Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mana yang Lebih Ramah Lingkungan: Perusahaan Keluarga ataukah Publik?

Kompas.com, 10 Februari 2026, 16:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Seiring meningkatnya tekanan pada dunia usaha untuk memenuhi target iklim dan beroperasi secara bertanggung jawab, kinerja keberlanjutan lingkungan telah menjadi ukuran utama kesuksesan korporasi.

Pelanggan, regulator, dan investor semakin berharap agar perusahaan memangkas polusi dan berkontribusi positif terhadap planet ini.

Namun seberapa berkomitmen perusahaan memenuhi target iklim?

Sebuah meta analisis skala besar baru membandingkan bagaimana perusahaan keluarga dengan perusahaan non-keluarga menyeimbangkan jejak lingkungan dan kontribusi lingkungan mereka.

Itu merupakan dua metrik yang kian berkembang yang digunakan untuk menilai hasil keberlanjutan.

Melansir Know ESG, Jumat (6/2/2026) jejak lingkungan (Environmental footprint) mengacu pada kerusakan yang ditimbulkan perusahaan melalui operasional mereka. Ini mencakup konsumsi energi dan air, produksi limbah, serta polusi.

Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya

Sebaliknya, kontribusi lingkungan (environmental handprint) mencakup langkah-langkah proaktif yang diambil perusahaan untuk memperbaiki lingkungan, seperti memasang panel surya, mendaur ulang bahan, atau mengganti kemasan plastik dengan alternatif yang berkelanjutan.

Studi kemudian memeriksa 87 makalah penelitian utama yang mencakup lebih dari 118.000 perusahaan. Studi tersebut membandingkan kinerja keberlanjutan lingkungan dari perusahaan keluarga yang didefinisikan sebagai bisnis yang dikendalikan melalui kepemilikan atau manajemen keluarga dengan kinerja perusahaan non-keluarga.

Komitmen perusahaan

Temuan menunjukkan pola yang jelas. Secara keseluruhan, perusahaan keluarga cenderung memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah, yang berarti mereka menghasilkan lebih sedikit dampak lingkungan negatif.

Hal ini menunjukkan perusahaan keluarga mungkin lebih berhati-hati atau lebih efisien dalam operasional mereka, sehingga mengurangi polusi dan penggunaan sumber daya.

Namun, dalam hal kontribusi lingkungan, perusahaan keluarga tidak ada bedanya dengan perusahaan lainnya. Singkatnya, kepemilikan keluarga tidak secara otomatis menghasilkan inovasi hijau yang lebih ambisius.

Para peneliti menyatakan bahwa keragaman perusahaan memainkan peran krusial dalam menentukan hasil. Ukuran perusahaan, pencatatan di bursa saham, dan jenis keterlibatan keluarga semuanya memengaruhi hasil keberlanjutan.

Misalnya, bisnis yang sepenuhnya dimiliki keluarga mungkin menghindari investasi keberlanjutan yang berisiko atau mahal untuk melindungi kekayaan keluarga, yang dapat merugikan kemajuan secara keseluruhan.

Baca juga: Praktik Sustainability Perusahaan Indonesia Belum Masif, Padahal Rentan Krisis Iklim

Sementara itu, perusahaan non-keluarga yang besar dan terdaftar di bursa saham sering menunjukkan tindakan keberlanjutan yang lebih kuat, mungkin karena tekanan investor, peraturan, dan pengawasan publik.

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa perusahaan keluarga dapat mencapai hasil yang lebih baik dengan tindakan yang kurang terlihat.

Mereka cenderung kurang terlibat dalam upaya keberlanjutan yang dipublikasikan secara luas, seperti program keanekaragaman hayati atau kampanye daur ulang formal, tetapi mungkin lebih fokus pada perubahan praktis yang secara diam-diam mengurangi kerusakan lingkungan.

Pendekatan ini mungkin memprioritaskan substansi daripada gestur simbolis yang dimaksudkan untuk meningkatkan citra "hijau".

Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa perusahaan keluarga dan perusahaan non-keluarga memiliki kinerja yang serupa dalam keberlanjutan lingkungan, dengan perbedaan utama terletak pada jejak lingkungan perusahaan keluarga yang lebih kecil.

Hasil penelitian juga menyoroti bahwa struktur kepemilikan saja tidak menjamin kinerja keberlanjutan yang lebih kuat. Sebaliknya, karakteristik perusahaan dan pilihan strategis lebih penting.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau