Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak

Kompas.com, 26 Maret 2026, 12:31 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Gelombang panas di laut akibat perubahan iklim bisa memicu pemutihan terumbu karang. Namun, mengapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak, sedangkan yang lainnya mati?

Riset yang dipimpin Subhendu Chakraborty dari Leibniz Center for Tropical Marine Research (ZMT), Jerman, menemukan jawabannya yang diterbitkan di jurnal Journal of the Royal Society Interface.

Baca juga:

"Kami berpendapat, pemahaman komprehensif mengenai pemulihan karang setelah gangguan memerlukan pemeriksaan terperinci terhadap proses rekrutmen, khususnya ketergantungan kepadatan," tulis para peneliti, dilansir dari laman The Royal Society Publishing, Kamis (26/3/2026).

Adapun proses rekrutmen dalam hal ini adalah penambahan individu ke suatu populasi, misalnya dengan reproduksi atau cara lainnya. 

Mengapa ada terumbu karang yang cepat pulih?

Bergantung pada proses rekrutmen karang

Kenapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak dan ada yang mati? Simak hasil riset tentang pola rekrutmen karang selengkapnya. Dok. Wikimedia Commons/Ananda Ellis/NOAA Kenapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak dan ada yang mati? Simak hasil riset tentang pola rekrutmen karang selengkapnya.

Para peneliti fokus pada proses bernama rekrutmen karang, khususnya saat larva karang menempel di dasar laut. Larva ini kemudian tumbuh menjadi karang dewasa.

Studi ini menemukan bahwa kecepatan pemulihan sangat bergantung pada pola rekrutmen ini.

Setiap spesies karang punya sifat biologis yang berbeda, yang memengaruhi cara mereka menghasilkan keturunan baru.

Ada spesies yang bisa tumbuh cepat meski jumlah induknya sedikit, ada juga spesies yang butuh banyak induk agar bisa berkembang biak, dilansir dari Phys.org.

Saat ini, ekosistem laut menghadapi banyak tekanan berat, antara lain gelombang panas laut yang sangat ekstrem, polusi nutrisi yang berlebihan di air, dan serangan bintang laut mahkota duri yang cukup merusak.

Berdasarkan data Coral Reef Monitoring Network (GCRMN), sebanyak 84 persen terumbu karang dunia sudah mengalami stres akibat panas.

Baca juga:

Kenapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak dan ada yang mati? Simak hasil riset tentang pola rekrutmen karang selengkapnya. Dok. Wikimedia Commons/Brocken Inaglory Kenapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak dan ada yang mati? Simak hasil riset tentang pola rekrutmen karang selengkapnya.

Tim peneliti menggunakan model matematika untuk memecahkan pertanyaan ini. Mereka bekerja sama dengan tim dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, untuk mengamati persaingan antara karang dan alga makro.

Sering kali, jika karang mati, alga akan mengambil alih tempatnya. Chakraborty menuturkan, karang spesies Acropora ternyata punya daya tahan yang hebat.

Mereka bisa bangkit kembali walau hanya sedikit induk yang tersisa. Spesies ini sangat efektif dalam memenangkan persaingan melawan alga.

Namun, tidak semua karang sekuat itu karena banyak spesies lain yang langsung menyerah jika gangguan terlalu berat.

"Dengan kata lain, beberapa spesies lebih mudah menghasilkan anakan karang baru ketika hanya ada sedikit karang dewasa di sekitarnya, sedangkan spesies lain bergantung pada keberadaan banyak karang dewasa di lokasi tersebut," jelas Chakraborty.

Sementara itu, ekolog terumbu karang, Sonia Bejarano menyampaikan, pemulihan karang tidak hanya soal seberapa kuat gangguan yang datang. Sifat biologis dari spesies karang itulah yang sangat menentukan.

"Memilih spesies terumbu karang yang tepat dapat mempercepat upaya restorasi terumbu karang," lanjut Bejarano.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau