Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Seragam dan Bangunan Sekolah di Malaysia Diarahkan Adaptif Krisis Iklim

Kompas.com, 23 Mei 2026, 13:21 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia, Sim Tze Tzin mendesak pelaku usaha tekstil dan serat mengembangkan seragam sekolah yang nyaman serta terjangkau sesuai dengan iklim panas Malaysia.

‎Bahan yang digunakan mayoritas seragam sekolah tetap tidak berubah selama beberapa dekade. Padahal, kenaikan suhu global akibat krisis iklim membuat seragam sekolah saat ini semakin tidak nyaman bagi siswa.

‎“Industri di Malaysia harus memikirkan cara memproduksi pakaian yang lebih baik dan lebih nyaman yang sesuai dengan iklim kita, sambil tetap menjaga biaya tetap terjangkau bagi keluarga,” ujar Sim setelah menghadiri konferensi Federasi Industri Serat Kimia Asia (ACFIF) ke-15 di George Town, Penang, dilansir dari The Star, Sabtu (23/5/2026).

Baca juga: Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?

‎Industri tekstil maupun serat perlu berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), serta memperkuat standar lingkungan agar tetap kompetitif. Industri tekstil dan serat dapat bekerja sama dengan universitas untuk mendorong inovasi dan mengembangkan material yang lebih ramah lingkungan.

‎Ia menggarisbawahi penting standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), terutama bagi yang ingin mengakses pasar negara maju, seperti Eropa.

Industri serat menghadapi pengawasan ketat terkait polusi yang disebabkan oleh bahan kimia dan mikrofiber yang masuk ke sungai dan laut. Industri harus berhenti mencemari sungai dan laut, dengan menemukan solusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

‎‎Sekolah belum ramah iklim‎

‎Para siswa di Malaysia menderita karena panas terik di ruang kelas yang tidak dilengkapi dengan pendingin udara dan tidak dirancang untuk mengatasi cuaca panas dan lembab, yang diperparah krisis iklim.

‎Studi terbaru Dewan Bangunan Hijau Malaysia (malaysiaGBC) terhadap 10 sekolah di Kuala Lumpur mengungkapkan, tidak semua sekolah memiliki orientasi optimal untuk mendapatkan sinar matahari dengan sudut rendah di pagi dan siang hari.

Ini berarti beberapa sekolah mengalami panas lebih ketimbang yang lain. imbasnya, banyak ruang kelas menggunakan tirai untuk menghalangi sinar matahari yang masuk melalui jendela, yang menghentikan ventilasi alami dan memperburuk panas.

‎“Kami menemukan bahwa kipas langit-langit tidak memadai dan tidak dapat menjangkau seluruh ruang kelas. Jika menggunakan kecepatan tertinggi, akan menjadi berisik dan mengganggu proses pengajaran. Kami juga menemukan bahwa sekolah-sekolah menutup jendela di malam hari, sehingga mereka tidak mendapatkan manfaat dari ruang kelas yang berventilasi, karena udara malam yang sejuk dapat menurunkan suhu di ruang kelas secara gratis,” tutur direktur pelaksana IEN Consultants Sdn Bhd, Gregers Reimann, yang melakukan studi tersebut, dilansir dari The Edge Malaysia.

‎Pemasangan pendingin ruangan di ruang kelas bisa secara signifikan meningkatkan tagihan energi sekolah, bahkan jika sekolah itu dilengkapi dengan panel surya. Sekolah-sekolah di Malaysia perlu direnovasi agar lebih adaptif terhadap iklim dan nyaman bagi siswa melalui metode pasif yang terjangkau.

Baca juga: Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045

‎CEO malaysiaGBC, Mitch Gerber mengatakan, banyak sekolah di Malaysia dirancang dengan sistem ventilasi alami, yang secara inheren rendah karbon dan sangat cocok dengan iklim setempat.

Renovasi bangunan sekolah perlu diarahkan ke peningkatan kondisi kenyamanan, melalui pergerakan udara yang lebih baik, peneduhan, isolasi, dan kinerja bangunan secara keseluruhan, tanpa perlu merenovasi sekolah menjadi ruang ber-AC sepenuhnya.

Ini dilakukan mengingat sebagian besar sekolah pada awalnya tidak dirancang untuk pendingin udara penuh, sehingga membutuhkan intervensi yang lebih kompleks, mahal, dan boros energi..

‎"Dengan meningkatnya suhu dan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering, ada peluang untuk beradaptasi dan mengoptimalkan lingkungan ini melalui intervensi praktis dan berbiaya rendah," ucap Gerber.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau