Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Greenwashing Bisa Jadi Kesalahan Strategi Komunikasi ESG, Mengapa?

Kompas.com, 23 Maret 2026, 17:29 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber BBC

KOMPAS.com - Greenwashing, praktik menciptakan kesan ramah lingkungan dengan tidak jujur, menjadi kesalahan strategi komunikasi Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance atau ESG) perusahaan paling fatal.

Dari aspek keuangan, isu governance washing dinilai membahayakan pemangku kepentingan, dengan risiko kerugian cukup besar.

Baca juga:

Namun, dampak environmental washing disebut jauh lebih parah daripada social washing dan governance washing. Sebab, tekanan pemangku kepentingan terhadap kinerja lingkungan perusahaaan memiliki porsi paling tinggi dibandingkan isu ESG lainnya.

Bahkan, pemangku kepentingan bisa memperberat tekanan terhadap perusahaan dengan kinerja lingkungan yang sudah bagus. Harapannya, perusahaan terus memperbaiki kinerja lingkungan yang sudah baik.

Greenwashing dan kesalahan komunikasi ESG perusahaan

Tekanan untuk "tampil lebih baik lagi"

Greenwashing menjadi kesalahan strategi komunikasi ESG perusahaan. Simak penjelasan pakar berikut ini.freepik Greenwashing menjadi kesalahan strategi komunikasi ESG perusahaan. Simak penjelasan pakar berikut ini.

Salah satu contoh yang bisa diperhatikan adalah kasus greenwashing perusahaan VW, yang sesungguhnya sudah mengupayakan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dari produksinya sebaik mungkin.

Menurut Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, keputusan perusahaan tersebut untuk melakukan praktik greenwashing demi terlihat memperbaiki kinerja lingkungannya adalah "tragedi" dalam dunia ESG.

"Itulah kenapa misalnya kasus VW itu sangat menggemparkan dunia otomotif. VW itu emisinya secara obyektif di antara yang paling kecil. Tetapi, mengapa perusahaan dengan emisi yang sudah di antara yang paling kecil kemudian masih menipu dengan menurunkan emisinya? Nah, itu karena ada tekanan untuk tampil lebih baik lagi," ucap jalal dalam webinar Navigasi ESG di Tengah Badai: Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan, Jumat (27/2/2026).

"Jadi, seperti apa mereka masih punya impostor syndrome (perasaan tidak layak atau tidak kompeten meski memiliki kualifikasi)," tambah dia.

Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, dalam webinar Navigasi ESG di Tengah Badai: Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan, pada Jumat (27/2/2026)..Kompas.com/Manda Firmansyah Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, dalam webinar Navigasi ESG di Tengah Badai: Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan, pada Jumat (27/2/2026)..

Dengan kinerja lingkungan relatif baik, perusahaan tersebut disebut masih merasa tertuntut untuk tampil semakin bagus, yang pada gilirannya memakai strategi komunikasi greenwashing sebagai jalan pintas. 

Perbaikan kinerja lingkungan perusahaan memang penting. Namun, Jalal memperingatkan perusahaan untuk tidak tergoda tampil lebih baik dibandingkan kinerja lingkungan yang sudah dicapai.

Ia menganggap, kasus greenwashing perusahaan otomotif tersebut menjadi pelajaran penting strategi komunikasi ESG.

"Perbaikan perilaku juga sama. Ketika mengomunikasikan perilaku jangan juga melampaui apa yang sudah benar-benar diraih. Jadi, jangan tampil lebih 'suci' dibandingkan dengan perilaku yang sebetulnya sudah ada di dalam perusahaan itu," tutur Jalal.

Sebagai informasi, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat (AS) pada September 2015 lalu mengungkapkan, banyak mobil VW yang dijual di negara tersebut dibekali perangkat lunak pada mesin diesel.

Perangkat tersebut bisa mendeteksi kapan sedang diuji emisi dan mengubah performanya untuk meningkatkan hasil, dilansir dari BBC, Senin (23/3/2026). 

‎Temuan EPA mencakup 482.000 mobil di AS saja. Namun, raksasa otomotif Jerman itu mengakui bahwa perangkat "penipu" emisi itu dipasang pada 11 juta mobil di seluruh dunia, termasuk delapan juta di Eropa.

VW memasang perangkat lunak tersebut untuk mendukung kampanye pemasaran yang mengklaim produk mobilnya rendah emisi.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau