KOMPAS.com - Jalur logistik utama untuk batu bara di Kalimantan, seperti Sungai Mahakam dan Barito mulai mencapai titik terendah yang berbahaya.
Penurunan debit air Sungai Mahaman dan Barito tersebut akan menghambat pelayaran tongkang dan berpotensi melumpuhkan rantai pasokan batu bara.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Iwa Garniwa memperingatkan, penghentian operasi tongkang akan berdampak langsung terhadap sektor ketenagakerjaan.
Baca juga: Ilmuwan Ungkap Pemicu El Nino 2026 Menguat, Sebut Bisa Jadi yang Terburuk dalam 150 Tahun
"Penghentian operasi tongkang berdampak langsung pada pendapatan anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar muat (TKBM), dan pelaku usaha pendukung di Samarinda, Balikpapan, serta Banjarmasin," ujar Iwa kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Penyusutan debit air Sungai Mahakam dan Barito yang berisiko menganggu logistik batu bara pernah terjadi dan terdokumentasi. Pertama, debit air Sungai Mahakam menyusut signifikan.
Kapasitas muatan tongkang terpaksa dikurangi hingga 50 persen untuk menghindari kandas selama periode El Niño 2015. Imbasnya, biaya logistik untuk pengangkutan batu bara dari Kalimantan meningkat.
Kedua, kemunculan 14 titik gosong atau pulau pasir (sedimentasi) di alur Sungai Mahakam pada Agustus 2019. Ini menyebabkan aktivitas tongkang besar terhenti selama tiga hari dan antrean panjang di pelabuhan muat.
Ketiga, permukaan air Sungai Barito di wilayah Buntok pernah berada pada level terendah pada Oktober 2023, yang mengakibatkan sejumlah produsen mengajukan keadaan kahar atau force majeure karena tongkang tidak dapat bersandar.
Berkaca dari masa lalu, selain sektor ketanagakerjaan, terdapat dampak risiko terkait pengurangan penerimaan negara, memperburuk reputasi pasokan, serta melemahkan ketahanan energi nasional yang berpotensi terulang.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara berkontribusi lebih dari Rp 80 triliun per tahun. Gangguan logistik selama 1 bulan berpotensi mengurangi penerimaan negara Rp 6-8 triliun.
Baca juga: El Nino 2026 Mengancam Jawa hingga Kalimantan, tetapi Bukan Terparah dalam Sejarah
Keterlambatan pengiriman juga akan melemahkan kepercayaan pembeli internasional dan membuka peluang substitusi ke negara produsen lain. Di sisi lain, lebih dari 60 persen pasokan listrik Jawa-Bali bersumber dari PLTU batu bara. Gangguan pasokan domestik dapat menekan keandalan sistem kelistrikan.
"Ketergantungan pada moda transportasi sungai menjadikan sistem logistik batubara rentan terhadap variabilitas iklim. Diperlukan langkah mitigasi berupa pengerukan alur berkala dan percepatan diversifikasi moda transportasi," tutur Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya