Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak

Kompas.com, 18 Mei 2026, 12:23 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan PBB, UN Habitat mencatat hampir 2,8 miliar orang di dunia masih belum memiliki hunian yang layak. Mereka menempati kawasan kumuh selama beberapa tahun terakhir.

Sementara, lebih dari 300 juta orang sama sekali tidak memiliki rumah. Suriah menjadi negara di mana masyarakatnya menghadapi krisis permukiman akibat peperangan. Walikota Homs, Suriah, Bashar Al Sebaai menyampaikan kota yang dipimpinnya membutuhkan pendanaan untuk pemulihan layanan serta infrastruktur.

“400.000 orang kembali ke kota setelah perang. Mereka kembali ke lingkungan yang rusak parah, serakan sampah, kepadatan, infrastruktur, listrik sangat sulit menemukan solusi untuk semua masalah ini," ujar Bashar dikutip dari UN News, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin

Kondisi serupa terjadi di New York, di mana banyak orang terpaksa menjadi tunawisma.

“Kami memiliki populasi tunawisma yang berjumlah ratusan ribu orang di jalanan di Amerika Serikat, dan kami dianggap sebagai negara kaya. Di New York, saat ini situasinya tampak seperti krisis,” ungkap Pendiri Konsorsium untuk Urbanisasi Berkelanjutan, Lance Jay Brown.

Ia menambahkan, populasi global telah meningkat pesat di tengah sulitnya mendapatkan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jutaan orang yang menghuni perumahan kumuh ikut terdampak banjir, gelombang panas, serta cuaca ekstrem akibat krisis iklim yang disebabkan aktivitas manusia.

Sementara itu, kepala UN Habitat, Anaclaudia Rossbach memandang situasi tersebut sebagai krisis perumahan global.

Baca juga: Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan

“Krisis ini sejak lama paling parah dan bersifat struktural di negara-negara Selatan, tetapi sekarang juga dirasakan di negara-negara Utara," jelas Rossbach.

Kenaikan biaya hidup dinilai sebagai pemicu utamanya. Krisis internasional, termasuk perang di Timur Tengah dan risiko terkait terhadap rantai pasokan global kian memperburuk situasi.

PBB menyebut, sektor konstruksi merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar. Oleh karenanya, konstruksi rendah karbon, perencanaan tata kota serta peningkatan permukiman informal yang peka terhadap iklim menjadi agenda utama.

Pertemuan Ratusan Negara

Demi memecahkan persoalan rumah tak layak, UN-Habitat bersama Azerbaijan menyelengarakan konferensi yang mempertemukan pemerintah, perencana kota, peneliti, kelompok masyarakat sipil, dan perwakilan sektor swasta untuk meneliti bagaimana pertumbuhan perkotaan memengaruhi komunitas, ekonomi, infrastruktur, hingga iklim.

Sebanyak 40.000 peserta dari 182 negara mengikuti forum di Baku, bertajuk Menyediakan Perumahan bagi Dunia: Kota dan Komunitas yang Aman dan Tangguh.

Wakil Direktur Program Pembangunan PBB dan kepala delegasi UNDP,Francine Pickup mengemukakan bahwa forum di Baku diharapkan bisa memperkuat kemitraan dalam mempromosikan solusi perkotaan terpadu yang menggabungkan perumahan, ketahanan iklim, tata kelola, dan pembiayaan lokal.

“Krisis perumahan global yang kita alami saat ini bukanlah masalah konstruksi semata. Kita perlu melampaui sekadar membangun rumah dan memperhatikan lingkungan perkotaan serta melihat masalah perumahan sebagai masalah yang kompleks," tutur Pickup.

Isu lain yang bakal dibahas di dalam forum antara lain cara kota kembali pulih pasca perang dan bencana. Pada akhir tahun 2022, lebih dari 123 juta orang telah mengungsi secara paksa di seluruh dunia, menurut PBB. Lebih dari 60 persen di antarana mencari perlindungan di daerah perkotaan.

Di Baku, fokusnya bukan hanya pada penyediaan tempat tinggal, tetapi juga pada membangun kembali kehidupan mulai dari memulihkan lingkungan dan menciptakan lapangan kerja hingga membantu komunitas menemukan jalan kembali menuju kehidupan normal.

“Ada kebutuhan mendesak tidak hanya untuk menyediakan perumahan, tetapi juga untuk membangun kembali komunitas dengan cara yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan,” beber Rossbach.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau