Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim

Kompas.com, 17 Februari 2026, 17:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti dalam studi barunya memperingatkan krisis iklim dapat memicu keruntuhan finansial global seiring kenaikan suhu melampaui 2 derajat C.

Sayangnya, pemerintah dan investor masih menggunakan model ekonomi yang terlalu optimis dan menganggap dampak iklim akan terjadi secara bertahap dan hanya akan mengurangi sedikit pertumbuhan ekonomi, padahal kenyataannya bisa menghancurkan seluruh sektor industri.

Melansir Independent, Kamis (5/2/2026) analisis menemukan bahwa seiring meningkatnya pemanasan global, kerusakan iklim lebih mungkin datang melalui cuaca ekstrem, gangguan yang merembet, dan titik kritis, alih-alih melalui perubahan yang lambat dan dapat dikelola terhadap pertumbuhan ekonomi.

Risiko-risiko tersebut, menurut para peneliti sebagian besar tidak ada dalam perangkat yang digunakan untuk memandu kebijakan publik dan keputusan investasi.

Baca juga: UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim

Penelitian yang dipimpin oleh Universitas Exeter di Inggris dan bekerja sama dengan lembaga think tank Carbon Tracker ini berdasarkan pada lebih dari 60 ilmuwan iklim di 12 negara.

Dampak iklim terhadap pertumbuhan ekonomi

Peneliti dalam studinya menyimpulkan, di atas kenaikan suhu 2 derajat C, kerusakan iklim kemungkinan akan menjadi struktural dan berlipat ganda, mengganggu berbagai sektor sekaligus dan mengancam kondisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi.

Ambang batas 2 derajat C dari Perjanjian Paris mengacu pada kenaikan 2 derajat C di atas suhu pra-industri, suatu tingkat yang menurut para ilmuwan akan secara tajam meningkatkan risiko cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem yang tidak dapat dipulihkan, dan gangguan ekonomi.

"Jika suhu Bumi naik lebih dari 2 derajat C, kita tidak lagi berurusan dengan penyesuaian ekonomi yang bisa dikelola," kata Jesse Abrams, penulis utama laporan.

Abrams menjelaskan pula para ilmuwan iklim yang disurvei mengungkapkan dengan jelas bahwa model ekonomi saat ini secara sistematis meremehkan kerusakan iklim.

Pasalnya, model iklim tidak dapat menangkap hal yang paling krusial yaitu kegagalan yang beruntun, efek ambang batas, dan guncangan yang berlipat ganda yang mendefinisikan risiko iklim di dunia yang lebih panas.

Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa ukuran yang umum digunakan seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dapat menyembunyikan biaya nyata dari kerusakan iklim.

PDB dapat meningkat setelah terjadinya bencana karena adanya pengeluaran untuk rekonstruksi, bahkan ketika angka kematian, gangguan kesehatan, ketimpangan, hilangnya ekosistem, dan kekacauan sosial meningkat. Hal ini dapat membuat para pembuat kebijakan dan investor terjebak dalam rasa ketangguhan yang semu.

Mark Campanale, pendiri dan kepala eksekutif Carbon Tracker, mengatakan pemodelan yang cacat itu pun akhirnya mendorong sikap puas diri serta meremehkan risiko iklim.

Lebih lanjut, alih-alih mengejar prediksi yang presisi, laporan pun mendesak para regulator dan bank sentral untuk fokus dalam melindungi sistem keuangan dari dampak yang menyebabkan destabilisasi.

Laporan kemudian menyerukan penekanan yang lebih besar pada skenario ekstrem, risiko yang berlipat ganda serta kerentanan sistemik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau