Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di London, Proses Daur Ulang Masih Stagnan meski Robot AI Bantu Sortir Sampah

Kompas.com, 26 Februari 2026, 08:21 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber BBC

KOMPAS.com - Mayoritas penyortiran sampah di fasilitas daur ulang Veolia di Southwark, London, Inggris, kini dilakukan secara otomatis dengan bantuan robot berbasis artificial intelligence (AI). Sisanya dikerjakan oleh pekerja yang terlatih memilah berbagai jenis limbah.

Fasilitas tersebut mampu memproses sekitar 100.000 ton sampah setiap tahun dan beroperasi 24 jam sehari selama lima hari dalam sepekan.

Meski teknologi semakin canggih, kecepatan daur ulang di London tetap bergantung pada partisipasi warga dalam memilah sampah dari rumah.

Salah satu pimpinan Veolia, Oliver Peat, mengatakan tidak ada “solusi ajaib” untuk meningkatkan angka daur ulang di ibu kota Inggris itu.

Baca juga: Bersama Siswa, Guru di Sekolah Ini Kembangkan Sistem untuk Olah 90.000 Kantong Sampah

“Jika Anda dapat memisahkan sampah makanan sebaik mungkin, itu adalah cara terbaik untuk hidup berkelanjutan dan benar-benar meningkatkan tingkat daur ulang di London,” ujar Peat, dikutip dari BBC, Rabu (25/2/2026).

Kontaminasi Jadi Masalah Serius

Peat menjelaskan, salah satu kendala terbesar adalah kontaminasi tempat sampah daur ulang. Banyak warga berniat baik dengan memasukkan berbagai barang ke dalam wadah daur ulang, padahal tidak semuanya bisa diproses ulang.

“Kami menemukan orang-orang yang ingin melakukan yang terbaik, tetapi mereka berpikir apa pun yang dimasukkan ke tempat sampah daur ulang dapat didaur ulang — padahal tidak demikian di London,” katanya.

Contoh paling berbahaya adalah baterai. Veolia mencatat satu insiden kebakaran setiap hari akibat baterai, terutama baterai lithium yang sulit dipadamkan. Peralatan elektronik atau barang berbaterai yang dibuang sembarangan dapat membahayakan fasilitas dan pekerja.

7 Juta Ton Sampah Setahun

Setiap tahun, sekitar 7 juta ton sampah dihasilkan dari rumah tangga, gedung publik, dan bisnis di London. Pengumpulan sampah menjadi tanggung jawab masing-masing dewan kota, yang memiliki sistem berbeda-beda.

Wali Kota London, Sadiq Khan, melalui strategi lingkungan yang dirilis pada 2018, menargetkan 50 persen sampah yang dikumpulkan dewan kota dapat didaur ulang pada 2025. Namun target tersebut tidak tercapai.

Tanpa sanksi atau insentif yang jelas, capaian antarwilayah pun sangat timpang. Data terbaru menunjukkan Bromley menjadi satu-satunya wilayah yang berhasil mendaur ulang lebih dari setengah sampah rumah tangga, yakni 50,9 persen pada 2023–2024. Sebaliknya, Tower Hamlets mencatat tingkat daur ulang terendah di Inggris pada periode yang sama, hanya 15,8 persen.

Secara keseluruhan, tingkat daur ulang London stagnan di sekitar 33 persen selama lebih dari satu dekade. Padahal, kota-kota lain seperti Bristol dan Manchester menunjukkan peningkatan signifikan.

Baca juga: Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI

Sistem Berbeda-Beda Bikin Warga Bingung

Anggota Partai Hijau di Majelis London, Caroline Russell, menilai London membutuhkan sistem daur ulang yang seragam. Ia mencontohkan Wales yang mampu mencapai tingkat daur ulang hingga 68 persen.

Menurut Russell, salah satu kunci keberhasilan Wales adalah konsistensi informasi kepada warga mengenai jenis sampah yang dapat dan tidak dapat didaur ulang.

“Setiap dewan kota di London memiliki cara berbeda untuk menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa didaur ulang,” ujarnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau