Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam

Kompas.com, 5 Juni 2026, 14:21 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Dawn

KOMPAS.com - Cuaca kering mengancam musim tanam di seluruh Asia, meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan pangan di wilayah dengan penduduk terbanyak di dunia ini.

Selain itu, fenomena cuaca El Niño parah yang diperkirakan akan terjadi bisa membawa kerusakan yang lebih besar.

Melansir Dawn, Kamis (4/6/2026) cuaca panas dan curah hujan di bawah normal mulai merusak tanaman dan memaksa petani untuk mengurangi jumlah tanaman yang mereka tanam.

Ini terjadi mulai dari dataran barat laut di India hingga wilayah bagian timur Australia yang merupakan penghasil gandum. Tak hanya itu ladang padi di Thailand hingga perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga mengalami hal serupa.

Kekeringan yang dipicu oleh El Niño ini menjadi pukulan ganda bagi para petani yang saat ini sudah kesulitan akibat kelangkaan pupuk dan bahan bakar diesel akibat perang Iran.

Baca juga: EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata

Lahan pertanian terdampak

Salah satu fenomena El Niño terkuat dalam sejarah diperkirakan secara luas akan terjadi pada paruh kedua tahun 2026. Fenomena ini akan membawa cuaca panas dan kering ke wilayah Asia serta hujan yang berlebihan ke wilayah benua Amerika, di mana perubahan iklim global membuat kondisinya menjadi semakin buruk.

"Dampak El Niño secara global dimulai dari Asia Tenggara, India, dan Australia, sebelum akhirnya memberikan dampak yang lebih luas ke wilayah hilir di Amerika Utara dan Amerika Selatan," kata Chris Hyde, seorang ahli meteorologi yang berbasis di AS dari perusahaan data dan citra satelit SkyFi.

Hyde mengatakan bahwa tanda-tanda awal kekeringan sudah mulai terlihat di beberapa wilayah Asia melalui platform citra satelit beresolusi tinggi milik perusahaannya.

Badan cuaca India kembali menurunkan perkiraan mereka untuk musim hujan empat bulanan, yang biasanya menyumbang sekitar 70 persen dari total curah hujan tahunan di sana.

"Dengan suhu di sebagian besar wilayah negara yang terus berada jauh di atas normal, kondisi saat ini sangat tidak mendukung untuk menanam tanaman musim panas tepat waktu," kata seorang pedagang yang berbasis di New Delhi dari sebuah perusahaan perdagangan global.

"Penanaman kemungkinan besar akan tertunda karena musim hujan yang datang terlambat, tetapi kekhawatiran yang lebih besar adalah adanya kemungkinan curah hujan yang di bawah normal serta masa-masa kering yang panjang setelah hujan itu datang," katanya lagi.

India sebagian besar menanam padi, kedelai, kacang-kacangan, tebu, dan jagung pada musim panas.

Untuk negara-negara Asia Tenggara, cuaca kering mulai merusak hasil panen padi dan kelapa sawit di beberapa wilayah.

Thailand dan Filipina biasanya menanam padi utama mereka pada bulan Juni-Juli, sementara Vietnam dan Indonesia saat ini sedang menanam padi untuk musim kedua mereka.

Pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di Indonesia, serta beberapa wilayah di Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi sudah tidak mengalami hujan selama lebih dari 10 hari, menurut badan meteorologi negara tersebut (BMKG), dengan curah hujan diperkirakan berada di tingkat menengah hingga rendah pada bulan Juni.

Baca juga: El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau