Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang

Kompas.com, 4 Maret 2026, 20:18 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Industri konstruksi disebut termasuk penyumbang polusi terbesar karena menghasilkan banyak gas karbon dioksida. Selain itu, bahan bangunannya juga menggunakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui, seperti pasir dan kerikil.

Oleh karena itu, mencari bahan pengganti yang lebih ramah lingkungan menjadi hal yang sangat mendesak, apalagi kebutuhan pembangunan terus meningkat.

Baca juga: 

Industri konstruksi pun saat ini terus mencoba membuat bahan bangunan yang rendah emisi karbon. Berbagai cara ditempuh seperti misalnya dengan memanfaatkan limbah dari industri lain untuk menggantikan bahan bangunan biasa, dilansir dari TechXplore, Rabu (4/3/2026).

Dengan begitu, industri konstruksi bisa lebih ramah lingkungan, sekaligus membantu menyelesaikan masalah penumpukan limbah di industri lain.

Paving block berkelanjutan

Gunakan limbah kerang air asin yang dijual komersial

Sekolah Politeknik Tinggi Belmez (EPSB) di Univerity in Córdoba, Spanyol, baru-baru ini berhasil mengembangkan paving block yang menggunakan material daur ulang.

Untuk agregat yang digunakan dalam mortar dan beton, tim tersebut menggantinya dengan material yang berasal dari limbah yang sama sekali tidak memiliki nilai industri yaitu cangkang moluska.

Secara spesifik, mereka menggunakan cangkang dari spesies Acanthocardia tuberculata, sejenis kerang air asin yang dapat dikonsumsi dan dijual secara komersial dalam bentuk kalengan.

"Industri pengalengan menghasilkan berton-ton limbah ini, yang akhirnya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA)," jelas peneliti di Departemen Kimia Anorganik sekaligus penulis utama studi tersebut, Ágata González Caro

Penelitian ini mengusulkan cara untuk menemukan nilai komersial bagi limbah dari sektor tersebut, sekaligus mengatasi salah satu tantangan yang dihadapi industri konstruksi.

Caranya dengan menghancurkan cangkang moluska ini untuk menghasilkan agregat berkapur yang mampu menggantikan agregat alami dalam mortar dan beton.

Adapun penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Materials and Structures.

Baca juga:

Manfaatkan limbah tambang

Ilustrasi Acanthocardia tuberculata yang bisa dijadikan bahan paving block ramah lingkungan. Peneliti di Spanyol kembangkan paving block dari limbah cangkang kerang dan tambang. Inovasi ini bantu kurangi emisi karbon industri konstruksi.Dok. Wikimedia Commons/Holger Krisp Ilustrasi Acanthocardia tuberculata yang bisa dijadikan bahan paving block ramah lingkungan. Peneliti di Spanyol kembangkan paving block dari limbah cangkang kerang dan tambang. Inovasi ini bantu kurangi emisi karbon industri konstruksi.

Selain mengganti agregat dengan agregat yang terbuat dari cangkang moluska, peneliti juga berupaya mengganti komponen lainnya untuk menciptakan paving block yang seluruhnya terbuat dari bahan daur ulang.

Untuk mengganti semen guna menghindari biaya produksi yang mahal bagi lingkungan, digunakanlah limbah dari tumpukan tailing (sisa tambang) yang ditemukan di tambang Lembah Guadiato, Spanyol.

Peneliti juga menggunakan fly ash, yang akhirnya memberikan kehidupan kedua dari residu tersebut.

Saat melalui proses yang disebut aktivasi alkali yaitu melalui kontak dengan larutan yang sangat basa dengan pH yang sangat tinggi, terjadi transformasi yang menghasilkan senyawa baru yang sangat mirip dengan senyawa semen.

Hasilnya adalah paving block tahan lama yang memenuhi kriteria mekanis, daya tahan, dan keamanan sesuai ketentuan dengan menggunakan sisa dan limbah industri lain.

Hasil ini menjadi kontribusi bagi ekonomi sirkular dan dekarbonisasi di salah satu sektor yang paling dikenal karena potensi polusinya.

Kendati demikian, temuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalisasi aspek-aspek seperti pemadatan dan pelepasan dari cetakan, serta mengeksplorasi aktivator yang lebih ramah lingkungan dan cara-cara lain untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia konvensional.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau