Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dana Iklim Dunia Melimpah, tapi Belum Menjangkau Kelompok Rentan

Kompas.com, 23 Februari 2026, 09:17 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Pengeluaran global untuk iklim dinilai meningkat. Pemerintah, bank, dan investor swasta menggelontorkan miliaran dollar Amerika Serikat (AS) ke energi bersih, kendaraan listrik, dan teknologi pengurangan karbon.

Momentum tersebut mungkin tampak seperti kemajuan. Namun, jika dilihat lebih dekat, muncul kesenjangan yang mengkhawatirkan.

Baca juga:

Pasalnya, hanya 7,4 persen dari pendanaan iklim global yang dialokasikan untuk membantu masyarakat beradaptasi seiring peningkatan suhu, banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan laut, dilansir dari Earth, Senin (23/2/2026).

Ketimpangan itu membuat banyak negara rentan. Selain itu, hal ini juga menimbulkan pertanyaan yang lebih mendalam: Jika pendanaan iklim meningkat, mengapa kemampuan untuk bertahan tidak ikut berkembang secepat itu?

Danna iklim belum menjangkau kelompok rentan

Ke mana dana iklim mengalir?

Studi mengungkap sebagian besar dana iklim global mengalir ke energi bersih dan pengurangan emisi, sedangkan perlindungan warga belum cukup.SHUTTERSTOCK Studi mengungkap sebagian besar dana iklim global mengalir ke energi bersih dan pengurangan emisi, sedangkan perlindungan warga belum cukup.

Dalam catatan anggaran iklim dunia, terlihat ketimpangan yang sangat jelas yakni sebagian besar dana mengalir untuk memangkas emisi, sedangkan anggaran untuk perlindungan warga lokal hanya mendapat porsi kecil.

Melacak pola-pola tersebut, Dr. Subrata Gorain dari Universitas Visva-Bharati di India menunjukkan bagaimana cara kerja keuangan, pilihan teknologi, dan sistem pemerintahan saling memengaruhi apakah bantuan perlindungan tersebut benar-benar sampai ke tangan masyarakat atau tidak.

Studi menunjukkan bahwa, meskipun total dana iklim melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, dukungan untuk adaptasi masyarakat masih tertinggal jauh di belakang dana mitigasi alias pengurangan emisi.

Ketimpangan ini mengungkap adanya kesalahan struktur dalam cara aksi iklim didanai, yang memicu penyelidikan lebih dalam tentang mengapa uang, teknologi, dan sistem pemerintahan sangat sering gagal bekerja sama.

Dalam negosiasi PBB, dana iklim adalah uang dari pemerintah, bank, dan investor swasta yang digunakan untuk mengurangi polusi dan membantu masyarakat menghadapi dampak kerusakan iklim.

Namun, sebagian besar uang itu masih mengalir ke proyek pengurangan emisi sepeti ladang tenaga surya atau kincir angin.

Baca juga: 

Proyek energi bersih lebih menguntungkan

Studi mengungkap sebagian besar dana iklim global mengalir ke energi bersih dan pengurangan emisi, sedangkan perlindungan warga belum cukup.Dok. SHUTTERSTOCK Studi mengungkap sebagian besar dana iklim global mengalir ke energi bersih dan pengurangan emisi, sedangkan perlindungan warga belum cukup.

Hal tersebut terjadi karena proyek energi bersih dinilai cenderung memberikan keuntungan finansial yang pasti sehingga lebih menarik bagi investor.

Sementara itu, proyek-proyek untuk adaptasi iklim, seperti perencanaan kekeringan dan sistem kesehatan, dinilai tidak menghasilkan keuntungan atau jarang menghasilkan keuntungan finansial yang cepat.

Ketika pendanaan iklim sangat bergantung pada pinjaman, pemimpin negara mungkin memprioritaskan proyek-proyek yang menghasilkan pendapatan, meskipun kebutuhan yang lebih besar adalah keselamatan publik.

Padahal, seiring meningkatnya bahaya iklim, perlindungan yang lemah dapat mengubah satu bencana menjadi hilangnya pendapatan selama bertahun-tahun, pengungsian, dan meningkatkan utang publik.

Berdasarkan Perjanjian Paris, negara-negara sepakat untuk mengarahkan aliran dana demi pembangunan yang rendah polusi dan tahan terhadap dampak iklim.

Namun, meski dana tersebut sudah tumbuh pesat sejak 2018, laporan terbaru dari Global Landscape of Climate Finance memperkirakan bahwa anggaran tahunan masih harus naik sekitar lima kali lipat agar target dunia bisa tercapai.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Agricultural Ecology and Environment.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau