KOMPAS.com - Studi yang dipublikasikan di Humanities & Social Sciences Communications mengungkapkan bahwa salon rambut bisa menjadi salah satu alat untuk memerangi perubahan iklim. Mengapa bisa begitu?
Menurut penelitian baru dari para akademisi dari Center for Climate Change and Social Transformations (CAST) Universitas Bath, serta Universitas Cardiff, Oxford, dan Southampton itu, salon rambut merupakan pusat kepercayaan, komunitas, dan tempat berbincang, di mana aksi peduli iklim dapat tumbuh dan tersebar luas.
Melansir Phys, Selasa (3/3/2026) penelitian tersebut menunjukkan bahwa penata rambut dapat memberikan pengaruh perilaku kepada pelanggan mengenai iklim dan keberlanjutan melalui percakapan sehari-hari.
Baca juga: Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Selain itu, pekerja tersebut juga bisa mendorong orang untuk memikirkan kembali kebiasaan ramah lingkungan mereka mulai dari cara mereka menggunakan air dan energi, hingga pilihan bank atau pola makan mereka.
"Penata rambut membangun kepercayaan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hubungan semacam itu sangat berharga ketika berbicara tentang perubahan iklim. Kami mendapati bahwa salon adalah ruang yang unik di mana pelanggan merasa aman, santai, dan terbuka terhadap gagasan baru," kata Dr. Sam Hampton dari CAST.
Dalam studinya, tim peneliti melakukan wawancara mendalam dengan 30 pemilik dan direktur salon di Inggris mengenai interaksi mereka dengan pelanggan seputar iklim dan keberlanjutan.
Mereka juga menjalankan intervensi berskala nasional di 25 salon berkelanjutan dengan menggunakan 'Mirror Talkers' yaitu tips ramah lingkungan yang ditempelkan di cermin salon untuk memicu percakapan mengenai perawatan rambut yang berkelanjutan.
Denise Baden, Profesor Bisnis Berkelanjutan di Universitas Southampton mengungkapkan kebanyakan dari kita berpikir bahwa produk "hijau" adalah produk dengan kemasan yang bisa didaur ulang, padahal jejak karbon dari sampo sebenarnya sebagian besar berasal dari penggunaan air panas.
Jadi, pesan-pesan sederhana seperti "kebanyakan dari kita menggunakan terlalu banyak sampo dan terlalu sering keramas" sebenarnya dapat memicu percakapan mengenai bagaimana mengurangi frekuensi keramas dan menggunakan suhu air yang lebih rendah dapat menghemat waktu, uang, energi, air, serta lebih baik bagi kesehatan kulit dan kondisi rambut.
Percakapan yang sering dimulai dengan topik perawatan rambut itu kemudian bisa meluas ke penggunaan plastik, pilihan makanan, penggunaan energi dan transportasi, diet, dan banyak lagi.
Hasilnya, menurut studi, hampir 73 persen klien salon mengatakan mereka kemungkinan akan mengubah rutinitas perawatan rambut mereka setelah percakapan
Peneliti berpendapat bahwa para profesional yang berinteraksi langsung dengan publik seperti penata rambut harus dilihat sebagai agen terdepan dalam upaya keterlibatan isu iklim.
"Kami percaya bahwa kecantikan tidak seharusnya mengorbankan bumi," ungkap Harriet Barber dari B Hairdressing.
Ia pun mengungkapkan bahwa salonnya menerapkan prinsip vegan, ramah lingkungan, dan menyediakan produk-produk etis.
Baca juga: Orang Tua Ingin Atasi Perubahan Iklim, Tapi Sulit Terapkan Gaya Hidup Minim Karbon
"Klien datang kepada kami bukan sekadar untuk mendapatkan gaya rambut yang menawan; mereka merasa terhubung dengan nilai-nilai kami dan percakapan yang kami bangun seputar keberlanjutan, gaya hidup hijau, bahkan cara menanam sayur sendiri. Ini lebih dari sekadar salon, ini adalah komunitas dengan visi yang sejalan," katanya lagi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya