Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manfaatkan Pangan Lokal, Sup Matahari Jadi Menu Favorit Atasi Stunting di Ngawi

Kompas.com, 17 April 2026, 09:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

NGAWI, KOMPAS.com - Novi, seorang ibu hamil dengan risiko kekurangan energi kronis (KEK) yang sangat membutuhkan asupan gizi tambahan, terutama makanan berprotein hewani tinggi.

Setiap pemeriksaan rutin selama masa awal kehamilan, lingkar lengan atas Novi di bawah 23,5 cm. Kini, pada usia kandungan 8 bulan, LiLA-nya sudah di atas 23,5 cm.

"Alhamdulillah, sekarang LiLA saya 23,7 cm. Jadi, setelah makan dari menu dari pos gizi dashat/PGD), juga mendapatkan kenaikan berat badan," ucapnya pada Kamis (16/4/2026), usai mengikuti serangkaian kegiatan kelas PGD, termasuk di dalamnya ada demo masak dan pengisian buku rapor peserta.

PGD terdiri dari kelas makan dan kelas edukasi. Kelas makan berlangsung selama 12 hari berturut-turut bagi anak di bawah 2 tahun yang berat badannya tidak mengalami kenaikan (baduta 2T/underweight) dan ibu hamil berisiko KEK.

Baca juga: Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah

Untuk kelas edukasi berlangsung selama 11 minggu bagi seluruh sasaran, sembari melakukan monitoring yang dilanjutkan penimbangan berat badan sampai bulan ke-3 atau H-90.

Setidaknya, demo masak yang dilakukan dalam kegiatan PGD mengajarkan tujuh menu untuk pemberian makanan tambahan (PMT). Sup matahari dengan bahan ikan patin, wortel, kentang, daun kelor, tepung maizena, terigu, serta daging, hati, dan telur ayam ini menjadi menu favorit Novi.‎

Ia mengaku sudah pernah memasak sup matahari di rumahnya. Sebagai PMT, Novi juga sering mengonsumsi pisang, alpukat, serta olahan makanan dari bayam dan daun singkong.

Ibu dengan baduta, Risma bersyukur bisa mencicipi berbagai menu PMT selama mengikuti kegiatan PGD, khususnya makanan olahan ikan, telur, dan ayam. Setelah mengikuti PGD, Risma berat badan anak keduanya bertambah.

"Anaknya juga senang, banyak mainan dan teman. Jadi, doyan makan karena ada temannya," tutur Risma.

Ia jarang memasak ikan dan ayam di rumah, lebih sering telur sebagai protein hewani yang harganya relatif terjangkau. Ia bersyukur anaknya doyan menyantap sayuran dan buah-buahan yang terjangkau, seperti semangka, pepaya, serta alpukat.

Sup matahari dan kaki dino ayam adalah menu favorit anaknya. Menu PMT dalam demo masak yang tidak pernah dipraktikkan di rumah biasanya disebabkan proses pembuatannya membutuhkan jerih payah ekstra atau bahan-bahannya terlalu mahal. Misalnya, proses pembuatan sup matahari sebenarnya relatif mudah, tetapi bahannya banyak dan mahal. Risma menyiasatinya dengan memasak sup hanya memakai telur dan mengganti ikan patin menjadi lele.

Kegiatan pos gizi dashat di Kabupaten Ngawi pada Kamis (16/4/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Kegiatan pos gizi dashat di Kabupaten Ngawi pada Kamis (16/4/2026).

Ketahanan Pangan Desa

Relawan PGD, Partini mengaku senang menyaksikan anak-anak lahap menyantap sup matahari yang dimasaknya. Yang paling berkesan ketika ada anak rewel karena kurang bersosialisasi dan setelah rutin mengikuti kegiatan PGD menjadi tentang, pemberani, ceria, serta enggak menangis saat dtimbang berat badannya.

"Mereka (anak-anak dan ibu hamil) suka sup matahari, ada kebanggaan tersendiri. Senang juga mendapat ilmu untuk keluarga atau cucu nanti, bisa membuat menu yang sudah saya praktikkan," ujar Partini.

Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak

Ia membenarkan bahwa untuk memasak menu sup matahari membutuhkan biaya cukup mahal. Namun, biaya memasak sup matahari bisa terjangkau atau sekitar Rp 10.000 jika bahan-bahannya berunsur protein hewani lebih murah, karena ketersediaannya untuk dibeli di lingkungan setempat.

Kades di salah satu desa di Kabupaten Ngawi, Andri Wika Cahyono mengatakan, pemerintahan desa saat ini sudah memanfaatkan lahan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sumber pangan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau