Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?

Kompas.com, 18 Februari 2026, 14:45 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perusahaan teknologi mengklaim kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) dapat membantu mencegah kerusakan iklim.

Berdasarkan analisis terhadap 154 pernyataan perusahaan teknologi, mayoritas klaim mencegah kerusakan iklim tersebut merujuk pada pembelajaran mesin (machine learning).

Baca juga:

Padahal chatbot dan alat pembuatan gambar yang boros energi mendorong pertumbuhan pesat pusat data di Amerika Serikat (AS), dengan menghabiskan banyak gas, dilansir dari The Guardian, Rabu (18/2/2026).

Laporan terbaru dari berbagai organisasi nirlaba, termasuk Beyond Fossil Fuels dan Climate Action Against Disinformation, tidak menemukan satu pun contoh AI dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Gemini milik Google atau Copilot dari Microsoft diniali tidak menurunkan emisi GRK yang berdampak terhadap pemanasan global secara material, terverifikasi, dan substansial.

Analis energi dan penulis laporan tersebut, Ketan Joshi, menyamakannya dengan perusahaan bahan bakar fosil yang mengiklankan investasi kecil mereka di panel surya dan melebih-lebihkan potensi penangkapan karbon.

"Teknologi-teknologi ini hanya menghindari sebagian kecil emisi dibandingkan dengan emisi besar dari bisnis inti mereka. Perusahaan teknologi besar mengambil pendekatan itu dan meningkatkan serta memperluasnya," ujar Joshi.

Klaim AI bantu cegah kerusakan iklim

Beda fungsi, beda pula konsumsi energinya

Pertumbuhan pusat data untuk AI generatif di AS memicu lonjakan konsumsi listrik dan PLTG baru. Benarkah klaim AI cegah krisis iklim?freepik Pertumbuhan pusat data untuk AI generatif di AS memicu lonjakan konsumsi listrik dan PLTG baru. Benarkah klaim AI cegah krisis iklim?

Data yang dianalisis berasal dari Badan Energi Internasional (IEA), serta perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka, seperti Google dan Microsoft.

Laporan IEA memaparkan potensi manfaat iklim dari AI tradisional, dengan pembagian hampir merata antara klaim yang didasarkan pada publikasi akademis, situs web perusahaan, dan yang tidak memiliki bukti.

Sementara itu, mayoritas klaim dari Google dan Microsoft disebut tidak mempunyai bukti. Google dan Microsoft mencampuradukkan kecerdasan buatan tradisional dengan AI generatif ketika mengklaim teknologi ini dapat membantu mencegah kerusakan iklim.

“Ketika kita berbicara tentang AI yang relatif buruk bagi planet ini, sebagian besar adalah AI generatif dan model bahasa yang besar. Ketika kita berbicara tentang AI yang 'baik' untuk planet ini, yang sering kita maksud adalah model prediktif, model ekstraktif, atau model AI jadul," ujar Kepala bidang AI dan iklim di Hugging Face, Sasha Luccioni, yang tidak terlibat dalam penyusunan laporan itu.

Laporan tersebut menemukan bahwa klaim ramah lingkungan, bahkan untuk AI tradisional, cenderung bergantung pada bentuk bukti yang lemah yang belum diverifikasi secara independen.

Hanya 26 persen dari klaim ramah lingkungan yang diteliti mengutip penelitian akademis terpublikasi. Sementara itu, 36 persen tidak mengutip bukti sama sekali.

Salah satu contoh paling awal yang diidentifikasi dalam laporan tersebut adalah klaim yang tersebar luas bahwa AI dapat membantu mengurangi lima sampai 10 persen emisi gas rumah kaca (GRK) global pada tahun 2030.

Baru-baru ini, Google mengulang-ulang klaim dari keterangan BCG, sebuah perusahaan konsultan, yang mengutip postingan blognya sendiri tahun 2021 lalu, dengan mengaitkan angka lima sampai enam persen dengan 'pengalaman mereka dengan klien'.

Menurut BloombergNEF, pusat data hanya mengonsumsi satu persen listrik dunia, meski pangsa konsumsi listriknya di AS diproyeksikan akan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 8,6 persen pada 2035.

IEA memperkirakan bahwa pusat data akan menyumbang setidaknya 20 persen dari pertumbuhan permintaan listrik negara-negara kaya hingga akhir dekade ini.

Baca juga:

Pertumbuhan pusat data untuk AI generatif di AS memicu lonjakan konsumsi listrik dan PLTG baru. Benarkah klaim AI cegah krisis iklim?SHUTTERSTOCK Pertumbuhan pusat data untuk AI generatif di AS memicu lonjakan konsumsi listrik dan PLTG baru. Benarkah klaim AI cegah krisis iklim?

Konsumsi energi untuk kueri teks sederhana ke model bahasa besar, seperti ChatGPT, kemungkinan hanya sebesar nyala lampu selama satu menit.

Namun, konsumsi energi meningkat secara signifikan untuk fungsi yang kompleks, seperti pembuatan video dan riset mendalam. 

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa peneliti energi terkait kecepatan maupun skala pertumbuhannya.

“Perkiraan pengurangan emisi kami didasarkan pada proses pembuktian yang kuat yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia, dan kami telah secara transparan membagikan prinsip dan metodologi yang memandu hal tersebut," ujar seorang juru bicara Google.

Joshi mengangnggap wacana seputar manfaat AI terhadap iklim perlu dikembalikan ke kenyataan. "Kesalahpahaman dalam mengaitkan masalah besar dengan solusi kecil hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari kerugian yang sebenarnya dapat dicegah yang terjadi akibat perluasan pusat data tanpa batasan," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau