Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Berpotensi Pangkas Separuh Lahan Peternakan Dunia pada 2100

Kompas.com, 10 Februari 2026, 19:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi baru yang dilakukan di Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) menunjukkan bahwa sistem penggembalaan berbasis padang rumput akan mengalami penyusutan parah seiring meningkatnya suhu global.

Sebagai informasi, sistem penggembalaan berbasis padang rumput saat ini mencakup sepertiga permukaan bumi dan merupakan sistem produksi pangan terbesar di dunia.

Menurut studi, hampir separuh (36 hingga 50 persen) lahan peternakan yang ada sekarang tidak akan bisa lagi mendukung kehidupan hewan ternak pada 2100.

Hal ini akan berdampak pada kelangsungan hidup lebih dari 100 juta peternak dan hingga 1,6 miliar hewan ternak, seperti dilansir dari Phys, Senin (9/2/2026).

Baca juga: Limbah Biofuel Nyamplung Bisa Jadi Pakan Ternak, Turunkan Emisi Metana

Ruang aman ternak

Studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengidentifikasi ruang iklim yang aman untuk penggembalaan sapi, domba, dan kambing.

Ruang iklim yang aman merupakan sebuah wilayah yang bisa dijadikan tempat peternakan atau tidak di mana tempat tersebut tidak terlalu panas, terlalu dingin, terlalu kering dan terlalu basah.

Hingga saat ini parameter ilmiah yang dipakai adalah suhu antara -3 derajat C hingga 29 derajat C, curah hujan antara 50 hingga 2.627 milimeter per tahun, kelembapan dari 39 persen hingga 67 persen, dan kecepatan angin antara 1 hingga 6 meter per detik.

Jika kondisi alam keluar dari angka-angka tersebut, hewan ternak akan mengalami stres panas, kekurangan pakan, atau terserang penyakit.

Namun perubahan iklim akan menggeser dan secara signifikan mempersempit ruang-ruang tersebut secara global sehingga mengurangi ruang bagi hewan untuk merumput.

Baca juga: Cara Mengajak Orang Peduli Perubahan Iklim, Ini Temuan Studi Terbaru

"Banyak dari perubahan ini akan dirasakan di negara-negara yang sudah mengalami kelaparan, ketidakstabilan ekonomi dan politik, serta tingkat ketidaksetaraan gender yang lebih tinggi,” papar penulis utama Chaohui Li, peneliti PIK

Penggembalaan berbasis padang rumput sangat bergantung pada lingkungan, termasuk hal-hal seperti suhu, kelembapan, dan ketersediaan air.

"Apa yang kita lihat adalah bahwa perubahan iklim akan mempersempit ruang-ruang di mana penggembalaan dapat berkembang, yang secara mendasar menantang praktik-praktik pertanian yang telah eksis selama berabad-abad," tambah Maximilian Kotz, salah satu penulis pendamping studi tersebut sekaligus peneliti di Barcelona Supercomputing Center dan PIK.

Afrika paling terdampak

Para penulis menyoroti bahwa Afrika akan sangat rentan. Padang rumput di Afrika dapat berkurang hingga 16 persen dalam skenario emisi rendah, atau hingga 65 persen di masa depan di mana bahan bakar fosil terus berkembang, karena suhu di benua tersebut sudah berada di batas atas ruang iklim aman yang diidentifikasi sebagai cocok untuk penggembalaan.

Baca juga: Masyarakat Kalimantan Timur Berhasil Manfaatkan Limbah Ternak Jadi Biogas

Seiring meningkatnya suhu, relung iklim (climate niches) yang saat ini mendukung wilayah penggembalaan kritis di dataran tinggi Ethiopia, Lembah Celah Afrika Timur, Cekungan Kalahari, dan Cekungan Kongo akan bergeser ke arah selatan.

Karena daratan Afrika berakhir di Samudra Selatan, sabuk suhu yang layak ini pada akhirnya akan meluas hingga melampaui batas tepi benua, yang mengakibatkan hilangnya lahan penggembalaan yang layak.

Pergeseran 'ruang iklim aman' ini benar-benar menantang efektivitas strategi adaptasi yang selama ini digunakan di tempat-tempat seperti Afrika pada masa sulit, misalnya mengganti spesies ternak atau memindahkan kawanan hewan.

"Mengurangi emisi dengan segera beralih dari bahan bakar fosil adalah strategi terbaik yang kita miliki untuk meminimalkan potensi kerusakan eksistensial bagi peternakan," simpul Li.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau