Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM

Kompas.com, 9 April 2026, 20:37 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia perlu segera beralih dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke energi listrik sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus mendorong kemandirian nasional.

Dalam pernyataannya, dia mengungkapkan bahwa pemerintah telah menetapkan program Listrifikasi dengan target kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW) dalam dua tahun ke depan.

"Saya sudah putuskan, akan kami jalankan program Listrifikasi 100 gigawatt, yang kami harapkan bisa dicapai dalam dua tahun. Nanti tidak boleh ada lagi pembangkit listrik menggunakan diesel, menggunakan solar, tidak," ungkap Prabowo dalam peresmian pabrik kendaraan komersial listrik PT VKTR Sakti Industries yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (9/4/2026).

Baca juga: Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi

Oleh karenanya, pemerintah bakal menutup 13 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik PT PLN (Persero). Prabowo menilai peralihan ke kendaraan listrik mampu menghemat konsumsi BBM hingga 200.000 barel per hari, atau sekitar 20 persen dari total impor yang saat ini mencapai 1 juta barel per hari.

"Dengan kita tutup PLTD, kita menghemat langsung 20 persen (BBM). Dan dengan nanti 100 gigawatt kita juga akan menghemat sangat-sangat besar, mungkin dua-tiga tahun lagi tidak perlu impor BBM sama sekali," jelas dia.

Selain sektor energi, pemerintah turut mendorong percepatan industrialisasi kendaraan listrik di dalam negeri. Prabowo menyebut Indonesia telah memiliki kemampuan memproduksi bus dan truk listrik dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang terus meningkat.

Baca juga: Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?

Dia lalu menargetkan Indonesia mampu memproduksi mobil sedan listrik secara massal pada 2028 mendatang. Pemerintah sedang menyiapkan pembentukan perusahaan untuk memproduksi sedan listrik tersebut.

Di sisi lain, Prabowo tak menampik bahwa saat ini berbagai negara merasa cemas akibat krisis energi di tengah konflik geopolitik Timur Tengah.

"Kita akan menghadapi tantangan berapa bulan yang akan datang, tetapi kita punya resources, kita punya sumber-sumber yang sangat kuat, sangat banyak. Walaupun bagaimana, kita harus hemat energi, walaupun bagaimana, kita harus sekarang menuju energi yang bersih, energi terbarukan," papar Prabowo.

Genjot Produksi Bus Listrik

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan PT VKTR Sakti Industries akan memproduksi 10.000 bus listrik dengan TKDN yang mencapai 40 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 60 persen dalam dua tahun ke depan.

Ia mengapresiasi inisiatif dunia usaha yang dinilai berperan penting dalam mendorong industrialisasi nasional.

"Ini sesuatu yang sangat membanggakan. Jadi sudah ada industri bus, industri truk, dan saya terima kasih Gubernur Jawa Tengah katanya Pemda Jawa Tengah sudah pesan berapa puluh bus, dari DKI juga sudah cukup banyak, Transjakarta," ucap Prabowo.

"Kami harapkan dari Pemerintah Provinsi lain juga akan membeli produk bangsa kita sendiri," imbuh dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau