Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik

Kompas.com, 11 April 2026, 15:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekitar 569,07 km atau 10,60 persen dari total panjang jalan di Kota Semarang berisiko tergenang banjir rob. Artinya, sekitar 11,46 persen volume lalu lintas harian di Semarang akan terdampak banjir rob.

Rata-rata jumlah kendaraan yang melintasi jalan padat atau estimasi total volume lalu lintas di Semarang mencapai 7.729.580 per hari.

Semarang mengalami penurunan muka tanah akibat pembangunan yang masif dan ekstraksi air tawar secara berlebihan. Sebagai kota di kawasan pesisir, Semarang juga terancam oleh kenaikan muka air laut akibat krisis iklim sehingga meningkatkan risiko banjir rob di Semarang pada masa mendatang.

Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat

"Belum lagi ketika nanti di musim hujan, air dari atas itu akan terhambat untuk dialirkan menuju ke laut, karena ketika terjadi banjir rob, air akan tetap terjebak di kawasan pesisir, sehingga akan mengancam banyak aktivitas, termasuk mobilitas perkotaan di Semarang," ujar Sustainable Mobility Analyst WRI Indonesia, Afrizal Ma'arif dalam webinar Mengelola Risiko Banjir; Politik Kebijakan, Tata Ruang, dan Adaptasi di Kota-Kota Pesisir di Indonesia, Rabu (8/4/2026).

Banjir rob melanda jaringan jalur utama dan jalan kecil di bagian utara Semarang, yang mengindikasikan sudah menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan infrastruktur serta mobilitas perkotaan.

Semarang Utara

Berdasarkan riset WRI pada 2025, segmen jalan dengan kerentanan sangat tinggi dan tinggi terkonsentrasi pada kawasan pesisi utara Semarang, terutama Kecamatan Tugu, Semarang Utara, Semarang Timur, Gayamsari, dan Genuk.

Terdapat sejumlah dampak banjir rob terhadap mobilitas perkotaan di Semarang. Pertama, banjir rob dengan ketinggian 10-50 cm memperlambat laju kendaraan dan menimbulkan kemacetan.

Kedua, waktu tempuh perjalanan meningkat sekitar 1-2 jam, atau bahkan bisa 2 kali lipat jika banjir rob sangat parah.

Ketiga, kendaraan kecil terpaksa memilih rute alternatif sejauh belasan kilometer demi menghindari jalan terdampak banjir rob. Kelima, angkutan umum Trans Semarang koridor 2,3A, 3B, 4, serta Feeder 2A, 2B, dan 2C terdampak banjir rob karena rute, halte, atau pool terendam.

"Ketika banjir rob menggenangi fasilitas-fasilitas tersebut, dilakukan beberapa penyesuaian, seperti pengalihan atau pemendekan rute, dan bahkan penghentian layanan sementara apabila banjir robnya itu cukup parah," tutur Afrizal.

Baca juga: Kenaikan Permukaan Air Laut Bisa Jadi Bencana, meski Target 1,5°C Tercapai

Keenam, aktivitas bekerja, bersekolah, dan beribadah terganggu banjir rob, yang terkadang terpaksa diliburkan. Ketujuh, kendaraan menjadi mudah rusak, karena air laut yang korosif menyebabkan karat, merusak mesin, dan kelistrikan.

Ketujuh, pengeluaran untuk mobilitas meningkat karena konsumsi BBM lebih banyak akibat harus memilih rute memutar dan kenaikan biaya perawatan kendaraan.

"Jadi, pengeluaran rumah tangga itu meningkat karena mereka perlu untuk mencuci motor lebih sering dan juga ke bengkel untuk servis lebih sering, karena sifat dari air laut itu korosif," ucapnya.

Bahkan, bagi perusahaan, biaya logistik bisa naik sebesar 30-40 persen lantaran waktu tempuh, BBM, dan risiko barang rusak yang meningkat akibat banjir rob.

Kedelapan, melakukan mobilitas saat banjir rob akan memperburuk risiko terpapar diare dan berbagai penyakit lainnya terkait sanitasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau