Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar

Kompas.com, 11 Februari 2026, 18:49 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan rahasia molekuler di balik sutra laba-laba yang memiliki kekuatan dan fleksibilitas luar biasa.

Dari situ, studi tersebut menyingkap prinsip-prinsip yang bisa menginspirasi material canggih dan menjelaskan proses biologis jauh melampaui jarang laba-laba itu sendiri.

Baca juga:

Studi mengidentifikasi daya tarik kimia kecil yang membantu sutra laba-laba terkait keseimbangan, dengan kekuatan ekstrem tanpa kehilangan fleksibilitas, dilansir dari SciTechDaily, Rabu (11/2/2026).

Dengan menjelaskan apa yang menyatukan material itu pada skala molekuler, studi ini bisa memudahkan perancangan serat yang terinspirasi dari alam untuk komponen pesawat terbang, pakaian pelindung, dan penggunaan medis.

Perilaku yang sama juga dapat memberikan petunjuk tentang penyakit neurologis, termasuk Alzheimer.

Studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini bukan sekadar memperlakukan sutra laba-laba sebagai material misterius yang harus ditiru begitu saja.

Namun, studi ini lebih berfokus pada "aturan" mendasar yang digunakan alam, serta prinsip-prinsip di baliknya, untuk membangun generasi baru serat berkinerja tinggi dan lebih berkelanjutan.

Baca juga:

Desain molekuler sutra laba-laba yang kuat

Disebut lebih kuat dari kevlar

Studi mengungkap rahasia molekuler sutra laba-laba yang lebih kuat dari kevlar dan baja. Temuan ini berpotensi menginspirasi material canggih.SHUTTERSTOCK/VERONIQUE DUPLAIN Studi mengungkap rahasia molekuler sutra laba-laba yang lebih kuat dari kevlar dan baja. Temuan ini berpotensi menginspirasi material canggih.

Sutra laba-laba terbuat dari protein, rantai panjang yang dibangun dari asam amino.

Di dalam protein ini, asam amino tertentu berinteraksi dengan cara yang berperilaku, seperti "perekat" molekuler.

Jalinan berulang dan reversibel itu membantu protein berkumpul, mengatur, dan akhirnya mengunci menjadi struktur yang bisa menangani peregangan dan beban berat.

“Potensi aplikasinya sangat luas, pakaian pelindung ringan, komponen pesawat terbang, implan medis yang dapat terurai secara hayati, dan bahkan robotika lunak dapat memanfaatkan serat yang direkayasa menggunakan prinsip-prinsip alami ini," ujar Profesor Ilmu Material Komputasi di King's College London, Chris Lorenz, yang memimpin studi ini.

Para ilmuwan telah menghabiskan puluhan tahun mencoba meniru karakteristik dari benang sutra laba-laba yang luar biasa ini.

Benang sutra laba-laba menonjol di antara material alami karena lebih kuat dari baja per berat. Bahkan, benang sutra laba-laba disebut lebih tangguh dari kevlar, material yang digunakan untuk membuat rompi anti peluru.

Laba-laba bergantung pada sutra ini untuk membangun jaringnya dan untuk mendukung pergerakannya sendiri.

Jenis ini dibuat di dalam kelenjar sutra laba-laba, di mana protein disimpan dalam bentuk cairan kental yang disebut "larutan sutra". Saat laba-laba memintal jaringnya, cairan ini diubah menjadi serat padat.

Para peneliti memang telah mengetahui bahwa protein-protein tersebut pertama-tama berkumpul menjadi tetesan, seperti cairan sebelum berubah menjadi serat.

Namun, langkah-langkah molekuler yang menghubungkan perubahan fase ini dengan struktur akhir sutra masih menjadi misteri hingga saat ini.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau