Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular

Kompas.com, 18 Maret 2026, 19:14 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sekitar 4,9 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal pada 2024. Laporan itu menyebut, 2,3 juta di antaranya merupakan bayi baru lahir.

PBB menyoroti bahwa sebagian besar kematian itu dapat dicegah dengan intervensi berbiaya rendah serta akses ke layanan kesehatan berkualitas.

“Tidak seharusnya ada anak yang meninggal karena penyakit yang kita tahu cara mencegahnya. Tetapi kami melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa kelangsungan hidup anak melambat, dan saat kami melihat pemotongan anggaran global,” ujar Direktur Eksekutif Unicef, Catherine Russell dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).

Baca juga: Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI

Kendati angka kematian anak di bawah lima tahun menurun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000, laju penurunannya justru melambat lebih dari 60 persen sedari 2015.

Lebih dari 100.000 anak berusia satu bulan hingga lima tahun meninggal akibat kekurangan gizi akut yang parah. Beberapa kasus tertinggi terjadi di Pakistan, Somalia, serta Sudan.

Para ahli memperingatkan, jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi lantaran kekurangan gizi melemahkan kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit lain. Sementara, banyak kasus tidak tercatat.

Penyakit menular turut menjadi faktor penyebab kematian anak. Sembilan infeksi utama menyumbang 43 persen dari kematian anak di bawah usia lima tahun secara global.

Baca juga: KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying

PBB melaporkan, satu bulan pertama kehidupan anak penyakit seperti malaria, diare, dan pneumonia terus menyebabkan kematian terutama di daerah dengan beban penyakit tinggi.

Wilayah tersebut antara lain Chad, Republik Demokratik Kongo, Niger, dan Nigeria di mana konflik, guncangan iklim, nyamuk invasif, resistensi obat, hingga ancaman biologis lainnya memengaruhi akses terhadap pencegahan maupun pengobatan.

"Kematian bayi baru lahir kini menyumbang hampir setengah dari seluruh angka kematian anak di bawah lima tahun, yang mencerminkan kemajuan yang lebih lambat dalam mencegah kematian di sekitar waktu kelahiran," kata PBB.

Komplikasi akibat kelahiran prematur dan komplikasi yang timbul selama persalinan merupakan penyebab utama, bersamaan dengan infeksi.

Anak-anak di Daerah Konflik Lebih Rentan

Wilayah Afrika Sub-Sahara menyumbang 58 persen dari seluruh kematian balita pada 2024, sementara Asia Selatan menyumbang 25 persen kasus. Anak-anak di lingkungan yang rentan dan dilanda konflik, disebut hampir tiga kali lebih mungkin meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka dibandingkan anak-anak di daerah lain.

Di tahun yang sama, sebanyak 2,1 juta anak-anak, remaja, dan dewasa muda berusia 5 hingga 24 tahun meninggal dunia. Meskipun penyakit menular dan cedera tetap menjadi penyebab utama kematian di kalangan anak-anak yang lebih muda, risiko bergeser pada masa remaja.

Tindakan melukai diri sendiri menjadi penyebab utama kematian di kalangan perempuan berusia 15 hingga 19 tahun, lalu disusul cedera akibat kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan banyak laki-laki tewas.

Para pejabat PBB menyatakan pemangkasan pendanaan memberikan tekanan yang kian besar pada program-program kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak yang sangat penting.

Kepala Urusan Ekonomi dan Sosial PBB, Li Junhua, menilai temuan baru terkait kematian anak sebagai pengingat yang jelas bahwa banyak negara berada di luar jalur untuk mencapai target kelangsungan hidup anak di bawah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

“Kita tahu bagaimana mencegah kematian ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen politik yang diperbarui, investasi berkelanjutan dalam perawatan kesehatan primer, dan sistem data yang lebih kuat untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal,” sebut Li.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau