Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Tisu dari Bambu Lebih Ramah Lingkungan?

Kompas.com, 23 Februari 2026, 12:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Tisu toilet yang terbuat dari bambu bisa menghasilkan lebih banyak emisi dibanding tisu toilet pada umumnya yang berbahan dasar kayu, di bawah kondisi manufaktur saat ini. Padahal selama ini tisu toilet dari bambu dianggap lebih ramah lingkungan.

Sebuah analisis menelusuri perjalanan tisu toilet, dari pabrik bubur kertas hingga pembuangannya, dan menghitung polusi iklim yang dihasilkan.

Baca juga: 

Melalui pelacakan tersebut, peneliti Naycari Forfora dari North Carolina State University (NC State), Amerika Serikat, menemukan bahwa sebagian besar polusi berasal dari bahan bakar pabrik dan listrik.

Forfora mencatat selisih emisi sekitar 226 kilogram polusi pemanasan iklim per ton antara tisu kayu dan tisu campuran bambu.

Dengan demikian, dalam praktiknya, label eco friendly (ramah lingkungan) atau Bamboo pada kemasan ternyata tidak menjamin produk tersebut lebih baik untuk bumi, dilansir dari Earth.com, Senin (23/2/2026).

Ada dua faktor kunci yang akhirnya menentukan apakah produk itu ramah lingkungan yaitu dari mana pabrik mendapatkan energi serta bagaimana mereka mengeringkan kertas tersebut.

Baca juga:

Tisu toilet dari bambu tak selamanya ramah lingkungan

Jejak karbon tisu bambu

Tisu toilet yang terbuat dari bambu bisa menghasilkan lebih banyak emisi dibanding tisu toilet pada umumnya. Kok bisa?SHUTTERSTOCK/FOTODUETS Tisu toilet yang terbuat dari bambu bisa menghasilkan lebih banyak emisi dibanding tisu toilet pada umumnya. Kok bisa?

Sebagian besar jejak karbon bambu berasal dari energi yang dibakar untuk memasak serat dan mengeringkan lembaran menjadi tisu yang lembut. Pabrik-pabrik di China menggunakan panas batu bara untuk listrik yang dipakai untuk pembuatan bubur kertas bambu.

Jarak pengiriman yang jauh ternyata juga idak seburuk yang dikira orang-orang. Sebab, polusi paling parah justru sudah terjadi di pabrik sebelum tisunya dikirim.

Jika pabriknya lebih hemat energi dan menggunakan listrik yang lebih ramah lingkungan, tisu bambu bisa jadi lebih baik.

Selama ini ada anggapan bahwa barang dari China itu buruk dan menghasilkan banyak emisi karena dikirim dari jauh. Namun, emisi dari kapal laut jauh lebih kecil dibandingkan polusi dari asap pabrik batu bara saat tisu dibuat

Dengan demikian, menurut para ahli, ramah atau tidaknya tisu bambu itu sangat bergantung pada di mana dan bagaimana tisu itu dibuat.

Jejak karbon tisu juga terjadi dalam proses yang lain. Untuk mendapatkan tisu yang lembut diperlukan proses pengeringan ekstra. Dalam analisis ini, tahap pengeringan tersebut ternyata jauh lebih berpengaruh terhadap lingkungan.

Metode through-air drying (TDA) yaitu cara mengeringkan dengan udara panas tanpa banyak sentuhan mesin ternyata memakan listrik jauh lebih banyak dibandingkan metode pengeringan drum yang biasa.

Bagi pembeli yang mencari tisu toilet paling lembut, beban bagi planet ini ternyata lebih banyak berasal dari energi yang digunakan pabrik, bukan dari jenis serat tanamannya apakah itu kayu atau bambu.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan tisu adalah dengan menggunakan kain lap atau handuk kecil yang bisa dipakai ulang.

Baca juga: China Capai Titik Balik Emisi Karbon Sebelum Waktunya

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Ekonom: Indonesia Punya Sumber Energi yang Beragam untuk Dukung Kemandirian Energi
Ekonom: Indonesia Punya Sumber Energi yang Beragam untuk Dukung Kemandirian Energi
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah
Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah
Pemerintah
Pakar: Populasi Kerbau di Indonesia Semakin Menurun di Tengah Mekanisasi Pertanian
Pakar: Populasi Kerbau di Indonesia Semakin Menurun di Tengah Mekanisasi Pertanian
Pemerintah
Ketika Industri Nikel Tumbuh Melampaui Kesiapan Infrastruktur
Ketika Industri Nikel Tumbuh Melampaui Kesiapan Infrastruktur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau