Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harapan Masyarakat Bukit Batu di Balik Proyek Hilirisasi Bauksit di Mempawah

Kompas.com, 23 Februari 2026, 18:39 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Perkuat struktur industri nasional

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara serentak melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi termasuk bauksit di 13 lokasi di Indonesia.

Total investasinya mencapai tujuh miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 117 triliun, Jumat (6/2/2026).

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menjelaskan, program hilirisasi dilakukan melalui pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah

"Groundbreaking di Mempawah menandai terciptanya rantai industri aluminium yang utuh di Indonesia. Fasilitas yang dibangun bukan hanya sarana produksi, tetapi ekosistem industri aluminium nasional yang terintegrasi, mencakup pasokan bahan baku, energi, infrastruktur, hingga pengembangan sumber daya manusia," papar Maroef dalam sambutannya, dikutip dari akun YouTube Danantara Indonesia.

Saat ini, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengoperasikan smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan kapasitas 275.000 ton per tahun. 

Kemudian kapasitas akan ditingkatkan menjadi 900.000- satu juta ton per tahun melalui pembangunan smelter aluminium kedua berkapasitas 600.000 ton per tahun.

Maroef memastikan, semua produksinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik.

Pengembangannya diperkuat melalui pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) fase kedua oleh PT Inalum dan PT Aneka Tambang (Antam) melalui PT Borneo Alumina Indonesia di lokasi yang sama dengan SGAR fase pertama dengan kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun.

"Dengan demikian, kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi dua juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sekitar enam juta ton per tahun yang dipasok dari wilayah izin usaha pertambangan Antam di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak," jelas dia.

Proyek hilirisasi diperkirakan dapat meningkatkan produk domestik bruto sekitar Rp 71,8 triliun per tahun, memperkuat penerimaan negara sekitar Rp 6,6 triliun per tahun, serta berpotensi menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional dan sektor pendukung.

"Hilirisasi dari bauksit hingga aluminium disebut mampu menghasilkan nilai tambah lebih dari 70 kali lipat, yang ke depan masih dapat ditingkatkan melalui pengembangan produk hilir lanjutan seperti komponen otomotif, aluminium ekstrusi, lembaran aluminium, hingga aplikasi untuk industri pertahanan dan aviasi," terang Maroef.

Proyeksi tersebut didasarkan pada harga bauksit mentah di kisaran 40 dollar AS (sekitar Rp 672.040) per metrik ton, lalu meningkat menjadi sekitar 400 dollar AS (sekitar Rp 6,72 juta) per metrik ton setelah diolah menjadi alumina.

Harganya kembali melonjak menjadi 2.800-3.000 dollar AS (Rp 47 juta-Rp 50,4 juta) per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.

Baca juga:

Langkah memperkuat hilirisasi tembaga dan bauksit

Sementara itu, Studi Center of Economic and Law Studies (Celios) berjudul Nexus Ambisi Nilai Tambah dan Tata Kelola Hilirisasi Tembaga Bauksit di Indonesia mengungkap sejumlah langkah bagi pemerintah untuk memperkuat hilirisasi tembaga dan bauksit.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan, usulan itu dimulai dari kebijakan, insentif, hingga kesejahteraan masyarakat lokal.

"Pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan hilirisasi tambang konsisten, tidak berubah-ubah, dan memiliki arah jangka panjang," ucap Bhima.

Celios juga mendorong perbaikan infrastruktur transportasi, kewajiban transfer teknologi dari investor asing, serta pelatihan tenaga kerja lokal agar tidak bergantung pada pekerja asing.

Evaluasi berkala proyek, pengetatan standar lingkungan, rehabilitasi lahan bekas tambang, dan peningkatan transparansi perizinan perlu dilakukan.

Kemudian, memperkuat pengawasan pembangunan smelter sekaligus mendorong industri hilir seperti kabel, elektronik, aluminium, dan bahan konstruksi di dalam negeri.

Celios juga menekankan integrasi proyek hilirisasi dengan pengembangan ekonomi daerah, serta pemberian prioritas bagi tenaga kerja dan UMKM lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau