Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Eco-Anxiety, Saat Krisis Iklim Bikin Cemas

Kompas.com, 23 Februari 2026, 17:13 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pernah merasa cemas atau tidak nyaman akibat membaca informasi atau mengalami peristiwa yang dipicu perubahan iklim? Bisa jadi kamu mengalami eco-anxiety (kecemasan ekologis).

Kecemasan ekologis menggambarkan serangkaian respons emosional masyarakat terhadap antisipasi dan pengalaman terkait fenomena cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim.

Baca juga:

Mengenal eco-anxiety, cemas akibat perubahan iklim

Konsep kecemasan ekologis pertama kali diperkenalkan filsuf lingkungan, Glenn Albrecht pada 2007. 

Sekitar 10 tahun kemudian, Asosiasi Psikologi Amerika (APA) secara resmi mendefinisikan kecemasan ekologis sebagai sebagai ketakutan kronis terhadap degradasi lingkungan.

Kecemasan ekologis dapat dicirikan oleh variabilitas emosional, yang pada gilirannya bermanifestasi melalui berbagai bentuk gejala psikologis, misalnya kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, kemarahan, atau rasa bersalah.

Namun, kecemasan ekologis juga bisa bermanifestasi melalui berbagai bentuk gejala fisiologis atau perubahan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari individu, di antaranya perubahan pola tidur, kehilangan nafsu makan, pencarian informasi terus-menerus tentang krisis iklim, atau penurunan prestasi akademik dalam kasus anak muda.

"Dampak degradasi lingkungan terhadap kesehatan mental harus dipertimbangkan pada tiga tingkatan. Salah satunya berkaitan dengan konsekuensi langsung dari fenomena iklim, dengan kata lain, ketika seseorang secara langsung mengalami situasi ini dan dalam hal ini, gejala seperti kecemasan, depresi, dan akhirnya, gangguan stres pasca-trauma dapat muncul," jelas psikolog Teresa Pereira, dilansir dari Euronews, Senin (23/2/2026).

Bahkan, gejalanya juga dapat dirasakan orang-orang yang tidak secara langsung terdampak cuaca ekstrem. Contohnya adalah petani yang lahan perkebunannya hancur akibat bencana hidrometeorologi.

BANJIR SUMATERA: Petugas Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh mengambil sampel kayu gelondongan yang terbawa arus luapan Sungai Tamiang, di area pasantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Kemenhut telah mengirim tim verifikasi dan membentuk tim investigasi gabungan bersama Polri untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ditemukan pascabencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Provinsi Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra BANJIR SUMATERA: Petugas Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh mengambil sampel kayu gelondongan yang terbawa arus luapan Sungai Tamiang, di area pasantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Kemenhut telah mengirim tim verifikasi dan membentuk tim investigasi gabungan bersama Polri untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ditemukan pascabencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Provinsi Aceh.

Menurut Pereira, kecemasan ekologis yang dialami korban biasanya masuk ke tingkat ketiga justru usai mengetahui informasi secara lebih mendalam, misalnya dari media, tentang fenomena cuaca ekstrem dan dampaknya.

Fakta bahwa dampak krisis iklim semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari akan menyebabkan pengalaman kecemasan ekologis kepada siapa pun, bahkan jika mereka belum pernah menyaksikan langsung fenomena cuaca ekstrem.

Menurut Pereira, wajar jika orang-orang menunjukkan serangkaian respons emosional dengan berbagai gejala kecemasan ekologis ketika dihadapkan dengan fenomena cuaca ekstrem.

Ia menggarisbawahi bahwa kecemasan ekologis bukanlah suatu patologis, meski secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari atau mengakibatkan "kelumpuhan" tertentu.

Pengidap kecemasan ekologis dapat mencari bantuan profesional untuk dukungan khusus, meskipun umumnya validasi dan dukungan dari komunitas, keluarga, guru, dan teman sebaya, yang dikombinasikan dengan berbagai strategi ampuh lain bisa menjadi lebih penting.

Oleh karena itu, Pereira mengimbau masyarakat untuk lebih berempati untuk mendorong validasi yang semakin besar terhadap emosi-emosi tersebut.

Di sisi lain, mereka diimbau mempromosikan literasi tentang krisis iklim, terutama dengan melibatkan lembaga pendidikan.

"Saat ini, dalam kurikulum sekolah, kita umumnya memiliki pendekatan yang sedikit lebih berfokus pada dimensi kognitif yaitu memahami apa itu krisis iklim. Tetapi penting juga untuk memasukkan dimensi afektif, untuk memahami bagaimana kita merasa terpengaruh dan bagaimana kita dapat lebih aktif terlibat dalam menanggapinya," tutur Pereira.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau