Penulis
KOMPAS.com - Lukisan bersejarah karya Michelangelo di dinding Kapel Sistina (Sistine Chapel), Vatikan, terdampak krisis iklim dan keringat pengunjung.
Bertajuk The Last Judgment, lukisan tersebut saat ini menjalani restorasi skala besar yang ditargetkan rampung sebelum Paskah.
Baca juga:
Proyek restorasi ini menjadi perawatan terbesar dalam lebih dari 30 tahun terakhir. Tujuannya untuk menghilangkan lapisan putih tipis yang menutupi permukaan lukisan.
Lapisan tersebut tidak terlihat jelas oleh mata telanjang. Namun, pihak Vatican Museums menyebut zat itu membuat warna asli karya menjadi redup. Warna-warna cerah yang dulu memukau saat ini tampak lebih kusam.
Direktur Vatican Museums, Barbara Jatta, menggambarkan lapisan putih itu seperti "katarak" pada mata.
Lapisan putih itu menutupi seluruh permukaan karya seluas 180 meter persegi. Padahal ukuran lukisan dinding ini mencapai hampir 14 meter, cukup besar dan mendominasi dinding altar Kapel Sistina.
Baca juga:
Interior Kapel Sistina di Vatikan. Krisis iklim dan keringat pengunjung berdampak pada lukisan The Last Judgment karya Michelangelo di Kapel Sistina, Vatikan.Proses pembersihan dilakukan dengan cara khusus. Tim restorasi menepuk permukaan lukisan menggunakan air suling yang diaplikasikan melalui lapisan kertas Jepang.
Metode ini dipakai untuk mengangkat zat yang teridentifikasi sebagai kalsium laktat.
Kepala penelitian ilmiah Vatican Museums, Fabio Morresi, menuturkan bahwa keringat pengunjung turut memengaruhi kondisi lukisan.
"Keringat (pengunjung) telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim. Akibat keringat, kita memproduksi asam laktat... yang berubah menjadi kalsium laktat,” kata Morresi, dilansir dari AFP, Minggu (1/3/2026).
Menurut Morresi, perbedaan tampilan lukisan sebelum dan sesudah perawatan seperti dua dunia yang berbeda. Proses tersebut, menurut dia, merupakan pengalaman emosional.
Ia merasa proyek ini sangat personal. Ia mulai bekerja pada 1988 saat restorasi besar terakhir dimulai dan saat ini ia mendekati masa pensiun.
Kapel Sistina tetap dibuka untuk pengunjung selama proses berlangsung, tapi lukisan tersebut terhalangi scaffolding berlapis reproduksi gambar karya aslinya. Langkah ini dilakukan agar pengunjung tetap bisa melihat representasi lukisan tersebut.
Vatican Museums juga sudah membatasi jumlah pengunjung dalam satu waktu. Sebab, Kapel Sistina memang selalu ramai. Selain sebagai tempat wisata, kapel ini jadi lokasi para kardinal menggelar konklaf tertutup untuk memilih paus baru.
Proyek restorasi saat ini disponsori oleh donor dari Amerika Serikat. Proyek ini juga menjadi bagian dari pembaruan besar Kapel Sistina yang dimulai sejak 2010.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya