Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mitigasi Bencana, Pertamina Patra Niaga Tanam 1.300 Pohon Saninten

Kompas.com, 10 Februari 2026, 10:43 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melakukan penanaman 1.300 pohon endemik Jawa Barat, saninten (Castanopsis argentea) di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Tak hanya saninten, perseroan juga menanam pohon dan tanaman multi purpose tree species (MPTS) agroforestri seperti kopi, alpukat, dan jeruk.

Program ini bekerja sama dengan Komunitas Saninten Indonesia dan melibatkan lima petani binaan yang berperan sebagai Local Biodiversity Champion.

Baca juga: Perubahan Iklim Picu Hilangnya Spesies Pohon Terpenting di Hutan Dunia

Kelima petani tersebut sebelumnya telah melalui rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan edukasi dengan memanfaatkan pengetahuan lokal dan pengalaman bertani yang telah mereka miliki.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana dalam sambutannya menegaskan pentingnya keberadaan pohon keras di kawasan pertanian lereng.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus mendorong kolaborasi seluruh pihak dalam upaya menghijaukan kembali kawasan Bandung Utara. Kami mengapresiasi Pertamina yang tidak hanya menanam, tetapi juga memelihara dan melibatkan masyarakat dalam setiap tahapannya,” ujar Dodit dalam keterangan resmi, Senin (9/2/2026).

Komitmen tersebut juga ditegaskan oleh Supervisor Maintenance PT Pertamina Patra Niaga AFT Husein Sastranegara, Boy Presley Panjaitan yang menyampaikan bahwa program konservasi saninten memiliki muatan yang lebih luas dari sekadar kegiatan penghijauan.

“Konservasi saninten ini bukan hanya tentang penanaman pohon, tetapi juga bagian dari upaya mitigasi bencana di Bandung Utara yang saat ini tengah menjadi perhatian. Kami mengusung semangat ‘Saninten Lestari, Bandung Utara Tangguh’ karena saninten memiliki perakaran yang kuat, mampu menahan tanah, dan mendukung ekosistem di sekitarnya,” ujar Boy.

Salah satu petani yang berperan sebagai Local Biodiversity Champion, Oyot mengungkapkan bahwa sekarang banyak lahan yang sudah kritis dan pohon kerasnya makin berkurang.

"Memang belum semua orang sadar soal ini, makanya waktu ada program penanaman saninten ini saya senang sekali bisa terlibat,” ujar Oyot.

Baca juga: Tinggal Dekat Pohon Bagus untuk Kesehatan Jantung, Ini Alasannya

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Susanto August Satria menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kontribusi Pertamina dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam upaya konservasi.

“Program konservasi saninten ini menjadi bagian dari upaya Pertamina dalam memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui kolaborasi dengan komunitas dan petani lokal,” ujar Satria.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, poin 13 tentang penanganan perubahan iklim, poin 15 tentang ekosistem daratan, serta poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau