Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB

Kompas.com, 20 Februari 2026, 15:19 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wilayah Asia-Pasifik diperkirakan akan gagal mencapai 103 dari 117 target pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals atau SDG) yang terukur pada tahun 2030.

Kerusakan lingkungan muncul sebagai ancaman paling serius bagi kemajuan pembangunan di wilayah ini, dilansir dari Eco Business, Kamis (19/2/2026).

Baca juga:

Mmenurut Laporan Kemajuan SDG Asia dan Pasifik 2026 yang dirilis oleh ESCAP, komisi ekonomi dan sosial untuk wilayah Asia Pasifik di bawah PBB, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan melemahnya ekosistem air tawar tengah membalikkan kemajuan yang telah dicapai selama puluhan tahun serta mengungkap kerentanan struktural yang mendalam.

Adapun SDG adalah 17 target global yang disepakati oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015 untuk menghapus kemiskinan, melindungi planet bumi, dan meningkatkan kesejahteraan pada tahun 2030.

Target-target ini mencakup isu-isu seperti kesehatan, pendidikan, kesenjangan, energi bersih, dan aksi iklim, serta digunakan untuk memantau kemajuan setiap negara menuju pembangunan yang berkelanjutan.

Asia Pasifik diprediksi gagal capai target SDG

Kemunduran target pembangunan

Wilayah Asia-Pasifik diperkirakan akan gagal mencapai 103 dari 117 target pembangunan berkelanjutan (SDG) tahun 2030.PBB via WIKIMEDIA COMMONS Wilayah Asia-Pasifik diperkirakan akan gagal mencapai 103 dari 117 target pembangunan berkelanjutan (SDG) tahun 2030.

ESCAP memperingatkan bahwa kemajuan dalam aksi iklim (SDG 13), pelestarian laut (SDG 14), dan keanekaragaman hayati (SDG 15) justru mengalami kemunduran pesat.

Sementara itu, ketahanan kota semakin melemah, di mana kerusakan berulang pada infrastruktur penting menunjukkan adanya jurang yang lebar antara rencana iklim dengan kesiapan nyata di lapangan.

Transisi energi di wilayah Asia Pasifik juga sedang tersendat meskipun akses masyarakat terhadap listrik meningkat pesat, porsi energi terbarukan dalam bauran energi justru menurun.

PBB menyebut tren ini benar-benar tidak sejalan dengan besarnya risiko iklim yang dihadapi Asia-Pasifik.

Lingkungan yang rusak memicu lebih banyak bencana, yang tidak hanya merusak alam tapi juga memakan korban serta menghancurkan harta benda. Kondisi itu semakin membahayakan kemajuan dalam pengurangan kemiskinan di wilayah Asia Pasifik.

PBB pun menekankan kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Armida Salsiah Alisjahbana, Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif ESCAP, mengatakan, temuan tersebut menunjukkan bahwa model pertumbuhan di kawasan ini tidak lagi sesuai dengan tujuan.

“Mesin-mesin pertumbuhan yang dulu mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan dan mendorong industri menjadi maju pesat, sekarang justru merusak masa depan kita sendiri,” ujar dia. 

Tekanan lingkungan juga merusak kemajuan dalam sistem pangan.

Meski angka kurang gizi telah menurun dan ketahanan pangan jangka panjang sudah membaik, tapi kemunduran dalam pertanian berkelanjutan, seperti hilangnya ras ternak tradisional dan lambatnya penggunaan cara bertani yang tahan iklim, saat ini mengancam pencapaian tersebut.

ESCAP menyatakan bahwa wilayah tersebut harus segera meningkatkan investasi di bidang pertanian yang berkelanjutan dan cerdas iklim.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau