KOMPAS.com - Persaingan pekerja global saat ini tidak hanya dengan sesama pekerja, tapi juga AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).
Menurut World Economic Forum (WEF), keterampilan bekerja saat ini sedang bergeser seiring berkembangnya AI yang membentuk kembali dunia kerja.
Baca juga:
Hampir 40 persen keterampilan yang digunakan saat ini akan berubah pada tahun 2030. Selain itu, sebanyak 63 persen pemberi kerja menganggap kesenjangan keterampilan sebagai hambatan utama dalam proses transformasi bisnis.
"Orang-orang mendengar ini dan berpikir 40 persen pekerjaan akan hilang. Meskipun mungkin ada sebagian dari itu, kemungkinan besar perubahannya hanya pada aspek-aspek pekerjaan, mungkin tidak akan ada penghapusan profesi secara besar-besaran," kata penulis buku sekaligus profesor Colombia University, Dorie Clark dilansir dari Forbes, Senin (2/3/2026).
Sebanyak 40 persen keterampilan kerja akan berubah pada 2030 akibat AI. Simak daftar skill paling dibutuhkan.Clark menekankan pentingnya menjaga relevansi dan nilai diri di tengah perubahan, tanpa harus mengalami burnout atau kelelahan.
Ia lantas memperkenalkan konsep Recognized Expert Formula (Formula Pakar yang Diakui), yang terdiri dari tiga komponen utama yakni pembuatan konten, jaringan, serta pembuktian sosial.
Menurut Clark, pekerja perlu memublikasikan ide, membangun relasi, serta mengembangkan kredibilitas supaya tetap dianggap layak untuk didengarkan. Dia juga menyoroti pentingnya keterampilan interpersonal.
"Bekerja dengan AI adalah hal mendasar. Yang membedakan Anda adalah kepribadian yang ramah dan mudah bergaul kepribadian dan reputasi sebagai ahli akan lebih penting dari sebelumnya," tutur Clark.
Di sisi lain, pekerja disarankan untuk memperluas pilihan pekerjaan di tengah ketidakpastian dunia kerja.
Clark menilai jaringan dengan orang lain di industri yang berbeda akan sangat berguna untuk meningkatkan keterampilan.
Sebanyak 40 persen keterampilan kerja akan berubah pada 2030 akibat AI. Simak daftar skill paling dibutuhkan.Sejalan dengan itu, terdapat lima langkah yang dapat dilakukan pekerja agar tetap produktif tanpa burnout.
Pertama, bangunlah literasi AI dengan memahami kekuatan dan keterbatasannya tanpa harus menjadi ahli pemrograman. Kedua, investasilah pada soft skill, seperti komunikasi, kemampuan beradaptasi, penilaian, dan kolaborasi.
Ketiga, perdalam keahlian yang sudah dimiliki sekaligus menambah keterampilan baru yang relevan dengan peran saat ini.
Keempat, persiapkan diri melalui pelatihan ulang keterampilan guna menghadapi peran dan tanggung jawab baru akibat otomatisasi.
Kelima, ciptakan ritme belajar yang berkelanjutan lantaran kebiasaan kecil dan konsisten dinilai lebih efektif dibanding perubahan drastis.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya