selama periode 2020-2021 dan tahun 2023, sebelum akhirnya kenaikan jumlah sampah yang masuk TPST Bantargebang melesat kembali.

Penurunan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang periode 2020-2021 disebabkan dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar selama Covid-19.

Sedikit penurunan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang juga terjadi pada 2023, tahun saat pandemi Covid-19 dinyatakan berakhir.

Menurut Asep, jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang meningkat secara luar biasa. 

Kondisi itu mengingat pada 1980-an, jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang hanya 2.200-an ton per hari.

Kenaikan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang tidak sebanding dengan upaya pengurangan melalui berbagai skema pengelolaan.

"(Sampah di Jakarta yang bisa terserap pengelolaan TPST Bantargebang, daur ulang, dan lain sebaginya) Secara hitungan itu baru sekitar 10-20 persen," ucapnya.

Baca juga:

Ke depannya, fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Bantargebang akan mengolah 1.000 ton sampah per hari, sedangkan fasilitas RDF di Rorotan direncanakan mengelola 2.500 ton sampah per hari.

Untuk tempat pengelolaan sampah yaitu reduce, reuse, recycle (TPS3R) di 17 lokasi akan mengelola 427 ton per hari.

Berdasarkan data terbaru, TPS3R sudah dibangun di 25 lokasi dan akan turut mengelola sampah organik dari program makan bergizi gratis (MBG).

Dari total sampah harian Jakarta setelah dikurangi dengan proyeksi pengelolaan dari berbagai fasilitas sudah berjalan secara optimal, masih ada sekitar 3.500 ton per hari yang perlu diolah atau kembali ditimbun di Bantargebang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Desa Sejahtera Astra
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Pemerintah
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Pemerintah
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
LSM/Figur
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
LSM/Figur
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Pemerintah
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Pemerintah
Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global
Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global
Pemerintah
Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen
Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen
Pemerintah
Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Pemerintah
Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH
Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH
Pemerintah
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau