KOMPAS.com - Sampah makanan menjadi masalah menahun yang sangat membebani industri pembuatan, pengiriman, dan penjualan pangan di dunia, namun kehadiran teknologi sensor AI (kecerdasan buatan) generasi baru kini memberikan banyak solusi segar.
"Banyak contoh sensor berbasis AI yang sekarang dipakai di industri makanan untuk menjaga keamanan produk, mempertahankan kualitas, dan membuat produksi jadi jauh lebih efisien," jelas Profesor Vi-Khanh Truong dari Universitas Flinders.
"Studi ini menunjukkan besarnya potensi sistem sensor AI untuk menghemat pemakaian listrik, bahan bakar, dan mengurangi sampah makanan di sepanjang rantai pasokan," katanya lagi dikutip dari Phys, Rabu (3/6/2026).
Sebagai contoh, sistem pengeringan pintar dibantu AI bisa mendeteksi kondisi pengolahan terbaik secara langsung, sehingga sangat menghemat pemakaian listrik yang berlebihan saat proses mengeringkan makanan.
Begitu juga dengan sistem pembaca kedaluwarsa pintar yang bisa mencegah makanan dibuang terlalu cepat, sehingga mengurangi kerugian uang sekaligus memotong polusi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sampah makanan.
Baca juga: WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Rantai pasokan makanan dunia sangat butuh sistem pengawasan yang tidak hanya akurat, tapi juga cepat, tidak merusak bahan makanan, dan bisa dipakai dalam skala besar.
Ini karena cara-cara lama di laboratorium untuk memeriksa kualitas dan keamanan makanan seperti uji kimia gas, pembiakan kuman, dan tes rasa manual sering kali merusak makanan, memakan waktu lama, membuat antrean produksi macet, dan butuh pekerja ahli khusus.
Para peneliti sendiri menemukan berbagai macam sistem sensor pintar yang mulai digunakan di industri makanan. Sensor-sensor tersebut meliputi kamera pemindai pintar, alat pencitraan warna super detail, hidung elektronik, lidah elektronik, sensor gelombang mikro, sensor hemat baterai berbasis internet (IoT), hingga alat pemindai cahaya dan bahan kimia canggih lainnya.
Bahkan sistem hidung elektronik dibantu AI yang mampu menebak asal daerah atau negara tempat kopi ditanam dengan tingkat keakuratan mencapai 97,5 persen serta sistem komputer pintar yang bisa meramal kapan daging, ikan, buah, dan susu akan membusuk.
Sistem komunikasi tanpa kabel (nirkabel) yang dipasang bersama kumpulan sensor pintar AI juga berhasil membuat jaringan bekerja lebih cepat, menghemat pemakaian baterai atau alat, serta meningkatkan keakuratan dalam meramal kondisi makanan.
"Dengan kemampuan mengawasi secara langsung dan meramal kondisi ke depan, sistem pintar ini bisa mengatur proses pembuatan makanan dengan sangat pas, mengurangi kerugian akibat salah kirim atau salah simpan, menghemat setrum listrik untuk mesin pendingin, dan membuat jalur pengiriman barang menjadi jauh lebih efisien," kata Profesor Truong.
Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Secara keseluruhan, teknologi-teknologi ini mendukung industri makanan yang lebih ramah lingkungan dan hemat bahan baku dengan cara mengurangi jumlah sampah yang terbentuk, menurunkan pemakaian bensin dan listrik, serta menjaga kelestarian jalur pengiriman barang dari hulu ke hilir.
Lebih lanjut, Profesor Truong memprediksi bahwa ke depan akan ada lonjakan besar dalam penggunaan gabungan antara komputer pintar dan sensor di industri makanan.
Tujuannya adalah untuk membuat pemilihan jenis analisis makanan menjadi lebih tepat sasaran, serta mencapai keakuratan mutlak secara lebih cepat tanpa perlu proses belajar AI yang bertele-tele.
"Sensor makanan saat ini sudah banyak dibuat menggunakan bahan partikel super kecil karena kemampuan hantaran listriknya yang sangat bagus. Namun, kami yakin pemilihan sensor-sensor ini masih bisa ditingkatkan lagi agar mampu mendeteksi lebih banyak jenis zat. Hal ini akan membuat sistem sensor kita bisa diisi oleh beberapa model AI sekaligus untuk melacak berbagai macam racun atau kotoran berbahaya di dalam bahan makanan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya