Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Keringat Bikin Warna Lukisan Michelangelo di Vatikan Memudar

Kompas.com, 1 Maret 2026, 10:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Lukisan bersejarah karya Michelangelo di dinding Kapel Sistina (Sistine Chapel), Vatikan, terdampak krisis iklim dan keringat pengunjung.

Bertajuk The Last Judgment, lukisan tersebut saat ini menjalani restorasi skala besar yang ditargetkan rampung sebelum Paskah.

Baca juga:

Proyek restorasi ini menjadi perawatan terbesar dalam lebih dari 30 tahun terakhir. Tujuannya untuk menghilangkan lapisan putih tipis yang menutupi permukaan lukisan.

Lapisan tersebut tidak terlihat jelas oleh mata telanjang. Namun, pihak Vatican Museums menyebut zat itu membuat warna asli karya menjadi redup. Warna-warna cerah yang dulu memukau saat ini tampak lebih kusam.

Direktur Vatican Museums, Barbara Jatta, menggambarkan lapisan putih itu seperti "katarak" pada mata.

Lapisan putih itu menutupi seluruh permukaan karya seluas 180 meter persegi. Padahal ukuran lukisan dinding ini mencapai hampir 14 meter, cukup besar dan mendominasi dinding altar Kapel Sistina.

Baca juga:

Lukisan Michelangelo di Vatikan terdampak krisis iklim

Disebabkan keringat pengunjung?

Interior Kapel Sistina di Vatikan. Krisis iklim dan keringat pengunjung berdampak pada lukisan The Last Judgment karya Michelangelo di Kapel Sistina, Vatikan.Wikimedia Commons Interior Kapel Sistina di Vatikan. Krisis iklim dan keringat pengunjung berdampak pada lukisan The Last Judgment karya Michelangelo di Kapel Sistina, Vatikan.

Proses pembersihan dilakukan dengan cara khusus. Tim restorasi menepuk permukaan lukisan menggunakan air suling yang diaplikasikan melalui lapisan kertas Jepang.

Metode ini dipakai untuk mengangkat zat yang teridentifikasi sebagai kalsium laktat.

Kepala penelitian ilmiah Vatican Museums, Fabio Morresi, menuturkan bahwa keringat pengunjung turut memengaruhi kondisi lukisan.

"Keringat (pengunjung) telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim. Akibat keringat, kita memproduksi asam laktat... yang berubah menjadi kalsium laktat,” kata Morresi, dilansir dari AFP, Minggu (1/3/2026).

Menurut Morresi, perbedaan tampilan lukisan sebelum dan sesudah perawatan seperti dua dunia yang berbeda. Proses tersebut, menurut dia, merupakan pengalaman emosional.

Ia merasa proyek ini sangat personal. Ia mulai bekerja pada 1988 saat restorasi besar terakhir dimulai dan saat ini ia mendekati masa pensiun.

Kapel Sistina tetap dibuka untuk pengunjung selama proses berlangsung, tapi lukisan tersebut terhalangi scaffolding berlapis reproduksi gambar karya aslinya. Langkah ini dilakukan agar pengunjung tetap bisa melihat representasi lukisan tersebut.

Vatican Museums juga sudah membatasi jumlah pengunjung dalam satu waktu. Sebab, Kapel Sistina memang selalu ramai. Selain sebagai tempat wisata, kapel ini jadi lokasi para kardinal menggelar konklaf tertutup untuk memilih paus baru.

Proyek restorasi saat ini disponsori oleh donor dari Amerika Serikat. Proyek ini juga menjadi bagian dari pembaruan besar Kapel Sistina yang dimulai sejak 2010.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau