Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai

Kompas.com, 3 Juni 2026, 13:38 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi global baru menemukan bahwa orang-orang yang tidak memiliki akses ke air minum bersih jauh lebih rentan mengalami kelaparan dan mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau tercemar.

Hal ini menegaskan perlunya tindakan nyata yang kompak di tingkat dunia untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara bersamaan.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature Food oleh tim peneliti dari Universitas Southern California (USC) dan Lembaga Manajemen Air Internasional (IWMI) yang ahli di bidang air, pangan, dan kebijakan publik.

Melansir Phys, Selasa (2/6/2026) dalam studinya peneliti menganalisis data survei dari Lloyd's Register Foundation World Risk Poll, yang melibatkan 124.003 orang dari 121 negara dengan berbagai tingkat ekonomi.

Data tersebut mengungkap bahwa, di seluruh dunia, orang-orang yang kekurangan air minum bersih juga cenderung kesulitan mendapatkan makanan dan menjaga keamanan makanan mereka.

Baca juga: Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global

"Bahkan jika Anda tinggal di negara yang kaya raya sekalipun, jika Anda kekurangan akses ke air minum bersih, Anda akan lebih rentan kekurangan akses ke makanan," kata Wändi Bruine de Bruin, penulis utama studi tersebut.

Perlu tindakan terkoordinasi 

Temuan studi ini menunjukkan bahwa pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan para pemimpin kesehatan masyarakat harus mengatasi masalah krisis air dan krisis pangan secara bersamaan, bukan sebagai masalah yang terpisah-pisah.

"Krisis air, krisis pangan, dan keamanan makanan terlalu sering dikotak-kotakkan sebagai tantangan yang berbeda dan keliru dianggap sebagai beban yang hanya ditanggung oleh negara-negara miskin dan berkembang saja," kata Rachael McDonnell, Wakil Direktur Jenderal Lembaga Manajemen Air Internasional (IWMI).

"Untuk mengatasi krisis yang saling berkaitan ini, lembaga-lembaga di tingkat global, nasional, maupun lokal harus menghancurkan sekat-sekat aturan dan politik yang selama ini membuat tindakan kerja sama antara sektor air dan pangan menjadi terpecah-pecah," katanya yang juga salah satu penulis pendamping dalam studi ini.

Lebih lanjut, para peneliti menjabarkan beberapa alasan mengapa orang-orang yang kekurangan air minum bersih juga mengalami masalah dalam mendapatkan makanan yang aman dan cukup.

Menurut mereka masalah air dan makanan bisa disebabkan oleh kondisi sekitar, seperti fasilitas umum yang buruk, perubahan iklim, kemiskinan, tidak punya rumah, dan perang.

Itu mengapa tanpa adanya air minum yang bersih, seseorang akan sangat kesulitan atau bahkan tidak bisa sama sekali untuk memasak dan menyiapkan makanan secara bersih dan aman.

Selain itu ketika seseorang harus menghabiskan lebih banyak uang dan waktu hanya untuk mencari makanan, maka sisa uang dan waktu yang mereka miliki untuk mendapatkan air bersih menjadi semakin berkurang.

Solusi yang disarankan

Studi ini pun menyarankan untuk meningkatkan investasi pembangunan fasilitas air bersih, sistem sanitasi dan program kesehatan masyarakat berbasis komunitas, terutama di wilayah yang rawan dan kurang terlayani.

Baca juga: Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat

Para peneliti juga mengajak para pembuat kebijakan untuk memperkuat kerja sama antara sektor air, pangan, dan sektor lainnya agar bisa mengatasi masalah-masalah yang saling tumpang tindih dengan lebih baik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau