"Ketika saya telusuri investigasi dengan beberapa teman-teman yang memang sudah bekerja sama dengan perusahaan itu, perusahaan takut nanti, ilmuwan seperti NGO-NGO (organisasi nirlaba) lainnya, nanti menemukan satu hal gitu nanti diberitakan aneh-aneh gitu. Nah, itulah yang terjadi gitu," tambah dia.
Semestinya, perusahaan jujur jika sudah menjalankan program ESG dan membanggakannya.
Namun, kenyataanya, Stella tidak diperbolehkan menyaksikan koridor orang utan di wilayah konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Imbasnya, ada atau tidaknya praktik greenwashing menjadi samar-samar. Ia menganggap ketakutan perusahaan justru berpotensi dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan berani membuka data ESG-nya.
"Itu bukan defensi, itu menampilkan secara fakta, bukan defensif. Bicara dengan edukasi. Nanti, untuk narasinya bukan defensif, tapi untuk mengedukasi gitu supaya tidak terlihat bahwa si perusahaan itu defensif terhadap isu yang beredar," ucap Stella.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya