KOMPAS.com - Wakil Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia, Sim Tze Tzin mendesak pelaku usaha tekstil dan serat mengembangkan seragam sekolah yang nyaman serta terjangkau sesuai dengan iklim panas Malaysia.
Bahan yang digunakan mayoritas seragam sekolah tetap tidak berubah selama beberapa dekade. Padahal, kenaikan suhu global akibat krisis iklim membuat seragam sekolah saat ini semakin tidak nyaman bagi siswa.
“Industri di Malaysia harus memikirkan cara memproduksi pakaian yang lebih baik dan lebih nyaman yang sesuai dengan iklim kita, sambil tetap menjaga biaya tetap terjangkau bagi keluarga,” ujar Sim setelah menghadiri konferensi Federasi Industri Serat Kimia Asia (ACFIF) ke-15 di George Town, Penang, dilansir dari The Star, Sabtu (23/5/2026).
Baca juga: Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?
Industri tekstil maupun serat perlu berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), serta memperkuat standar lingkungan agar tetap kompetitif. Industri tekstil dan serat dapat bekerja sama dengan universitas untuk mendorong inovasi dan mengembangkan material yang lebih ramah lingkungan.
Ia menggarisbawahi penting standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), terutama bagi yang ingin mengakses pasar negara maju, seperti Eropa.
Industri serat menghadapi pengawasan ketat terkait polusi yang disebabkan oleh bahan kimia dan mikrofiber yang masuk ke sungai dan laut. Industri harus berhenti mencemari sungai dan laut, dengan menemukan solusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Para siswa di Malaysia menderita karena panas terik di ruang kelas yang tidak dilengkapi dengan pendingin udara dan tidak dirancang untuk mengatasi cuaca panas dan lembab, yang diperparah krisis iklim.
Studi terbaru Dewan Bangunan Hijau Malaysia (malaysiaGBC) terhadap 10 sekolah di Kuala Lumpur mengungkapkan, tidak semua sekolah memiliki orientasi optimal untuk mendapatkan sinar matahari dengan sudut rendah di pagi dan siang hari.
Ini berarti beberapa sekolah mengalami panas lebih ketimbang yang lain. imbasnya, banyak ruang kelas menggunakan tirai untuk menghalangi sinar matahari yang masuk melalui jendela, yang menghentikan ventilasi alami dan memperburuk panas.
“Kami menemukan bahwa kipas langit-langit tidak memadai dan tidak dapat menjangkau seluruh ruang kelas. Jika menggunakan kecepatan tertinggi, akan menjadi berisik dan mengganggu proses pengajaran. Kami juga menemukan bahwa sekolah-sekolah menutup jendela di malam hari, sehingga mereka tidak mendapatkan manfaat dari ruang kelas yang berventilasi, karena udara malam yang sejuk dapat menurunkan suhu di ruang kelas secara gratis,” tutur direktur pelaksana IEN Consultants Sdn Bhd, Gregers Reimann, yang melakukan studi tersebut, dilansir dari The Edge Malaysia.
Pemasangan pendingin ruangan di ruang kelas bisa secara signifikan meningkatkan tagihan energi sekolah, bahkan jika sekolah itu dilengkapi dengan panel surya. Sekolah-sekolah di Malaysia perlu direnovasi agar lebih adaptif terhadap iklim dan nyaman bagi siswa melalui metode pasif yang terjangkau.
Baca juga: Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045
CEO malaysiaGBC, Mitch Gerber mengatakan, banyak sekolah di Malaysia dirancang dengan sistem ventilasi alami, yang secara inheren rendah karbon dan sangat cocok dengan iklim setempat.
Renovasi bangunan sekolah perlu diarahkan ke peningkatan kondisi kenyamanan, melalui pergerakan udara yang lebih baik, peneduhan, isolasi, dan kinerja bangunan secara keseluruhan, tanpa perlu merenovasi sekolah menjadi ruang ber-AC sepenuhnya.
Ini dilakukan mengingat sebagian besar sekolah pada awalnya tidak dirancang untuk pendingin udara penuh, sehingga membutuhkan intervensi yang lebih kompleks, mahal, dan boros energi..
"Dengan meningkatnya suhu dan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering, ada peluang untuk beradaptasi dan mengoptimalkan lingkungan ini melalui intervensi praktis dan berbiaya rendah," ucap Gerber.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya