Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

China Pangkas Emisi Lebih Cepat dari Target

Kompas.com, 25 Mei 2026, 15:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - China berada di jalur yang tepat untuk memangkas emisi gas rumah kaca lebih cepat daripada janji publiknya, bahkan di saat ekonominya terus tumbuh, menurut laporan terbaru dari lembaga riset energi independen.

Laporan New Energy Outlook 2026 yang diterbitkan oleh BloombergNEF ini memperkirakan bahwa emisi China akan turun sebesar 17 persen pada tahun 2030 dari titik puncaknya di tahun 2023.

Capaian ini lebih cepat dari target resmi yang dijanjikan oleh negara raksasa Asia tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi (PDB) mereka tetap tumbuh sekitar 5 persen per tahun.

Melansir Independent, Rabu (20/5/2026) saat ini, China menghasilkan emisi tahunan dua kali lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia. Hal ini membuat arah perkembangan China menjadi salah satu faktor penentu yang paling berpengaruh dalam perkiraan iklim global.

Baca juga: 1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau

Komitmen iklim resmi dari Beijing, yang dituangkan dalam target nasionalnya di bawah Perjanjian Paris adalah mencapai puncak emisi karbon sebelum tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum tahun 2060.

Namun laporan terbaru memperkirakan bahwa emisi China tidak hanya sekadar mencapai puncak, melainkan akan turun drastis dalam waktu sepuluh tahun ini.

Pada tahun 2050, emisi diperkirakan akan turun 50 persen dari titik puncaknya, meskipun jumlah tersebut mungkin masih jauh di atas perkiraan jumlah emisi Amerika Serikat atau Eropa pada waktu yang sama.

China tetap menjadi negara penyumbang terbesar dalam pengurangan emisi global menurut skenario model utama dari BloombergNEF.

Alasan beralih ke energi terbarukan

Gambaran yang lebih luas menunjukkan bahwa peralihan ke energi bersih ini tidak hanya didorong oleh niat menyelamatkan iklim, tetapi juga oleh masalah keamanan negara.

Tiga krisis energi berturut-turut dalam dekade ini yaitu pandemi, perang di Ukraina, dan perang di Timur Tengah telah memaksa negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil untuk mempercepat penggunaan teknologi bersih.

Negara-negara ekonomi Asia, termasuk Vietnam, Jepang, Indonesia, dan India, menghabiskan 3 hingga 6 persen dari PDB mereka hanya untuk mengimpor bahan bakar energi pada tahun 2025. Hal ini memberikan alasan ekonomi yang kuat bagi mereka untuk segera beralih ke energi terbarukan.

Sebuah laporan pada bulan April menunjukkan bahwa energi surya dan angin terbukti telah melindungi dunia dari dampak terburuk krisis energi, yang dipicu oleh perang antara AS-Israel dengan Iran.

Energi surya diperkirakan akan menjadi sumber listrik tunggal terbesar di dunia pada tahun 2032, didorong oleh harga yang semakin murah dan kapasitas produksi yang melonjak luar biasa besar.

Sementara itu, teknologi penyimpanan baterai diperkirakan akan melesat 17 kali lipat, dari 223 gigawatt pada tahun 2025 menjadi 3,8 terawatt pada tahun 2035.

"Kita sedang hidup di masa krisis yang lain, tetapi tidak seperti dekade-dekade lalu, saat ini negara-negara punya pilihan nyata untuk bertindak," kata David Hostert, kepala ekonom di BloombergNEF, dalam laporan tersebut.

Baca juga: Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau