Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia

Kompas.com, 25 Februari 2026, 22:20 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebutkan bahwa Indonesia berada pada urutan kelima sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia, berdasarkan data tahun 2024.

Sementara urutan pertama diduduki China lantaran memiliki penduduk terbanyak lalu disusul Amerika Serikat, India, dan Brasil. Indonesia juga menempati urutan ketiga dengan sampah laut tertinggi.

"India nomor satu, China nomor dua, Indonesia nomor tiga. Padahal Amerika nomor dua penghasil sampah total, tetapi untuk sampah plastik di laut Amerika berada di urutan ke-24, artinya kita jauh melampaui Amerika dalam hal membuang sampah plastik ke laut," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).

Baca juga: KLH Sepakati Fatwa MUI Haramkan Buang Sampah ke Sungai dan Laut

Ia turut menyoroti penumpukan sampah di taman nasional, salah satunya Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Bunaken, Sulawesi Utara, dan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Tito mengakui pemerintah daerah dan pemerintah pusat kerap kali saling lempar tanggung jawab terkait permasalahan sampah laut di lokasi konservasi tersebut.

"Di laut Bunaken, sampahnya banyak datang dari Manado lewat arus, sampah plastik ini terlihat seperti ubur-ubur bagi penyu dan ikan sehingga mereka memakannya dan mati. Sampah juga menutupi terumbu karang yang akhirnya mati, jika terumbu karang mati, ikan hilang, turis pun tidak mau datang lagi," jelas Tito.

"Walikota dan gubernur harus serius mengelola sampah di kota agar tidak berakhir di taman nasional," imbuh dia.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) timbulan sampah nasional tahun 2025 mencapai 24,8 juta ton.

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 20 juta ton sampah masuk ke perairan di Indonesia setiap tahunnya. Sekitar 16 juta ton limbah berasal dari lautan dan sisanya yakni 4 juta ton dari aktivitas laut sekitarnya.

Baca juga: TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?

Target 100 Persen Kelola Sampah

Pemerintah sendiri menargetkan pengelolaan sampah 100 persen pada 2029. Oleh sebab itu, kata Tito, pemerintah berencana membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energ=gy (WtE) di 34 kota/kabupaten.

Mendagri Tito Karnavian menjelaskan permasalahan sampah, Rabu (25/2/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Mendagri Tito Karnavian menjelaskan permasalahan sampah, Rabu (25/2/2026).

"Sekarang ada teknologi mengubah sampah menjadi energi, China sangat maju dalam hal ini. Kota-kota di China yang dulu kotor sekarang bersih seperti Beijing, Shanghai karena mereka membakar sampah menggunakan insinerator untuk menggerakkan turbin listrik," papar Tito.

Danantara Indonesia selaku pengelola menargetkan 1.000 ton sampah terkelola di fasilitas PSEL kota-kota besar. 

Empat wilayah aglomerasi yang siap memulai pembangunan PSEL pada Maret 2026 antara lain Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, dan Bekasi Raya. Di samping itu, masyarakat juga perlu memilah sampah dari rumah menggunakan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).

"Banyak daerah yang sudah melakukan ini, saya apresiasi Banyuwangi, Sumedang, Kebumen, dan salah satu desa di Sumbawa yang sudah (kelola sampah) berbasis hulu. Masyarakat memisahkan sampah organik dan non organik," ungkap dia.

Baca juga: 2026, Tak Ada Daerah yang Raih Adipura Kencana, Ratusan Lainnya Berstatus Kotor

Sampah non organik, lanjut Tito, dapat dimanfaatkan kembali untuk mendulang rezeki. Sementara sampah sisa makanan bisa dibudidayakan menjadi maggot untuk pakan ternak.

"Tahun ini saya mengalokasikan hampir Rp 1 triliun untuk Dana Insentif Daerah bagi daerah yang berprestasi dalam berbagai kategori termasuk penanganan stunting dan kebersihan. Daerah terbaik bisa mendapat Rp 2,5 hingga Rp 5 miliar," ujar Tito.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau