Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terlalu Fokus Kurangi Emisi Berisiko Ancam Biodiversitas, Kok Bisa?

Kompas.com, 20 April 2026, 13:03 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Praktik keberlanjutan di Indonesia yang masih kerap fokus pada satu indikator berupa pengurangan emisi karbon justru mengancam biodiversitas, kesehatan, dan sosial. 

Center for Quality Resilience and Sustainability (CQRS) menilai, pendekatan ini terlalu sempit dan berisiko mengabaikan aspek penting lain di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim.

Founder CQRS Indonesia, Yuliasman Chaniago menyebutkan, fokus berlebihan pada karbon hanya menyelesaikan sebagian dari persoalan keberlanjutan.

"Karbon itu penting, tapi kesehatan manusia tidak ditentukan oleh emisi saja. Tanpa biodiversitas dan sistem lingkungan yang kuat, hanya akan menyelesaikan sebagian masalah,” kata Yuliasman dalam webinar Ngulik ke-9 Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P) dikutip Senin, (20/4/2026).

Baca juga: Sustainability Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis

Di sisi lain, Yuliasman berpandangan bahwa sektor kesehatan di Indonesia telah menjangkau lebih dari 98 persen penduduk melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hanya saja, belum disertai integrasi aspek keberlanjutan dalam sistem kesehatan.

Menurut dia, secara global konsep Universal Health Coverage (UHC) saat ini berkembang dengan memasukkan risiko iklim, pendekatan environment, social, governance (ESG) hingga konsep One Health dan planetary health yang mengaitkan kesehatan manusia, hewan, serta lingkungan.

Hal tersebut masih menghadapi kesenjangan mendasar, mulai dari belum terintegrasinya risiko iklim dalam kebijakan kesehatan dan belum adanya kerangka formal One Health dalam regulasi nasional.

“Masalahnya bukan pada capaian, tapi pada kedalaman integrasi. Kesehatan tidak bisa lagi dipisahkan dari sistem lingkungan yang menopangnya,” jelas dia.

Baca juga: Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan

Yuliasman menambahkan, tanpa integrasi sistem kesehatan berisiko hanya responsif terhadap dampak, tanpa mampu mengantisipasi akar penyebab yang kian dipengaruhi perubahan iklim.

Fenomena "Carbon Tunnel Vision"

Sementara itu, researcher associate di RCCC-UI, Rondang S E Siregar, mrnyampaikan adanya kecenderungan instansi ataupun perusahaan terlalu berfokus pada pengurangan emisi karbon.

Fenomena carbon tunnel vision itu, membuat krisis lain seperti kehilangan biodiversitas, perubahan penggunaan lahan, dan ketimpangan sosial menjadi terabaikan.

“Masalahnya bukan kita kurang bicara karbon, tapi terlalu sempit memahaminya. Karbon bisa terserap, tapi tanpa biodiversitas, sistem kehidupan tetap rapuh,” ucap Rondang.

Menurut dia, biodiversitas bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama stabilitas ekosistem termasuk dalam kapasitas penyerapan karbon.

Pendekatan berbasis karbon yang mengabaikan kompleksitas ekosistem kerap mendorong praktik monokultur seperti penanaman akasia, pinus, atau sengon yang memang cepat menutup lahan dan mengurangi erosi, tetapi tidak memulihkan keanekaragaman hayati.

Sebagai strategi yang lebih efektif, penanaman pohon cepat tumbuh bisa menjadi tahap awal rehabilitasi lahan kritis. Lalu dilanjutkan dengan penanaman spesies lokal guna memulihkan ekosistem secara menyeluruh. 

Baca juga: Emisi Jepang Turun di Bawah 1 Miliar Ton, Tapi Masih Jauh dari Target 2030

Sehingga, membuka peluang kembalinya satwa dan memperkuat fungsi ekologis hutan.

Rondang juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum dan penegakan hukum yang tegas, karena lemahnya hukum turut memperparah kerusakan lingkungan.

Dengan menempatkan keanekaragaman hayati sebagai fokus utama, ekosistem yang sehat dapat pulih dan berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang efektif sekaligus menghindari dampak negatif seperti hilangnya biodiversitas, terganggunya siklus nutrien, fragmentasi habitat, dan ketidakadilan sosial.

“Kalau karbon adalah tentang mitigasi, maka biodiversitas adalah tentang bertahan hidup. Tanpa itu, keberlanjutan kehilangan fondasinya,” papar Rondang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau