Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang

Kompas.com, 30 Mei 2026, 21:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi yang dilakukan Universitas Sydney menemukan bahwa wisata selam  atau scuba diving yang selama ini gencar dipromosikan sebagai cara ramah lingkungan untuk menikmati terumbu karang, ternyata sering menyebabkan kerusakan yang sering kali tidak terlihat pada ekosistem laut yang rapuh.

Studi yang dipimpin oleh Dr. Bing Lin dari Pusat Penelitian Laut Universitas Sydney ini, mengamati tingkah laku lebih dari 700 penyelam di lokasi wisata populer di Filipina dan Indonesia, termasuk Bali.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Conservation Letters.

Kebiasaan yang tak disadari

Melansir Phys, Selasa (26/5/2026) berdasarkan data dari lebih dari 300 jam pengamatan di bawah air, para peneliti mencatat ada 4.981 kali kejadian di mana penyelam menyentuh atau menabrak karang dari total 411 penyelam.

Sekitar 41 persen dari senggolan tersebut menyebabkan kerusakan nyata pada karang, mulai dari karang yang langsung patah hingga munculnya tumpukan pasir yang bisa menutupi dan mematikan makhluk hidup di terumbu karang.

Baca juga: Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim

Rata-rata, seorang penyelam menyentuh karang sebanyak 0,26 kali per menit atau kira-kira sekali setiap empat menit dan menghabiskan hampir dua detik dari setiap menit mereka untuk menempel langsung pada karang.

“Penelitian ini membuktikan adanya dampak buruk yang tidak ramah lingkungan dari wisata selam terhadap terumbu karang,” kata Dr. Lin, yang memulai riset ini saat menempuh S3 di Universitas Princeton dan menyelesaikannya saat bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di Universitas Sydney.

Temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan bukan karena sengaja. Lebih dari 80 persen senggolan yang merusak terjadi tanpa disengaja atau bahkan tidak disadari oleh si penyelam.

Ini menunjukkan bagaimana aktivitas wisata sehari-hari bisa merusak ekosistem karang secara diam-diam dari waktu ke waktu. Selain itu, sebagian besar penyelam yang diteliti mengaku sangat peduli pada lingkungan, yang berarti mereka sebenarnya berniat baik untuk menjaga kelestarian karang.

Percaya diri berlebih penyelam

Penelitian ini juga membongkar beberapa pola psikologis yang sangat menarik. Pertama, sekitar tiga perempat (75 persen) dari penyelam menilai diri mereka "di atas rata-rata" dalam hal kemampuan menghindari senggolan dengan karang jika dibandingkan dengan teman-teman sesama penyelam.

Ini adalah contoh dari efek psikologis "illusory superiority" alias merasa diri lebih hebat, yaitu kondisi ketika orang-orang secara sistematis menilai kemampuan mereka terlalu tinggi dibanding orang lain.

Selain itu, studi ini juga mencatat adanya fenomena bernama Dunning-Kruger effect pada para penyelam, yaitu kondisi ketika orang-orang yang kemampuan menyelamnya sebenarnya masih rendah, justru sangat berlebihan dalam menilai keahlian diri mereka sendiri.

Rasa percaya diri yang berlebihan ini menyebabkan adanya jarak yang besar antara apa yang mereka pikirkan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Dalam pengamatan yang dicocokkan, para penyelam memperkirakan jumlah senggolan mereka pada karang hampir lima kali lebih sedikit daripada kenyataan aslinya.

“Banyak penyelam percaya bahwa mereka sudah berhati-hati dan tidak membawa dampak buruk, tetapi data kami menunjukkan adanya ketidakcocokan yang nyata antara apa yang mereka pikirkan dengan perilaku asli mereka,” kata Dr. Lin.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau