Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?

Kompas.com, 4 Maret 2026, 18:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi yang dipublikasikan di Humanities & Social Sciences Communications mengungkapkan bahwa salon rambut bisa menjadi salah satu alat untuk memerangi perubahan iklim. Mengapa bisa begitu?

Menurut penelitian baru dari para akademisi dari Center for Climate Change and Social Transformations (CAST) Universitas Bath, serta Universitas Cardiff, Oxford, dan Southampton itu, salon rambut merupakan pusat kepercayaan, komunitas, dan tempat berbincang, di mana aksi peduli iklim dapat tumbuh dan tersebar luas.

Melansir Phys, Selasa (3/3/2026) penelitian tersebut menunjukkan bahwa penata rambut dapat memberikan pengaruh perilaku kepada pelanggan mengenai iklim dan keberlanjutan melalui percakapan sehari-hari.

Baca juga: Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan

Selain itu, pekerja tersebut juga bisa mendorong orang untuk memikirkan kembali kebiasaan ramah lingkungan mereka mulai dari cara mereka menggunakan air dan energi, hingga pilihan bank atau pola makan mereka.

"Penata rambut membangun kepercayaan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hubungan semacam itu sangat berharga ketika berbicara tentang perubahan iklim. Kami mendapati bahwa salon adalah ruang yang unik di mana pelanggan merasa aman, santai, dan terbuka terhadap gagasan baru," kata Dr. Sam Hampton dari CAST.

Obrolan Perubahan Iklim di Salon

Dalam studinya, tim peneliti melakukan wawancara mendalam dengan 30 pemilik dan direktur salon di Inggris mengenai interaksi mereka dengan pelanggan seputar iklim dan keberlanjutan.

Mereka juga menjalankan intervensi berskala nasional di 25 salon berkelanjutan dengan menggunakan 'Mirror Talkers' yaitu tips ramah lingkungan yang ditempelkan di cermin salon untuk memicu percakapan mengenai perawatan rambut yang berkelanjutan.

Denise Baden, Profesor Bisnis Berkelanjutan di Universitas Southampton mengungkapkan kebanyakan dari kita berpikir bahwa produk "hijau" adalah produk dengan kemasan yang bisa didaur ulang, padahal jejak karbon dari sampo sebenarnya sebagian besar berasal dari penggunaan air panas.

Jadi, pesan-pesan sederhana seperti "kebanyakan dari kita menggunakan terlalu banyak sampo dan terlalu sering keramas" sebenarnya dapat memicu percakapan mengenai bagaimana mengurangi frekuensi keramas dan menggunakan suhu air yang lebih rendah dapat menghemat waktu, uang, energi, air, serta lebih baik bagi kesehatan kulit dan kondisi rambut.

Percakapan yang sering dimulai dengan topik perawatan rambut itu kemudian bisa meluas ke penggunaan plastik, pilihan makanan, penggunaan energi dan transportasi, diet, dan banyak lagi.

Hasilnya, menurut studi, hampir 73 persen klien salon mengatakan mereka kemungkinan akan mengubah rutinitas perawatan rambut mereka setelah percakapan

Agen Perubahan Iklim

Peneliti berpendapat bahwa para profesional yang berinteraksi langsung dengan publik seperti penata rambut harus dilihat sebagai agen terdepan dalam upaya keterlibatan isu iklim.

"Kami percaya bahwa kecantikan tidak seharusnya mengorbankan bumi," ungkap Harriet Barber dari B Hairdressing.

Ia pun mengungkapkan bahwa salonnya menerapkan prinsip vegan, ramah lingkungan, dan menyediakan produk-produk etis.

Baca juga: Orang Tua Ingin Atasi Perubahan Iklim, Tapi Sulit Terapkan Gaya Hidup Minim Karbon

"Klien datang kepada kami bukan sekadar untuk mendapatkan gaya rambut yang menawan; mereka merasa terhubung dengan nilai-nilai kami dan percakapan yang kami bangun seputar keberlanjutan, gaya hidup hijau, bahkan cara menanam sayur sendiri. Ini lebih dari sekadar salon, ini adalah komunitas dengan visi yang sejalan," katanya lagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau