Penulis
KOMPAS.com - Kepala Bidang Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell mendesak negara-negara untuk bersatu melawan ancaman terhadap kerja sama internasional dari sejumlah kelompok yang mendukung bahan bakar fosil.
Adapun pesan tersebut disampaikan menjelang Konferensi Iklim COP31 di Antalya, Turkiye, pada akhir tahun ini. COP31 akan dipimpin oleh Australia, sedangkan Turkiye menjadi tuan rumah.
Baca juga:
"COP31 di Antalya akan berlangsung pada masa-masa yang luar biasa. Kita berada dalam ketidakstabilan dunia yang baru (new world disorder)," kata Stiell dalam pidatonya, dilansir dari AFP, Minggu (15/2/2026).
Menurut Stiell, dunia sedang memasuki periode ketidakstabilan dan ketidakamanan. Ia menilai konsep kerja sama internasional sedang diserang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.Stiell tidak menyebut nama negara secara langsung. Namun, pernyataan itu muncul saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengguncang tatanan global.
Trump dikenal mendukung industri minyak, gas, dan batu bara. Ia juga menarik Amerika Serikat dari perjanjian iklim utama PBB.
Trump bahkan menyebut pemanasan global sebagai "hoaks", serta mencabut temuan ilmiah penting yang menjadi dasar regulasi Amerika Serikat untuk membatasi polusi pemicu pemanasan bumi.
Di sisi lain, Trump juga memicu ketegangan dengan sekutu Eropa. Ia menyatakan keinginan untuk mengakuisisi Greenland. Wilayah Arktik saat ini menjadi medan strategis baru karena es laut yang mencair.
Dalam konferensi pers, Stiell mengatakan, pintu tetap terbuka bagi Amerika Serikat untuk kembali bekerja sama dalam upaya iklim global.
Baca juga:
Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq, dan Executive Secretary, Simon E Stiell, saat COP30. PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.Stiell memperingatkan kerja sama iklim internasional sedang berada dalam ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menyinggung kekuatan pro bahan bakar fosil yang ingin meningkatkan ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas. Menurutnya, langkah itu bertentangan dengan logika ekonomi dan ilmiah.
"(Kerja sama iklim internasional) berada di bawah ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya: Dari mereka yang bertekad menggunakan kekuasaan mereka untuk menentang logika ekonomi dan ilmiah, serta meningkatkan ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas yang mencemari lingkungan," jelas Stiell.
Ia mengakui kekuatan tersebut sangat besar. Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan itu tidak harus menang.
“Ada alternatif yang jelas dari kekacauan dan kemunduran ini,” ujarnya.
Alternatif yang dimaksud adalah negara-negara berdiri bersama dan memperkuat kerja sama global. Ia mendorong agar pencapaian yang sudah ada diperluas dan dipercepat.
PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.Stiell menyoroti fakta bahwa investasi energi bersih tahun lalu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil. Energi terbarukan juga telah melampaui batu bara sebagai sumber listrik terbesar.
Ia mengingatkan banyak pemimpin dunia berbicara soal keamanan. Namun, definisi keamanan sering kali terlalu sempit.
Menurutnya, kenaikan emisi gas rumah kaca memicu cuaca ekstrem. Dampaknya adalah kelaparan, perpindahan penduduk, dan konflik.
Tiga tahun terakhir tercatat sebagai tahun terpanas secara global. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.
Baca juga:
Stiell mendesak negara-negara untuk menepati kesepakatan COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, tahun 2023.
Dalam pertemuan itu, negara-negara sepakat untuk melipatgandakan kapasitas energi bersih hingga tiga kali lipat pada tahun 2030 dan bertransisi dari bahan bakar fosil.
Ia juga mendorong negara-negara paling ambisius untuk membentuk “coalitions of the willing” (koalisi negara yang bersedia). Koalisi ini diharapkan mempercepat aksi nyata.
"Kerja sama iklim adalah obat penawar bagi kekacauan dan paksaan yang terjadi saat ini, dan energi bersih adalah solusi yang jelas untuk biaya bahan bakar fosil yang terus meningkat, baik dari segi manusia maupun ekonomi," tutur Stiell.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya