Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi

Kompas.com, 1 Maret 2026, 19:38 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - "Serangan" berbasis AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) generatif terhadap perusahaan saat ini sudah semakin marak terjadi. Sebaliknya, AI dapat pula berperan dalam krisis resiliensi, misalnya chatbot berbasis AI.

Saat ini, AI dianggap sebagai "pisau bermata dua" dalam manajemen komunikasi krisis.

Baca juga:

"Kalau bisa memakainya ya itu bermanfaat, tetapi kalau tidak bisa menggunakannya atau tidak sadar, maka akan sangat berbahaya. AI itu akselerator reputasi, antara memperkuat atau merusak," kata Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita dalam Navigasi ESG di Tengah Badai; Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan, Jumat (28/2/2026).

Dualitas peran AI dalam manajemen komunikasi krisis

AI saat ini sudah semakin pintar dapat menganalisis data real-time dengan cepat. Sebagai alat yang canggih, AI dapat dimanfaatkan untuk menyerang reputasi kompetitor.

"Tapi kita harus punya bingkai (untuk memanfaatkan AI dengan baik). Nah, yang mahal itu frame-nya, di situ peran manusianya. Dan, personalisasi komunikasi, tapi di sini ada potensi distorsi juga, karena bisa jadi pesan yang dikembangkan oleh si mesin itu tidak bisa menjawab atau tidak menghasilkan jawaban yang diharapkan, sehingga menimbulkan friksi," jelas Arya.

Komunikasi ESG

Serangan AI generatif makin marak menyerang perusahaan. Pakar menyebut AI bisa memperkuat atau merusak citra saat krisis.freepik Serangan AI generatif makin marak menyerang perusahaan. Pakar menyebut AI bisa memperkuat atau merusak citra saat krisis.

Transparansi environmental, social, and governance (ESG) tidak cukup dilakukan melalui laporan formal tahunan.

Terdapat tiga kunci komunikasi ESG di era media digital yaitu pesan berbasis informasi untuk meningkatkan kesadaran reputasi. Kemudian, pesan berbasis pembangunan komunitas untuk meningkatkan keberpihakan atau favorabilitas reputasi.

Selanjutnya, reputasi dibangun secara bertahap melalui interaksi komunikasi harian.

Reputasi sebaiknya dibangun untuk mempersiapkannya ketika suatu hari nanti menghadapi badai yang sangat sulit dipulihkan.

"Jadi, sejujurnya jangan pernah bersenang-senang dengan sudah mengerjakan laporan keberlanjutan," ucap Arya. 

Transparansi ESG dengan prosesnya yang dinamis dan berulang perlu diantisipasi potensi bahayanya. Untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas, kata dia, jangan pernah berbohong.

Menurut Arya, banyak media di Indonesia kredibel, yang bahkan membentuk kanal cek fakta untuk menginvestigasi apakah suatu isu benar atau hoaks. Berbagai media di Indonesia yang kredibel tentunya memiliki legitimasi moral.

"Misalnya, tiba-tiba dibilang ada, 'Oh BBM-nya Pertamina dioplos gitu ya, dicampur sama air gitu ya'. Nah, kami bilang (ke media-media itu kalau) ini hoaks. Kami buktikan, nah teman-teman media akan memverifikasi. Mereka juga enggak pasrah bongkokan percaya sama kami. Mereka juga punya kredibilitas yang harus dijaga," terang Arya.

"Nah, mereka cek, 'Oh ternyata benar (kalau hoaks)', karena ini maka kita harus mengkampanyekan itu bahwa berita yang campuran air itu adalah hoaks, itu terjadi secara inheren" tambah dia. 

Ia memperingatkan perusahaan untuk menghindari praktik mencatumkan "label hijau" yang menyesatkan demi citra ramah lingkungan atau greenwashing.

Ia menganggap, akar permasalahan dari greenwashing adalah klaim berlebihan (overclaim).

"Jadi kalau memang enggak nanam pohon, jangan bilang nanam pohon, nah bahasanya gitulah. Atau misalnya kalau memang ada emisi, jangan bilang enggak ada emisi. Tapi bagaimana caranya kita mengemas narasi itu, itulah kita perlu belajar terkait dengan salah satu tadi pelaporan keberlanjutan, ada standar GRI (Global Reporting Initiative), ada standar-standar metodologi yang bisa kita ikuti," terang Arya.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau