KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan ringan hingga lebat masih terjadi 16 Februari 2026. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan dalam sepekan ke depan dinamika atmosfer dari skala global hingga skala lokal masih mendominasi kondisi cuaca di Indonesia.
"Monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia, paling tidak hingga dasarian kedua Februari," ujar Andri dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).
Periode 10-16 Februari 2026, BMKG memperkirakan wilayah yang perlu waspada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.
Baca juga: Hujan Ekstrem Makin Meningkat, Jawa Barat Berpotensi Paling Rentan Bencana
Kemudian, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, serta Papua Selatan.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," tutur Andri.
Dalam beberapa hari ke depan, BMKG memantau adanya pergerakan seruakan dingin (cold surge) seiring dengan penguatan monsun Asia. Andri menyebut, angin utara serta indeks cross equatorial northerly surge (CENS) juga terlihat berada pada kategori tinggi.
"Oleh karena itu, potensi cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan diprakirakan akan mengalami peningkatan yang signifikan untuk terjadinya hujan dengan intensitas yang cukup tinggi," tutur dia.
Baca juga: Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Pada skala global, El Nino–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan fase La Nina lemah, yang memicu hujan di bagian timur Indonesia. Andri menambahkan, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, dan Laut Coral.
Sistem ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi di wilayah Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Sumatra Utara, dan Samudra Hindia barat Lampung.
Gelombang kelvin terdeteksi aktif di Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan dan utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua Selatan. Sedangkan gelombang rossby ekuator terpantau aktif di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, sebagian besar Papua sepekan ke depan.
BMKG lantas mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan banjir rob.
"Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata," jelas dia.
Sejauh ini, BMKG juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa wilayah untuk mencegah banjir maupun longsor sesuai kebutuhan penanganan cuaca ekstrem.
"Pelaksanaan OMC difokuskan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah rawan bencana, mendukung upaya mitigasi dan pengurangan risiko hidrometeorologi, serta embantu percepatan penanganan dampak bencana," ucap Andri.
Baca juga: Cerita Mengungsi dari Banjir Bekasi, Air Tak Surut Meski Hujan Berhenti
BMKG turut berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah dalam pelaksanaan OMC. Petugas mempertimbangkan kondisi atmosfer, kesiapan sarana prasarana, serta efektivitas operasi di lapangan.
"BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika atmosfer dan secara berkala menyampaikan prakiraan cuaca, peringatan dini, hingga peringatan cuaca ekstrem kepada masyarakat dan pemangku kepentingan," beber dia.
Jakarta dan Jawa Barat menjadi wilayah yang telah menggelar OMC, untuk mengantisipasi banjir akibat cuaca ekstrem
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya