Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi

Kompas.com, 16 Februari 2026, 21:13 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Plastik fleksibel hasil daur ulang biasanya punya harga jauh lebih mahal dibandingkan plastik murni. Fakta ini dinilai bisa menghambat permintaan, yang pada gilirannya menghambat produksi.

Ditambah lagi, produsen dan pengguna kemasan umumnya kekurangan insentif regulasi untuk beralih ke pilihan yang berasal dari plastik dari hasil daur ulang atau yang dirancang agar dapat didaur ulang.

Baca juga:

Hal tersebut adalah peringatan dari Alliance to End Plastic Waste, organisasi nirlaba yang melacak dan mempromosikan upaya daur ulang plastik di dunia dengan melibatkan perusahaan di seluruh rantai nilai, dilansir dari Edie, Senin (16/2/2026).

Sebagai informasi, plastik fleksibel merupakan jenis plastik yang bersifat lentur, tipis, dan mudah dibentuk. Contohnya pembungkus makanan, kantong plastik, dan sachet.

Berbeda dengan plastik keras seperti botol soda (PET) yang relatif mudah didaur ulang, plastik fleksibel jauh lebih sulit ditangani secara teknis dan ekonomi.

Kondisi daur ulang plastik fleksibel

Proses daur ulang bisa jadi hambatan

Biaya produksi dan minimnya insentif regulasi sebagai penghambat utama pertumbuhan daur ulang plastik fleksibel.freepik Biaya produksi dan minimnya insentif regulasi sebagai penghambat utama pertumbuhan daur ulang plastik fleksibel.

Laporan terbaru dari Alliance to End Plastic Waste membahas keadaan terkini daur ulang plastik fleksibel di Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat.

Lebih dari setengah dari semua kemasan plastik yang didistribusikan di wilayah tersebut merupakan plastik fleksibel. Volume yang didistribusikan diperkirakan akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang untuk memenuhi permintaan konsumen.

Namun, plastik fleksibel sulit didaur ulang di pabrik pengolahan tradisional karena sifatnya yang ringan. Kontaminasi dan fakta bahwa banyak format mengandung lapisan bahan yang berbeda adalah faktor lain.

Investasi signifikan telah dilakukan dalam daur ulang kimia dan inovasi lainnya, serta perluasan jaringan titik pengambilan kembali untuk kemasan fleksibel. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Mengenai daur ulang kimia, Alliance to End Plastic Waste menyatakan bahwa teknologi ini sedang dikembangkan, tapi biaya produksinya yang lebih tinggi sehingga saat ini menghadapi ketidakpastian regulasi.

Laporan ini pun kemudian mengidentifikasi beberapa hambatan utama pertumbuhan industri daur ulang plastik fleksibel.

Hambatan tersebut, antara lain jaringan pengumpulan dan penyortiran yang tidak memadai, serta kurangnya permintaan untuk plastik fleksibel hasil daur ulang, terutama karena biaya yang tinggi dan persyaratan regulasi yang rendah.

Selain itu juga rendahnya minat investor karena risiko yang dianggap terlalu tinggi, kurangnya panduan desain untuk daur ulang, serta Skema Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (EPR) yang tidak memberikan imbalan berarti bagi kemasan yang efisien secara biaya untuk didaur ulang.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau