Penulis
KOMPAS.com - Brasil mendesak negara-negara di dunia untuk segera menyusun roadmap (peta jalan) transisi energi dan penghentian deforestasi.
Seruan ini muncul saat dunia bersiap menghadapi rangkaian perundingan iklim baru tahun ini, termasuk konferensi di Kolombia dan konferensi iklim COP31.
Baca juga:
Masyarakat adat berpartisipasi dalam pembukaan Desa COP selama KTT Iklim COP30 di Belem, Brasil, Selasa (11/11/2025).Tuan rumah KTT iklim PBB sebelumnya ini ingin memastikan isu bahan bakar fosil tidak kembali terpinggirkan. Dalam pertemuan iklim terakhir, isu ini sempat memicu perdebatan panjang.
Pada KTT COP30 yang digelar di kota Belem, Amazon, Brasil mendorong pembahasan serius soal transisi energi.
Namun, hasil akhir kesepakatan tidak menyebutkan secara eksplisit soal bahan bakar fosil. Penolakan datang dari produsen besar seperti Arab Saudi dan Rusia.
Sebagai jalan tengah, Presiden COP30, Andre Correa do Lago menawarkan inisiatif peta jalan sukarela bagi negara yang ingin berkomitmen meninggalkan bahan bakar fosil.
Correa do Lago menyatakan dirinya telah meminta badan iklim PBB untuk meneruskan undangan kepada negara dan organisasi agar mengirimkan proposal paling lambat akhir Maret 2026.
Ia mengakui inisiatif ini tidak berada dalam mandat resmi negosiasi COP, tapi ia menegaskan pentingnya langkah tersebut.
"Saya yakin sepenuhnya bahwa hal-hal ini harus ditangani secara inklusif, partisipatif, dan transparan, dan bahwa peta jalan ini dapat membantu kita mengidentifikasi opsi praktis untuk melaksanakan tujuan yang telah kita sepakati," kata Correa de Lago, dilansir dari AFP, Senin (2/3/2026).
Baca juga:
Tampilan muka Hotel COP30 di Kota Belem, Negara Bagian Para, Brasil, yang akan menjadi lokasi penginapan peserta konferensi iklim COP30 10-21 November 2025, saat difoto pada 25 Agustus 2025.Lebih dari 190 negara sebenarnya telah sepakat untuk bertransisi menjauh dari bahan bakar fosil dalam COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, pada tahun 2023. Namun, setelah kesepakatan tersebut, kemajuan dinilai masih minim.
Bahan bakar fosil masih menjadi penyumbang utama krisis iklim global. Emisi dari batu bara, minyak, dan gas terus meningkatkan suhu bumi. Dampaknya terasa dalam bentuk cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan.
Brasil saat ini mendorong negara-negara untuk mengidentifikasi hambatan utama dalam transisi energi. Hambatan itu bisa berupa faktor ekonomi, keuangan, dan teknologi.
Selain itu, Brasil juga meminta negara menyusun langkah konkret untuk menghentikan deforestasi.
Kolombia dijadwalkan menjadi tuan rumah konferensi internasional pada April 2026 yang berfokus pada upaya meninggalkan bahan bakar fosil. Pertemuan ini diharapkan memberi dorongan politik sebelum COP31 digelar.
Pada November 2026 mendatang, Turkiye akan menjadi tuan rumah COP31 dengan Australia memimpin jalannya negosiasi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya