Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim

Kompas.com, 15 Februari 2026, 12:40 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi yang diterbitkan di jurnal Animals. 

Selama 17 tahun, para peneliti dari Queen Mary University of London dan LSM Associação Projeto Biodiversidade mempelajari penyu tempayan yang bersarang di Cabo Verde, gugusan pulau terletak di lepas pantai barat Afrika.

Baca juga:

Mereka melaporkan, pemanasan laut memicu penyu bertelur lebih awal. Di sisi lain, penurunan produktivitas laut mengurangi frekuensi reproduksi penyu tempayan betina dan jumlah telur yang dihasilkan.

"Penyu menyesuaikan waktu perkembangbiakan mereka dengan suhu yang lebih hangat, yang menunjukkan kemampuan fleksibilitas yang luar biasa," ujar penulis utama studi tersebut di Queen Mary University of London, Fitra Nugraha, dilansir dari Phys.org, Sabtu (14/2/2026).

"Namun, pada saat yang sama, bagian Samudera Atlantik yang mereka andalkan untuk makanan menjadi kurang produktif, dan hal itu secara perlahan mengurangi produksi reproduksi mereka," tambah dia. 

Dampak krisis iklim terhadap penyu

Permukaan laut yang menghangat mengubah perilaku penyu

Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.wirestock/freepik Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.

Studi mengungkapkan, suhu permukaan laut yang lebih hangat menyebabkan penyu tiba dan bertelur lebih awal.

Suhu yang lebih tinggi juga memperpendek interval antara peneluran berturut-turut, kemungkinan karena kehangatan mempercepat perkembangan telur.

Bagaimana ketika penyu tersebut meninggalkan pantai? Seiring dengan menurunnya produktivitas laut di wilayah penyu mencari makan di Afrika Barat, penyu betina saat ini mengambil istirahat yang lebih lama antara musim kawin.

Dalam kurun waktu 17 tahun, interval pencarian makan kembali telah meningkat dari sekitar dua tahun menjadi empat tahun. 

Ketika kembali, penyu-penyu itu bertelur lebih sedikit. Bahkan, jumlah telur per sarang juga semakin sedikit.

"Dari pantai, semuanya tampak sebagai keberhasilan konservasi, lebih banyak sarang, peneluran lebih awal, banyak aktivitas. Namun, ketika Anda mengikuti penyu individu selama bertahun-tahun, gambaran yang lebih kompleks muncul. Penyu-penyu tersebut bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit," tutur salah satu penulis utama dan koordinator ilmiah di Associação Projeto Biodiversidade, Kirsten Fairweather.

Baca juga:

Pentingnya makanan

Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.Dok. Unsplash/Dustin Haney Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.

Penyu bergantung pada cadangan energi. Satwa ini mencari makan di laut untuk menunjang reproduksi dengan mengandalkan energi yang tersimpan selama bertahun-tahun.

Penurunan produktivitas laut cukup berkaitan dengan interval migrasi ulang yang bertambah panjang, jumlah telur lebih sedikit, dan jumlah peristiwa bertelur yang semakin jarang.

Kondisi ini berarti krisis iklim memengaruhi penyu melalui berbagai jalur sekaligus, termasuk pemanasan mengubah waktu reproduksi.

Sementara itu, perubahan pada rantai makanan laut mengurangi kapasitas reproduksi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau