Selain itu, penggunaan jerami dalam jumlah moderat dinilai lebih baik dibanding membenamkan seluruh sisa tanaman ke sawah.
Peneliti juga merekomendasikan pemanfaatan biochar, yaitu hasil pembakaran biomassa dalam kondisi rendah oksigen, untuk membantu menstabilkan karbon tanah dan mengurangi emisi metana.
“Kami terkejut menemukan bahwa mengganti pupuk kimia dengan pilihan yang lebih organik tidak selalu lebih baik dari perspektif gas rumah kaca,” tulis para peneliti.
Pengurangan penggunaan pupuk nitrogen berlebih juga dinilai penting karena selain meningkatkan emisi, praktik tersebut dapat memperburuk pencemaran air tanpa meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Peneliti menyebut, kombinasi pengelolaan air, pupuk, dan residu tanaman berpotensi menekan emisi global dari persawahan sekitar 10 persen pada pertengahan abad ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya